Rahasia Orang Dewasa

Dan disinilah aku, menjadi seperti anak yang lain. Ketika berangkat, memulai suatu perjalanan jauh ke kota, aku selalu menyorong kepala ke luar kaca jendela mobil, memejamkan mata, membiarkan lembut angin menyentuh wajahku. Saat itu, aku membayangkan diri menjadi tokoh-tokoh dalam film favorit; Spiderman, Harry Potter, atau apa saja. Terkadang, Di kaca jendela mobil sambil kepalaku tetap di luar, kubayangkan diriku sebagai Aslan dalam film Narnia, raja singa yang mengaung membiarkan pohon-pohon mengabarkan berita dan menyusun rencana. Ketika saat-saat magis itu terjadi, ibuku atau ayahku— siapapun yang berada di dekatku— tiba-tiba menepis tangan, dan menarik kepalaku masuk ke dalam mobil.  

Kenapa aku tidak boleh mengeluarkan kepala? Setiap kali kusodorkan pertanyaan itu, mereka selalu menjawab dengan beberapa bentakan dan jawaban yang lain. Terkadang, mereka menjawab; nanti ada mobil yang menyerempetmu, nanti kau terjatuh, atau nanti ada seseorang yang akan menculikmu. Ketika ayah lelah menghimbau, karena aku selalu abai pada rambu-rambu bencana, satu-satunya langkah terakhir melarangku adalah dengan memberi perintah larangan; berperilaku sopanlah! Jangan menjadi anak yang tidak baik seperti di film-film! Sejak saat itu, aku berhenti menyorongkan wajahku ke luar kaca jendela mobil, dan tidak lagi membayangkan diri sebagai Harry Potter, Spiderman, bahkan Aslan dengan auman ajaibnya. Mereka semua dahulu, pasti anak yang tidak baik!

Mungkin aku satu-satunya anak pesisir yang tidak pandai berenang. Ibu selalu memarahiku ketika ingin ke dermaga di ujung kampung. “Laut itu buas, katanya, ada hiu! Ia selalu mengawasimu dan bisa menerkammu kapan saja”. Ketika umurku beranjak dan tinggiku cukup memadai, aku ingin mewujudkan impian ibu kepadaku. Ia ingin aku menjadi polisi. Tetapi sayang sekali, waktu merentang dan aku berjalan menuju kegagalan demi kegagalan. Jawabannya hanya satu, aku tidak pandai berenang. Ibu memarahiku, dan aku memarahi diriku sendiri. Mengapa aku tidak pandai berenang? Apakah di kehidupan yang lalu, aku sejenis macan tutul yang mati tenggelam? Entahlah! Yang kutahu, Ketika aku bertemu tumpukan air, aku selalu mengingat kata-kata ibu dahulu  “laut itu buas, ada hiu! Ia selalu mengawasimu dan bisa menerkammu kapan saja”   

***

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu 

Anak-anakmu adalah anak-anak kehidupan 

Kau bisa memberi rumah bagi raganya, 

Tetapi kau tidak bisa memberi rumah bagi jiwanya. 

Suatu hari ketika umurku berloncatan dari tahun ke tahun, aku mulai mengetahui rahasia orang dewasa, tepat ketika aku membaca puisi Khalil Gibran. Aku mulai menduga, apakah kau dan anak-anak lain juga mengalami perasaan semacam ini? Pada tengah malam, ketika sebuah bisikan memasuki mimpi di kepala kecilku. Dengan suaranya yang lembut berkata; bahwa orang tuaku, dan orang dewasa lain, tidak sama cerdas dengan Tuhan. Tidak selalu adil, tidak selalu bijaksana, dan terkadang, pilihan-pilihan mereka terhadap hidupku tidak selalu benar. 

Kepalaku menjadi pusing. Aku menjadi curiga setiap saat dengan orang dewasa. Suatu waktu aku tertawa cekikian dengan sahabatku ketika seorang Ustadz sedang naik ke mimbar, membaca hikmah maulid, dan ayahku tiba-tiba memarahiku. Apakah tertawa adalah perbuatan buruk? Tanyaku ketus.  Ia memandangku mengiba lalu berkata, Kau tidak benar-benar tahu apa yang kau inginkan. Jika kau melangkah lebih jauh tanpa ayah, mungkin kau akan tumbuh menjadi orang yang tidak baik, atau kau akan membiarkan orang lain menjajahmu. Jauh di dasar hati, ayah dan ibu menyayangimu. Jika tidak, untuk apa kami harus bersusah payah menyakitimu? 

 Hanya untuk kali ini saja, kepalaku ingin menyorong diri keluar kaca cermin mobil. Membiarkannya terserempet, jatuh berdebum, atau hal apapun yang bisa membuat pusing di kepalaku beranjak pergi. Dari kedua sorot mataku, aku melihat ayahku sebagai pemuka agama sekaligus polisi, yang selalu mengawasiku sejak lahir. Dua profesi yang mungkin bisa dihindari atau dikecoh tanpa bisa ditentang. Aku memandang orang tuaku sebagai kekuatan mutlak, yang dengan tiba-tiba hadir dan membuatku yang kecil merasa semakin kecil, yang membuat anak bodoh sepertiku, semakin menyadari kebodohannya.

 Satu-satunya hakim untuk orang tua adalah anaknya sendiri. Selain Tuhan, aku yang paling berhak memutuskan apakah ayahku menjadi ayah yang gagal atau tidak.  Aku yang paling berhak memandatkan bahwa ibuku penuh kasih sayang atau tidak. Aku, atau mungkin anak-anak lain di negeri ini, mengisi hampir setiap sudut jiwanya dengan sifat kepatuhan. Tetapi, apakah hal itu adalah sejenis kepalsuan? Aku juga tak tahu. Yang kutahu, sesuatu dalam diriku menghindari kekerasan, argumen, ketegangan-ketegangan yang bisa memporak-porandakan keluarga. Di dalam rumah, aku turut mendukung ketenangan dengan tidak menyumbang kekerasan dan menghindari perselisihan. 

 Aku  menutup diri dari banyak rahasia. Karena di dalam diri setiap orang pasti ada kekerasan, sedikit atau banyak. Aku menutupi hidupku dengan selubung kekaburan, sementara di balik mataku yang pendiam, ada kehidupan ramai  dan  utuh  yang  terus berjalan.  Ini tidak melindungiku dari serangan, tapi memberi aku kekebalan. Toh aku bisa lari dari rumah, mencari lingkungan yang tidak memandangku tetap menjadi anak kecil dan bodoh. Melampiaskan sedikit banyak kekerasan, kebebasan, dan dosa asali di dalam diriku pada tempat yang lain. Satu-satunya harapanku adalah agar kau dan anak-anak lain di negeri ini tidak mengalami hal semacam itu, tapi mungkin aku salah, aku tahu, kau juga mengalaminya. Lalu, kini aku merasa harapanku hanyalah sebentuk keputusasaan dalam wujudnya yang lain. 

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]