Patung Hujan

Aku patung di tengah jalanan berhujan
Melihatmu mondar mandir di persimpangan
Aku berwarna darah, kau berbaju malam
Melesat kegirangan,
menarik pandangan
Kau berhenti berlari, aku jelas heran
Dari fatamorgana kau nampak berjalan
Mendekat sesuai simfoni irama hujan.
Kepadaku.

Aku patung di tengah jalanan berhujan
Karena kau mendekat aku terbakar karena matamu, nafas tertahan di kerongkongan, kupu kupu dalam perutku, aku lupa minum obat,
segelas puisi hangat beraroma hujan.

Kau mau? Ujarku
Belum sempat menjawab…
Kau sudah dilarikan kuda beroda empat.