Jeritan Nelayan

Sungguh malang nasibmu. 

Engkau manusia bertingkah mengharap ridho. 

Jeritanmu begitu menggelegar. 

Terdengar… 

Terdengar oleh seluruh makhluk hingga naga terbangun. 

Tapi, sia-sia di telinga pemangku kebijakan. 


Dahulu begitu semangat melempar senyum. 

Senyum tawa sang istri terbayang turun melaut. 

Semangat pulang membawa nafkah. 

Disambut girang oleh sang anak. 

Tapi, itu dulu. 


Payah, harapan engkau pupus. 

Pemangku kebijakan menutup mata. 

Pemangku kebijakan menutup telinga. 

Berdengkul, berseliweran di balik selimutnya. 


Engkau bukan lagi nelayan tangguh. 

Engkau menjerit menangis darah. 

Engkau hanya bermodal pasrah. 

Merangkul sang anak dengan hati lapang menahan lapar.