Tubuh Pinjaman

Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya, aku diwajibkan untuk melawan arah angin yang selalu mencoba menyeret ku ke tempat yang akan mempertemukan ku dengan kehidupan. Aku tidak pernah mencari kehidupan tetapi kehidupan yang memaksaku untuk terlibat bersamanya.

Kerjaan ku sebenarnya selalu mengintai di balik tingkap yang mengawasi setiap perjalanan kehidupan yang dijalani oleh orang-orang seperti ku dengan tubuh pinjamannya. Keberadaan ku sebenarnya adalah sebuah ketiadaan yang dipaksa untuk ada. Sebuah kemirisan bila saja aku menjumpai orang-orang seperti ku yang menyia-nyiakan kehidupannya, contohnya membuang tubuhnya di tong sampah, menjatuhkan tubuhnya di jalan ketika sedang berkendara, merelakan tubuhnya dirampas oleh selayang penyakit bahkan yang paling parah ketika ia melupakan tubuhnya tergeletak lemas di atas ranjang tanpa melakukan apapun.

Pagi ke pagi iba ku selalu membujuk ku untuk memungut tubuh-tubuh yang terbuang itu. Aku menemukan tubuh yang sudah terbunuh oleh kehidupannya, entah siapa pemilik dari tubuh itu. Tubuh itu kutemukan di jalanan yang menjadi bahan tontonan setiap orang yang lalu lalang, mungkin saja tubuh itu merupakan korban kecelakaan lalu lintas.

Awalnya ia curiga dan saya juga kurang tertarik karena ukuran dan modelnya kurang pas untuk saya. Karena kasihan, tubuh itupun ku ambil, ku rawat dengan penuh cinta dan lama-kelamaan menjadikan ku akrab dengannya. Untuk kesekian kalinya aku terseret kembali ke dalam kehidupan, dan tubuh itu merasakan kembali kehidupan untuk kedua kalinya. Sampai sekarang belum ada yang mencari-cari dan memintanya kecuali seseorang yang sesekali datang untuk menanyakan status, ideologi, agama, dan kekayaannya.

Ketika tubuh ini telah berpuluh-puluh tahun senang hidup bersama ku, ada saja sesuatu yang merenggut tubuh ini dari ku. Tiba saatnya tubuh yang ku pakai ini harus ku kurelakan pergi bersama waktu yang sudah menua bersamanya. Kesedihan tak patut berpihak pada ku karena memang saatnya ia harus mencari majikannya yang baru yaitu orang-orang seperti ku yang lebih membutuhkannya.

Di lain kesempatan, di tempat dan situasi yang lain. Suara tangisan mungil yang mendayu-dayu sambil lemas mengundang ku untuk harus menemukannya. Ku cari suara itu di antara rumah ke rumah, bilik ke bilik, ranjang ke ranjang. Tidak ada satu rumah pun yang tidak ku lewatkan tanpa kekecewaan. Suara tangisan itu membuatku jatuh cinta akannya di samping iba ku yang kian memaksa tanpa bersabar. Layaknya bom waktu, aku harus menemukannya lima menit lagi untuk menjinakkan tangisan indah yang mendayu itu. Bila aku terlambat, entah apa yang diperbuat tangisan itu pada ku. Bisa jadi membunuh seisi kota ini bersama dengan ku.

Badebah..

Ayolah, aku harus menemukannya, di sudut ruangan hingga sudut kota pun tak ku temukan tangisan misterius itu. Tapi siapa yang mengira bila di tempat bersih dan nyaman tidak ditemukan asal suara itu, mengapa tidak untuk menjamah satu persatu tempat kotor seperti tempat sampah hingga halte bus di emperan jalan. Dan betapa betul dugaan ku, suara tangisan mungil yang mendayu-dayu indah itu berasal dari kerumunan orang di depan halte emperan jalan itu.

Sungguh lagi-lagi kerumunan orang selalu menjadi penanda ku akan sebuah ironi tragedi. Ku susupi kerumunan itu untuk mengetahui apalagi sedang dipertontonkan bersama dengan suara tangisan itu perlahan lenyap. Dan ternyata betul-betul badebah, aku terlambat meraih tangisan itu yang kemudian tangisan indah itu menjelma menjadi tubuh kecil dan lucu yang sudah tak berpenghuni. Entah siapa pemilik dari tubuh lucu ini, siapakah gerangan yang membuat dan melahirkannya lalu membuangnya dan tega membiarkannya ketakutan di tengah kerumunan orang yang mengelilinginya. Izinkan aku meminjam tubuh mungil ini untuk kurawat dengan cinta bersama ku, betapa ia belum pernah merasakan kehidupan maka biarkan aku membawa nya dan mengajarinya kehidupan bersama ku.

Setelah berpuluh tahun bersamanya, ku besarkan dengan kemiskinan berlimpah-limpah yang ku punya. Tubuh ini menjadi manja bersama ku. Tubuh mungil ini kian tumbuh menjadi dewasa dan berani menentukan sendiri jalannya hidupnya. Dan sampai sekarang ini masih belum ada yang mengaku sebagai ibu dan bapaknya kecuali seorang yang sesekali datang menanyakan keturunan dan silsilah keluarganya. Sesaat kemudian, tubuh itu pun pergi meninggalkan ku, mungkin ia sudah bosan bersua bersama ku sepanjang tahun. Terakhir kali aku mendapatinya bersama dengan ku ketika ia memasuki sebuah tempat dan tak keluar-keluar lagi, pikir ku dia meninggalkan ku bersama dengan beban yang ia bawa.