UANG, KOPI, dan ROKOK

Lampu pijar disepanjang lorong-lorong gedung rumah sakit telah dinyalakan.       

            “Gedung perawatan, lantai satu, kamar nomor delapan.” Sambil mengingat perkataan ibuku.

Rumah sakit ini lumayan luas, sulit menemukan tempat ayahku dirawat. Hanya beberapa orang, tampak berkeliaran di ujung lorong, mungkin pasien.

            “Pak, boleh bertanya, Gedung perawatan dimana ya?

            “Ya…oh, disana.” katanya, menunjuk ke arah kiri, sebuah jalan. “Mari saya antar.” Aku mengikutinya, menyeberang ke lorong yang ia maksud.

            “Kamu punya uang dua puluh ribu?” Katanya tiba-tiba

            “Untuk pembeli kopi.” Tambahnya

            “Maaf pak, saya tidak punya.” kataku berbohong, takut kalau ia akan menggeledahku.

            Apa yang ia ingankan? Seketika itu juga aku lebih memperhatikkannya. Kaos oblong sempit yang ia kenakan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kekar, rahang wajahnya tegas, tapi roma mukanya terlihat biasa-biasa saja, bahkan terkesan bersahabat.

            “Punya uang dua puluh ribu? Pembeli kopi.” Katanya lagi dengan nada datar yang sama.

            Seseorang dari arah depan, datang menghampiri kami. Pandangannya langsung tertuju padaku. Tato di sekujujur lehernya tiba-tiba membuatku ngeri.

            “Kenapa itu?” Katanya, menatapku kosong, lalu beralih ke temannya.

            Kami berjalan melewatinya. Tapi ia berbalik mengikuti kami. Kini, ia di sebelah kananku. Aku berada di tengah-tengah, sejajar dengan mereka berdua.

            “Tidak usah ikut!” Kata pria yang mengantarku.

            “Kamu punya uang? Pembeli rokok,” kata Pria bertato itu, menghiraukan perintah temannya.

            “Maaf Pak…saya tidak punya.” Aku waswas mereka akan menggeledahku.                                 

Aku masih sejajar dengan mereka, mewanti-wanti jika salah seorang diantara mereka tiba-tiba menyerangku.

            “Punya uang?” Kata Pria kekar yang mengantarku itu lagi. Oh…sial, sepertinya ia tahu kalau aku berbohong.

            “Ada rokok?” Tanya pria yang bertato itu juga.

            Aku merogoh saku. Tanganku gemetar. Kuambil dua batang rokok di dalam kemasannya, tapi entah kenapa, aku mengurungkannya, dan malah kuberi ia sebungkus rokok. Aku baru menghabiskan satu…sial. Apa saking penganggurannya kalian sehingga rela merampok buruh miskin seperti aku ini? Bagaimana biasa ada penjahat di rumah sakit ini? Huh…Mungkin penjahat bisa berada dimana saja.      

Aku merogoh saku lagi.

            “Ini koreknya pak.” Kataku berusaha ramah.

            Ia mengambilnya.

Setelah menyalahkan rokok, aku berniat memintanya kembali, tapi lagi-lagi kuurungkan.

            “Dua puluh ribu saja.” Dan kali ini sambil menadahkan tangan kepadaku…kurogoh saku cepat. Ia menatapku kosong, tanpa ekspresi.

            Kutemukan uang dua ribu rupiah diantara tumpukan uang lainnya, tapi aku malah mengambil uang sepuluh ribu rupiah, Kuberikan padanya.

            “Maaf pak…saya hanya punya uang sepuluh ribu”

            Ia mengambilnya lalu  berkata “Itu gedung Perawatan.”

            Aku berlalu cepat, meninggalkan mereka.

Sebuah Gedung hijau besar, berlantai tiga. Kulihat sekeliling, area didalamnya sangat luas. Dua tangga di sisi kanan dan kiri saling berhadapan mengarah ke lantai satu.

            Di koridor, kulihat Ibuku, matanya sembap, sepertinya ia tidak tidur semalaman. Ia memeluku erat sebentar.

“Bagaimana perjalannmu?”

“Pesawatnya delay lumayan lama.”

            Aku menyesal baru pulang sekarang. Pekerjaan cukup banyak menyita waktuku bersama keluarga.

Aku mengikutinya, berjalan disepanjang lorong rumah sakit. Aku masih agak tegang, mengingat kejadian barusan.

“Bagaimana keadaan ayah?” Tanyaku kemudian

“Ia sudah agak baikan, tidak dipasung lagi. Dokter sudah mengizinkannya keluar, tapi masih perlu perawatan lebih lanjut.”

Aku mengangguk. ada perasaan lega, mendengar perkataan ibuku. setahun yang lalu, hampir saja aku mati saat itu, mengingat pisau yang digenggam ayah, ketika memburuku. Untungnya banyak warga yang datang menolongku saat itu, segera saja ia diikat, dan di bawah ke Rumah sakit ini.

Ah…ayah.

 Ibu dan Paman sudah mengingatkanmu untuk tidak ikut-ikutan jadi salah satu Caleg dalam pemilihan itu, tapi kau tetap ngotot. Semua dana yang kau gelontorkan ikut menyeret jiwamu. Kau kalah, dan beginilah hasilnya. Aku memang tak mengerti soal politik. Yang kutahu, seseorang setelah terpilih akan menjadi abdi Negara, mengabdikan seluruh raga dan pikirannya untuk kesejahteraan masyarakat. Tapi apa seseorang harus menjadi gila, hanya kerena tak terpilih menjadi salah satu orang yang mengemban tugas mulia itu? Iya, kupikir itu tugas yang mulia, menjadi pelayan masyarakat. Entalah, bikin repot saja.

“Bu, tadi ada dua orang yang berusaha memalakku.” 

“Ha?” balasnya, kaget “Dimana?”

“Di belakang, di ujung lorong rumah sakit.”

Ia kemudian diam sejenak. Matanya seperti menerawang sesuatu. “Oh..tidak apa. Mereka tidak berbahaya kalau sudah dilepaskan”

Kami kembali berjalan.

Kamar nomor delapan! kami masuk. Banyak pasien yang lalu lalang. Beberapa perawat mengajak pasien bermain.

Aku segera mengenali Ayah. Ibu memanggilnya.

Aku senang ia terlihat ceria. Sambil berlari, ia menghampiri kami.

Ia melihat ibu sebentar, lalu beralih kepadaku.

“Punya uang sepuluh puluh ribu? Mau beli kopi.”

Segera saja aku tersadar. Kulihat ibu, dengan tatapan kosong, mengangguk padaku.