Episode Bernama Hipokrisi

Sejatinya negara kita tidak hanya dilimpahi potensi alam yang maha kaya, di tubuh Indonesia hampir melekat seluruh pernak-pernik kemegahan peradaban yang memancarkan kewibawaan sebuah bangsa dengan keluhuran budi yang maha tinggi, jubah surga bernama Indonesia itu pernah diperebutkan oleh banyak bangsa sampai banyak tubuh dengan postur berbeda berganti-ganti mengenakannya sehingga di beberapa bagian ditemukan ada sobekan ditambah kerahnya yang lusuh akibat dijamah ulah banyak tangan manusia, kini jubah itu telah dikembalikan dan dikenakan oleh tubuh asalnya dengan kesempurnaan setiap sisinya yang mulai mengerut dengan lekuk lipatan tak beraturan membuat kita tidak lagi pede menggunakannya dalam banyak perhelatan dunia. 

Meskipun beberapa bagian dari kemegahan jubah Indonesia telah luruh namun tak sedikitpun membuat air muka banyak bangsa mengeruh dan jenuh, negara ini tetap dipandang dan diperbincangan dengan gemuruh, maka tak berlebihan jika Indonesia kita anggap masih hidup dengan nama besarnya di panggung sejarah. Seharusnya jika kita tetap ingin nama besar Indonesia ada dalam episode panjang sejarah maka kita harus mulai menjahit banyak sobekan luka traumatik sejarah serta mengelola kembali berbagai kemegahan yang sudah lama meredup dalam pentas sejarah. 

AGAMA DAN PANCASILA

Sebuah kesyukuran bahwa kita hidup dalam budaya agama yang beragam dengan sikap beragama yang inklusif dan terbuka, pengamalan agama bahkan dicegah untuk diprivatisasi dan dibatasi ruang dan waktunya sehingga agama tidak menjelma entitas yang berfungsi terbatas, agama sudah seharusnya menjadi jiwa dan landasan dari seluruh tata kehidupan, sebabnya Tuhan harus selalu dilibatkan dalam seluruh urusan manusia, yang demikian merupakan hal paling prinsipil dalam sistem keyakinan monoteisme, bahwa keesaan Tuhan mempunyai implikasi doktrinal terhadap kesatuan manusia sehingga percaya pada Tuhan berarti bersedia menjadi bagian dari usaha membangun tata kehidupan yang setara dan berkeadilan. Doktrin moral itu ada dalam kantong-kantong seluruh agama yang berkembang di Indonesia, oleh pada itu, seharusnya manusia-manusia Indonesia mampu kedap dari godaan dan cobaan etis dan berdiri memimpin dunia ke arah peradaban moral. 

Di samping agama, kita memilih pancasila sebagai acuan bersama yang melingkupi seluruh dimensi kehidupan termasuk dalam soal moral, ketuhanan sebagai jiwa yang harus terus menyala dalam mengawal visi kemanusiaan, persatuan, demokrasi permusyawaratan serta keadilan sehingga kemanusiaan tidak menjadi kebinatangan, persatuan tidak berubah perpecahan, demokrasi tidak berganti autokrasi ketidaktaroran, serta keadilan tidak menjelma kezaliman.


Untuk saat ini saya masih percaya bahwa negara sekuler yang anti Tuhan pada akhirnya akan anti manusia dan akan diseret oleh kemanusiaan ke tiang gantungan peradaban. Seperti juga Toynbee yang meyakini keruntuhan peradaban komunisme disebabkan akar spiritualismenya yang rapuh, atau juga seperti Samuel Huntington yang percaya bahwa hanya peradabaan dengan akar spiritual kuatlah yang oleh sejarah akan diseleksi untuk bertahan lama.

Yang patut juga disyukuri bahwa seluruh agama mengamini demokrasi sebagai sistem politik di negeri ini, termasuk Islam yang dalam perjalanan sejarah perpolitikannya digenangi oleh sistem dinastik otoriter dengan raja yang tak boleh dikritik dan disakiti serta dianggap suci tanpa dosa, tentu kita sepakati bahwa Islam tidak pernah mengajarkan hal demikian sebaliknya Islam mengajarkan musyawarah dengan kesetaraan sebagai pilar utamanya, hal yang serupa juga dianut dalam sistem politik Indonesia. 

HIPOKRISI DI PANGGUNG SEJARAH

Berbagai penataran Pancasila dari masa ke masa dengan limpahan makalah dan buku paket hasil kajian didistribusikan ke meja-meja kantor para pejabat dan mereka yang punya nama dalam list kekuasaan, mulai dari Podoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di masa Soeharto yang berisi 45 butir poin (hasil kajian BP7) sebagai penjabaran rinci dari lima sila yang masih bersifat umum sampai terbentuk lembaga Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sebagai lembaga revitalisasi dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Tidak ada yang salah dengan kajian dan berbagai penataran tersebut, yang kita salahkan adalah beragam bencana politik, sosial dan ekonomi masih bergentayangan di langit-langit rumah Indonesia. 

Akhir-akhir ini banyak yang mulai menggandeng Pancasila dalam kubangan dosa mereka, lencana burung garuda dibawa-bawa dalam pelelangan gelap para elit lalu nilai-nilai luhurnya ditikam dengan belati murahan para begal. Tidak hanya itu, jubah Indonesia yang masih bernilai tinggi ini mulai ditawarkan kemana-mana pada mereka yang bersedia membayar mahal, entah nanti akan digadai atau dijual sedikit demi sedikit, yang pasti bahwa hutan kita yang terlanjur diprivatisasil mulai dibakar untuk kepentingan rezim korporatokrasi dan dengan keterampilan serta gaya politik panggung kekuasaan (stagecraft) yang selalu berkunjung ke lokasi pembakaran membuat kita terhipnotis dan tak berdaya membaca penampilan apik politik penguasa.   

Apa yang salah dari penataran Pancasila dan khutbah keimanan para khatib itu sehingga kebejatan moral terus berkembang biak tanpa henti menggiring kita ke jurang kebinasaan. Betul bahwa Pancasila hanya menjadi SKS dalam ruang terbatas, belum menjadi nafas kebudayaan yang mengisi ruang publik. Muhammad Hatta mengajarkan kita jauh sebelum Pancasila dikhutbahkan oleh Bung Karno di sidang BPUPK 75 tahun silam, bahwa agama yang dianut oleh seluruh manusia Indonesia harus mempunyai implikasi pada terwujudnya integritas moral dan berbagai komitmen kemanusiaan. 

Pada akhirnya kita butuh bimbingan Iman dan Ilmu untuk keluar dari lumpur kegalauan ini, kekuatan fikir dan zikir harus berjalan beriringan jika kita tidak ingin kembali terhempas dari teater sejarah yang maha kompetitif. Di samping itu kita pun butuh untuk lebih menghayati keberadaan kita sebagai manusia (the finite ) yang dititipkan potensi ruh oleh Tuhan (The Infinite), tentu bukan hanya untuk sekadar menikmati kehidupan dalam siklus makan, minum dan bercintai. Lebih dari itu semua kita dititipkan kehidupan untuk menegakkan pradaban moral ketuhanan yang berkebudayaan dan memiliki wawasan kemanusiaan.  

Kita berharap akan muncul pribadi-pribadi tangguh di panggung nasional yang bersedia menjahit rentetan luka di tubuh Indonesia, serta mengusir para serangga bedebah yang menggerogoti jubah Indonesia, pribadi beriman dengan budaya Ilmu yang mapan, siapapun dia, apapun agama dan suku bangsanya.

mari berfastabiqul khairat bersamanya.