Agama; Simbol dan Nilai

Simbol agama itu penting sebagai identitas pemeluknya, namun tidak lebih penting dari nilai ajaran agama itu sendiri. Muhammad sebagai pemimpin utama sebuah agama besar yaitu Islam terlebih dahulu menanamkan nilai-nilai luhur tentang moralitas, kemanusiaan secara personal yang berujung pada tazkiyatunnafs untuk memurnikan akal dan jiwanya sehingga dianggap siap menerima mandat profetik dari Allah untuk menyampaikan serangkaian petunjuk manusia menjalankan kehidupan melalui wahyu Tuhan.

Boleh jadi sekiranya Muhammad tidak menanamkan basic nilai sebagi karakternya sebelum menerima mandat profetik tentu ia akan sangat kesulitan mendakwahnya wahyu Tuhan. Dengan julukan Al-amiin yang melekat padanya sebagai efek keluruhan nilai yang dimilikinya saja ia masih menemui kesulitan, apalagi jika itu tidak dibangun sebelumnya.

Nilai itu semakin paripurna terlihat dan semakin meneguhkan ketokohan Muhammad saat ia menjalankan mandat profetik yang rutin diupgrade oleh Jibril alayhissalam. Dalam kurun waktu 13 tahun periodesasi Makkah, Muhammad secara kontinyu melakukan campaign soal nilai. Nilai-nilai kemanusiaan, dan moralitas individu sebagai basic nila bagi publik. Fakta inilah yang mengilhami seorang Montgomery Watt menggambarkan Muhammad sebagai pemimpin yang bukan hanya membawa perubahan dan perbaikan pada bidang sosial tetapi juga berhasil memperbaiki akhlak (nilai personal) umat yang dipimpinnya. Semua itu dilakukan base on wahyu yaitu Al-Qur’an

Al-Qur’an disampaikan Jibril alayhissalam secara berangsur-angsur salah satu hikmahnya untuk memastikan bahwa umat Muhammad benar-benar paham dan mampu menginplementasikan nilai-nilai ajaran Islam yang disampaikan Al-Qur’an dengan mengejewantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ajaran Islam yang komprehensif benar-benar sejalan dengan tarikan nafas umat, bukan sekedar dihafalkan sebagai simbolitas agama. Tradisi inilah yang diharapkan terus berlanjut di kalangan umat islam.

Memprioritas nilai ajaran agama dibandingkan simbol sebagai identitas yang kerap kali berhadap-hadapan dengan argumentasi yang berbeda di kalangan ulama, semisal soal pakaian, tradisi, hingga ritual agama. Tentu tulisan ini tidak bermaksud mengintervensi untuk memarjinalkan simbol-simbol agama, tentu ia pun perlu dijaga dan dihormati sebagai identitas.

Namun hal tersebut tidak lebih penting dari nilai ajaran agama yang wajib melekat menjadi identitas personal pemeluknya. Perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai pakaian, tradisi hingga ritual agama adalah hal lumrah sebab ia lahir dari ijtihad panjang dari masing-masing spesialisasi ilmu untuk penetuan sebuah hukum. Dan itu telah dinarasikan dalam berbagai kitab hadis, fikih dan kitab yang berkaitan lainnya. 

Obstruksi pemahaman yang kerap kali muncul disebabkan kemalasan umat dalam membaca dan mendiskusikan pada orang yang mumpuni perihal itu, kalaupun dibaca pembacaannya parsial, dan kalaupun didiskusikan hanya pada tataran awam sehingga menambah keambiguan hukum sebab referensinya kerap kali hanya mengedepankan rasio dan konteks situasi sekarang bukan berdasarkan referensi syara’. 

Umat pun harus memahami bahwa agama ini tidak sesempit antara segitiga pakaian, tradisi, dan ritual agama tetapi lebih dari itu nilai-nilai ajaran agama yang lain seperti anjuran melakukan progerifitas (Qs.94:7), menganalisa gejala alam (Qs.2:164) dan gejala sosial (Qs.107:3), perihal sains (Qs.24:12-14) dll. Ini hanyalah seujung kuku dari banyaknya nilai-nilai agama yang terkandung dalam Al-Qur’an yang harus diimplementasikan sebagai identitas (simbol) personal umat, bukan hanya menjadikan fisik Al-Qur’an sebagai simbol. Itulah mengapa para penghafal Al-Qur’an dianjurkan untuk tidak menyebutkan nominal hafalannya tetapi biarlah orang lain melihat Al-Qur’an dari sifat dan sikapnya sebagai nilai agama bukan simbol agama. 

Sayyid Qutub dalam bukunya Maallim Fi Thariq menyebutkan bahwa islam tidak akan mampu menunaikan tugasnya kecuali ia menjelma dalam masyarakat menjadi panduan hidup. Islam tidak akan mampu mengantar pemeluknya menjadi khaira ummah ( best generation ) ketika ia hanya menjadi simbol, namun jika Islam terjewantahkan menjadi nilai personal umat maka Islam akan mampu mengulang kembali masa keemasaanya. 

Kemajuan teknologi hari ini seharusnya diikuti oleh kemajuan berpikir kritis sehingga dapat menginkubasi embrio-embrio kemajuan lainnya. Menjadikan simbol agama dan nilai yang terkandung di dalamnya sebagai media untuk meningkatkan gairah berpikir kritis dan melahirkan kemajuan. Hal itu dilakukan oleh Fazlurrahman sebagaimana kesaksian muridnya Fredrick ” His mind and his position is changed, but his cordinate always the Qoran”. Hal ini pula yang akan meluaskan radius jangkauan kebermanfaatan islam sebagaianrahmatan lil alamin sebab tidak lagi berkutat pada simbol yang hanya mampu dimiliki dan dirasakan oleh pemeluknya namun telah menjadi nilai personal yang menjadi basic nilai masyarakat sehingga bisa dirasakan semua golongan.