Dan Sastra Menyadari Itu

Jujur saja, saya belum begitu banyak membaca karya sastra, terutama jika dibandingkan dengan kawan-kawan yang memang rutin membaca karya sastra. Tapi bagi saya tetaplah sangat penting untuk membaca karya-karya sastra ataupun ber-sastra, walaupun tak mesti menjadi atau didaulat sebagai sastrawan.

Ada penjelasan menarik dari Paul Ricoeur dalam Temps Recit, bahwa teks sastra melampaui teks despkriptif. Jika teks yang sifatnya didaktik, konstantif, deskriptif-akademik, merujuk pada dunia yang terberi dan mengambil bahan mentahnya dari kenyataan yang terlebih dahulu dikamar-kamarkan dalam kategori-kategori kaku nan abstrak (tapi tetap terbuka terhadap koreksi). Teks sastra, menangguhkan dunia kaku-terberi tersebut dan memilih untuk merujuk pada dunia hipotetik.

Walaupun, karya-karya sastra merujukkan diri pada dunia hipotetik, tetapi itu tak berarti sastra ataupun karya sastra menampik, mencoba lari atau tak peduli sama sekali dengan dunia selain dunia hipotetik. Saya secara pribadi berpendapat, bahwa tak ada satu pun bentuk pengetahuan yang tak memiliki basis materialnya, apakah itu sastra bahkan agama sekalipun. Se-fiksi apapun sebuah karya sastra, bahan bakunya tetap berasal dari pengalaman hidup sehari-hari sang pengarang, walaupun tugas utamanya bukan sekadar menceritakan pengalaman sehari-hari.

Itu karena teks sastra merujuk pada proposition du monde, yang jika diterjemahkan secara bebas menjadi “tawaran tentang dunia”, kata Riceour. Sastra tak sekadar mengamati dunia, lalu mencatat dengan deskriptif nan detail, namun sastra mencoba “menerawang” sebuah alternatif bahkan mencoba mencari sebanyak mungkin kemungkinan-kemungkinan lain, selain dari dunia yang berjalan saat ini. Bahkan mungkin (ini murni dari pikiran saya), teks sastra mencoba menduga-duga dan menarasikannya, bagaimana jika “jalannya dunia” (politik, ekonomi, kebudayaan) saat ini kita intrupsi, lalu dunia kita lakoni dengan plot serta alur yang berbeda.

Inilah barangkali yang membuat sastra selalu menjadi penting, kemampuannya dalam menerabas secara imajinatif segala hal yang “apa adanya” atau segala hal yang dianggap “sekali jadi” dan “sudah demikianlah adanya”. Salah satu yang menjadi zat hara, bagi tumbuh suburnya “sikap totalisme”, “pro-statusquo” dan “keber-agamaan yang keras kepala” adalah kengototan bahwa rumusan kebenaran yang saya pegang dan yakini adalah sesuatu yang sifatnya “sekali jadi”, dan “demikianlah adanya sejak masa lampau yang jauh hingga ke masa depan yang jauh”. Sastra memungkinkan kita menjadi “lentur”, yang menghindarkan kita menjadi orang-orang dengan “pikiran yang diawetkan”, maksudnya pikiran yang menutup diri dari segala bentuk kemungkinan-kemungkinan.

Sering ada yang menganggap, bahwa pikiran yang terbuka adalah salah satu bentuk ke-plim-plan-an, alias tidak punya pendirian. Kebersediaan dalam berinterkasi dengan yang berbeda adalah salah satu bentuk ketiadaan komitmen iman. Tapi pikiran yang terbuka, adalah sebuah bentuk kejujuran terhadap diri dan kenyataan, bahwa dunia tak hanya seluas tempurung kepala kita, dunia senantiasa adalah “dunia yang lebih” ketimbang “dunia yang ada dalam pikiran”, dan dunia tidak hanya dipikirkan oleh “pikiran saya” tetapi juga dipikirkan oleh “pikiran si Baco”, “pikiran si Becce”, “pikiran si Toni”, bahkan lebih lucu lagi jika kita menganggap dunia yang “saya pikirkan” pasti sama, dan mesti sama dengan yang “mereka pikirkan”.

Tapi ini juga bergantung dari cara kita menyikapi teks sastra dan bagaimana kita menyajikan teks sastra dalam dunia pendidikan. Dalam sebuah buku lawas yang berjudul Solilokui (1984), Budi Darma menuliskan dalam salah satu esainya yang dijuduli Sastra: Sebuah Catatan, bahwa kebanyakan penjelasan mengenai sastra kurang tepat, karena penjelasan tersebut lebih banyak menitik beratkan eksterioritas teks sastra ketimbang sisi interiornya. “kebanyakan orang mengatakan bahwa yang penting di dalam tulisan sastra adalah keindahannya, maka sebetulnya keindahan itu pun bukanlah disebabkan oleh keindahan bahasanya seperti yang banyak dikatakan orang, melainkan karena keberhasilan tulisan sastra tersebut mendekati kebenaran”. Dan saya rasa yang dikatakan oleh Budi Darma, masih relevan dengan situasi kita saat ini.

Bahkan Subagio Sastrowardoyo berpendapat, bahwa puisi adalah filsafat, sedangkan roman, cerpen dan drama adalah ilmu jiwa. Ini sejalan dengan pandangan A. Stone dan Sue Smart Stone dalam The Abnormal Personality Trough Literature, bahwa kebanyakan orang tak memperlakukan pengarang karya sastra sebagai kolega yang mengungkapkan pengalaman hidup, tetapi hanya dijadikan sebagai objek yang dipelajari.

Lalu apa yang dimaksud dengan “tulisan sastra” yang “mendekati kebenaran” oleh Budi Darma? Kebenaran yang dimaksud kemungkinan bukanlah “kebenaran koherensial” ataupun “kebenaran korespondensial”, seperti yang diajarkan oleh akademisi-akademisi filsafat. Karena teks sastra tak hendak membicarakan dunia secara percis dunia di luar sang pengarang, atau menjelaskan dunia secara koheren dengan menjadikan proposisi-proposisi tak terbantahkan sebagai pijakan awal. Kebenaran yang coba didekati oleh sastra adalah “kebenaran yang aneh” atau lebih tepatnya “mendekati kebenaran dengan cara yang aneh”. Contoh, penggalan paragraf dan dikutip oleh Budi Darma dalam novel The Brothers Kamarazow, “ada saatnya orang menyukai kejahatan. Ya memang manusia suka kejahatan, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu, tapi selamanya. Mereka berkata bahwa mereka membenci kebusukan, akan tetapi dalam hati mereka mencintainya”. Sastra memang seringkali melihat dunia dan manusia ini dengan cara yang aneh, atau memang justru dunia dan manusia yang pada dasarnya aneh? dan sastra menyadari itu.

“Dunia kemungkinan” di mana sastra berupaya “mendekati kebenaran”, Ricouer menyebutnya dengan realitas tingkat dua. Dunia yang dikonfigurasikan oleh teks sastra, sebagai dunia di mana saya hendak bermukim. Tapi realitas tingkat dua bukanlah sesuatu yang sifatnya monoton, dia lahir dari proses pemakanaan tiada henti. Bisa saja realitas tingkat dua yang dimaksudkan oleh pengarang, berbeda dengan yang dimaksudkan oleh pembaca. Dan makna teks tidak didapatkan dari proses regresi, yang terobsesi untuk memahami secara percis apa yang dimaksudkan pengarang, melainkan didapatkan dari usaha mencerna teks bagi diri sendiri.

Dan akhirnya saya bukanlah seorang sastrawan, anggaplah esai ini sebagai upaya untuk mengendors, agar kita sebagai bangsa, menempatkan sastra bukan hanya sebagai asesoris, atau sekadar aktivitas yang ujungnya hanya untuk diperlombakan. Kita sangat butuh sains dan teknik, sangat butuh ilmu-ilmu sosial-politik dan filsafat, tapi kehidupan ini bukanlah adegan sekali jadi yang dipentaskan berulang-ulang dengan persis sama, sehingga kita menemukan pola-pola pasti yang berulang di dalamnya. Kehidupan juga adalah kejutan-kejutan, harapan-harapan, kecemasan, nostalgia bahkan serentetan rasa muak, dan sekali lagi sastra menyadarinya.