SEBUAH RUMAH DI UJUNG DESA

 Kesaksian oleh seorang petani di hadapan penyidik

Benar! Saya yang pertama kali menemukan mayatnya tuan! Ketika itu kami sedang menanam padi di sawah dan matahari bersinar begitu terik hingga membuat kami kehabisan bekal air minum dengan cepat. Jadi seperti biasa, bapak saya menyuruh saya pergi ke rumah wanita itu yang kebetulan adalah rumah paling dekat dengan sawah kami, untuk meminta air. Saya menaiki tangga rumah panggung itu perlahan, mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Tak ada suara, kecuali suara jangkrik di kejauhan , juga suara parau  burung gagak yang terbang rendah di atas rumah.

Pintu tidak terkunci. Saya membuka pintu perlahan, dan mengintip kedalam dengan perasaan ganjil. Hanya butir butir debu yang terlihat melayang di udara yang terkena sorot cahaya matahari, disertai bau menyengat seperti bau bangkai. Dengan perasaan takut, saya berjalan masuk dengan agak cemas.

Saya mendapati wanita itu mati telentang di atas kasur, memerah karena bercak darah. ada bekas luka tusukan menganga di perutnya. Mungkin dia sudah mati sejak satu atau dua hari yang lalu karena darahnya sudah mengering dan banyak lalat besar yang mengerumuninya.

Apakah kau tidak menemukan sebilah pisau atau semacamnya?

Tidak tuan, (diam sejenak) oh… kecuali bajunya yang sobek. Saya tidak sempat memperhatikan semuanya, mungkin karena saya sudah sangat ketakutan jadi saya langsung lari menuruni rumah itu meski lantai papannya berderak sangat keras. Satu satunya hal yang terpikirkan oleh saya saat itu adalah memberitahu bapak dan juga kepala desa.

Kisah kesaksian kepala desa di hadapan penyidik

Ia tinggal di ujung desa Patuku yang berjarak cukup jauh dari rumah warga lain. Ketika mendengar berita kematiannya, kami langsung menghubungi keluarga korban yang tinggal di desa seberang.

Di dalam kamar, mayat Niang tergeletak dengan baju sobek dan luka lebam di pipinya. Pakaian berhamburan memenuhi lantai, juga bau amis darah yang cukup menyengat. Sepertinya barang berharga milik korban pun raib diambil oleh pelaku.

Apakah dia memiliki musuh?

Saya rasa tidak tuan. Kami tak pernah mendengar kabar bahwa ada orang yang pernah bermasalah dengan dia.

Kisah kesaksian pengembala sapi di hadapan penyidik

Ketika hari sudah hampir malam, saya melihat seorang keluar dari rumah Niang, kalau tidak salah, dia adalah pak Usman. Awalnya saya tidak menaruh curiga kepadanya karena dia pernah bekerja cukup lama untuk wanita itu. Tetapi setelah melihat semua kejadiannya, saya yakin, yang membunuhnya adalah pak Usman. Dia memang baru saja keluar dari penjara dua minggu yang lalu karena dia mencabuli keponakannya sendiri. Betapa mengerikannya hal yang disebut nafsu itu. (ngeri mendengar perkataannya sendiri)

Apakah Usman melihat anda sore itu?

Saya rasa tidak tuan, karena dia berjalan teburu-buru hampir seperti berlari, dan segera menunggangi motornya dan langsung melesat pergi.

Siapapun pelakunya, dia harus dihukum seberat-beratnya. Dan tentu saja tuan-tuan sekalian yang lebih tahu hukuman apa yang pantas untuk orang seperti dia. Kami yang rakyat biasa tentu saja tak masuk hitungan dalam menentukan perkara apapun di desa ini. Tuan tuan sekalianlah yang mengatur.

Saya minta maaf jika ada yang salah tuan. Tetapi mohon kiranya agar mempertimbangkan dugaan saya.

Kisah kesaksian seorang wanita di hadapan penyidik

Niang adalah saudara kandung saya. saya merasakan kesedihan yang sangat karena dia adalah adik saya yang tersisa. Saya sangat menyayanginya meskipun seringkali kami memperdebatkan banyak hal, tetapi tetap saja saya tidak dapat membayangkan betapa kejam pembunuh itu memperlakukan adik saya. Saya mohon dengan sangat tuan, tangkaplah pembunuh itu meskipun harus menyusuri tiap bentang jalan di negeri  ini. Kenapa ia begitu tega membunuh adik saya? ( ia menghapus derai air matanya.)

Kami akan berusaha sebisa mungkin nyonya, anda hanya perlu membantu kami dalam penyelidikan ini. Lalu, apakah benar Niang tinggal sendiri?

Sejak dahulu, ia memang ingin tinggal sendiri. Ia tak pernah menikah meskipun masih muda, bukan karena tak ada orang yang ingin menikahinya, tetapi ia memang tidak ingin. Mungkin karena ia melihat kakak kami yang pernah dipukuli suaminya dahulu. Sehingga  ia sangat keras kepala, bahkan menurutnya; dengan atau tanpa suami hidup akan tetap saja berengsek. Mungkin itulah alasan dia tetap sendiri sampai sekarang. (kembali terisak).

Tetapi anak saya Idah kadang datang mengunjunginya ketika akhir pekan, sekadar menemani Niang barang satu atau dua malam. Tiga hari yang lalu Idah mengunjungi Niang, tapi ia kembali karena ada urusan mendadak di kantornya, dan ia tidak tahu kapan akan kembali.

Kesaksian Usman di hadapan penyidik

Saya akan mengatakan semua kebenarannya. Saya tidak akan menyimpan apapun, sebab percuma saya menyimpannya, toh saya juga akan dihukum dan disiksa disini pada akhirnya. Jadi tenang saja tuan, anda tidak perlu repot-repot memakai pentungan atau sengatan listrik itu untuk membuat saya membuka mulut. (Ia menoleh, melihat Idah yang baru saja tiba di kantor penyidik)

Awalnya saya datang untuk menjenguknya dan meminjam sedikit uang darinya. Saya tidak pernah berniat untuk membunuhnya, dia adalah orang yang baik yang selalu mengasihani saya, meskipun saya selalu membuat masalah.

Saya bertemu dengannya sore itu, dan disana juga ada Idah keponakannya, tetapi tidak lama setelah saya datang, ia pamit pulang karena ada urusan mendadak di kantornya. Sehingga yang tersisa di rumah itu tinggal kami berdua. (diam lagi)

Setelah lama berbincang tentang beberapa hal, saya kemudian mengatakan maksud saya untuk meminjam uang, lalu dia mulai mengungkit tentang utang saya kepadanya yang sudah lama sekali. Dia mulai mencaci-caci sehingga saya merasa begitu malu, ‘dasar lelaki tidak tahu diri, kau seharusnya bekerja untuk mendapatkan uang, jangan hanya meminta!!! Kau belum membayar utang yang sebelumnya bukan?’ kata-kata itu membuat saya geram dan tanpa sadar saya mencabut badik dengan perasaan marah yang meluap-luap, lalu menghunuskan badik itu kedepan wajahnya. Saya memintanya memberikan uang dan juga emas yang ia miliki ‘cepat serahkan uangmu wanita jalang. Kalau tidak, kita tidak akan tahu bagaimana nasibmu’ kataku hanya untuk mengancamnya tetapi kemudian ia mundur ke lemari baju yang tak berpintu dan mulai berteriak meminta tolong dan  melepari saya dengan pakain. Saya panik sekali dan dengan gerakan spontan saya langsung menarik bajunya dan menikamnya tepat dibagian perut, ia kemudian memegang tangan saya dengan sangat keras yang membuat saya harus memukul wajahnya, lalu ia terjatuh dan tak mengatakan apa-apa. Tangan saya gemetaran melihat pemandangan itu, bagaimanapun bejatnya saya, ini pertama kali saya membunuh, meskipun ada banyak orang yang ingin saya bunuh sebelumnya, tetapi saya tak pernah berani, karena saya tahu membunuh orang bukanlah perkara yang mudah. Tidak seperti tuan-tuan, yang bisa membunuh dengan sangat mudah, bukan dengan peluru atau pisau tetapi dengan dekrit-dekrit pemerintah, bahkan anda bisa membunuh hanya dengan kata-kata. Yah kalau mau dibandingkan saya tidak tahu dosa siapa yang lebih banyak, anda atau saya. (ia tertawa)

Setelah membunuh Niang, perasaan panik menguasai saya sehingga saya tak tahu harus melakukan apa. Karena tak bisa berfikir dengan baik, satu satunya hal yang terlintas dalam kepala saya adalah segera melarikan diri.

Dimana badik yang kau gunakan untuk membunuh?

Oh, saya membuangnya kedalam sungai di tepi desa, saya takut kalau kalau arwah Niang datang mengejar saya.

Yah begitulah, saya sudah mengatakan semuanya kepada tuan, maka hukumlah saya segera. (Usman kembali menatap Idah lekat-lekat. ada persaan lega bercampur takut, setelah ia memberi penjelasan kepada Penyidik )

Kesaksiaan Idah di hadapan penyidik

Sebelum kejadian itu saya sudah mempunyai firasat buruk. Oleh karena itu, saya mengunjungi rumah tante, dan berniat untuk menginap disana. Seperti biasa ketika berkunjung ke rumahnya kami berbincang tentang beberapa hal. Dia terlihat cukup ceria hari itu dan membuat saya membuang jauh-jauh firasat buruk tadi.

ketika hari mulai petang, Usman datang. Tak lama setelah kedatangannya, orang di kantor menelpon saya, dan meminta saya untuk mengurus berkas yang harus diselesaikan segera. Terpaksa, saya harus membatalkan niat untuk bermalam di rumah tante Niang. Jadi saya meninggalkan mereka berdua dan segera pulang ke rumah untuk bersiap-siap menuju ke kantor.

Setelah beberapa hari, ibu menelpon saya dan memberitahu apa yang terjadi. Saya merasakan kesedihan yang sangat. Waktu seperti berhenti ketika ibu menceritakan semuanya, bahkan saya masih belum percaya dengan kepergian tante yang begitu saya sayangi. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? (ia menangis tersedu-sedu).

Kesaksian arwah Niang yang merasuki tubuh sang petani.

Sore itu, Idah datang bersama Usman, mereka meminta saya untuk memberikan beberapa pinjaman dan ia tak ingin keluarga kami mengetahui itu selain kami bertiga. Karena gerak gerik mereka terasa mengganjal, saya kemudian curiga karena uang yang mereka minta sangat besar. Tentu saja saya menanyakan maksud mereka ‘mau kalian apakan uang sebesar itu?’ mereka tak menanggapi dan hanya memaksa saya untuk segera memberikan uangnya. Pada akhirnya saya menolak dengan ketus ‘kalian harus mencari orang lain yang ingin meminjamkan uangnya kepada kalian’

Itu membuat Idah tersinggung, ‘saya sudah muak dengan semua ini, saya ingin menggunakan uang itu untuk merantau ke kota dan hidup bahagia bersama Usman. Saya sudah tidak tahan dengan sikap keluarga kita yang terus menghalangi cinta kami. Kalian tidak tahu betapa kami saling mencintai’ kata Idah marah. Tetapi saya kembali menolak dan memperingatkan mereka agar tidak  melakukan hal buruk itu. ‘ Idah, kau tidak boleh melakukan itu karena itu akan melanggar adat. Lagipula, kebahagiaan macam apa yang akan kau cari? Kau hanya akan mendapatkan penderitaan’.

Idah melihat saya dengan sorot mata terbakar ‘tahu apa kau tentang cinta? Kau bahkan tidak pernah menikah. Kau orang aneh. Jangan samakan saya dengan orang sepertimu yang tak pernah merasakan cinta menetes ke dalam dirimu. Kau hanya wanita jalang, yang tak mengerti cinta, kau sama dengan mereka!’ kata katanya membuat saya marah dan saya langsung mengusir mereka, ‘keluar kalian dari sini, aku akan segera memberitahukan keluarga kita tentang niat busuk kalian!’.

Lalu dia membongkar paksa pakaian yang ada di lemari, tetapi saya menahannya dan  mendorongnya hingga terjatuh. Idah berdiri dan menatapku tajam, ‘kami akan menyingkirkan siapapun yang akan menghalangi kami, termasuk kau, juga saudaramu yang keras kepala itu.’ Lalu ia berpaling ke Usman ‘Usman, jika kau memang benar-benar mencintai saya  maka kau akan melakukan apa yang saya perintahkan bukan?’ Usman terdiam sejanak, ‘ah.. tentu saja Idah, apapun itu demi bisa menikahimu’ Idah kemudian menyentuh tangan Usman, dan menatapku tajam ‘baiklah, ayo kita bunuh wanita jalang itu!’ Perkataannya membuat saya tertegun dan menangis. Betapa cinta dapat membutakan siapa saja.

Sebelum saya sempat berteriak untuk meminta pertolongan. Tangan kiri Usman yang besar sudah menutup mulut saya, membuat saya kesulitan bernafas dan tangan yang satunya lagi menahan tubuh saya yang berusaha berontak. Saya tidak bisa melepaskan diri. Mulut saya disumbat, tangan dan kaki saya diikat menggunakan baju. Padahal kekuatan Usman saja sudah cukup untuk membuat saya tidak bisa bergerak. Lalu mereka mencari uang dan emas saya dan menemukannya di bawah kasur.

Dosa Idah tidak sampai di situ saja, setelah ia mendapatkan yang ia cari, ia lalu berkata kepada Usman untuk menodai saya. ‘sebelum kita pergi, kau harus merusak keperawanannya dulu, saya ingin melihat dia menderita’. Saya tidak pernah menyangka Idah akan berkata seperti itu. saya ingin membakarnya seketika itu juga.

Usman menatap saya lekat-lekat dan kembali menoleh kehadapan Idah, ‘apakah kau yakin?’, tanpa menjawab pertanyaan Usman, Idah berjalan ke arah saya perlahan, menunduk dan menampar saya, dan kedua tangannya dengan cepat merobek baju daster saya, membuat dada saya mencuat. ‘saya juga akan sangat menikmatinya, tunggu apalagi?’ saya tidak bisa melakukan apa-apa. Usman mengahampiri saya, bibirnya menjelajahi seluruh tubuh saya dan tak ada satupun bagian tubuh yang ia lewatkan. Saya hanya menangis dan mengutuki nasib buruk yang saya terima sampai saya tak sadarkan diri. (diam, lalu menangis)

Setelah diperkosa, saya menyadari kalau Idah sudah tidak ada di rumah , hanya ada Usman yang berdiri tegak menatap saya. Sambil menangis saya berusaha  bangun dari tempat tidur memandang Usman yang tak berkata apapun, itu membuat saya semakin ingin mencabut kepalanya. Ia menghampiri saya ‘sekarang apa maumu?’ Ia menanyakan itu seolah tak peduli apa yang pernah terjadi. ‘bunuh saya! Saya mohon bunuh saya sekarang juga! Hidup macam apa yang akan saya jalani setelah ini?’. Kemudian matanya menatap saya ‘saya tidak bisa membunuhmu! Saya tidak bisa melakukan itu’ katanya lirih. Saya bangun terhuyung-huyung dan  dengan sisa kekuatan yang saya miliki saya mendorongnya hingga terjatuh ‘kalau kau tidak membunuh saya maka saya yang akan membunuhmu! Ia tak peduli dan langsung meninggalkan saya tanpa sepatah kata. Mata saya yang penuh dendam yang membara hanya bisa menyaksikannya melangkah keluar dan menghilang dibalik pintu. (menangis terenyuh-enyuh)

Suasana menjadi senyap, tak ada suara lain, kecuali suara tangis saya sendiri. Sedang di dekat lemari, di atas lantai kayu, saya melihat  badik Usman yang tergeletak tak jauh dari saya. Mungkin badiknya terjatuh ketika saya mendorongnya.

Saya berdiri dan mengambil badik itu, mencabutnya. Sekonyong-konyongnya, saya sudah merasakan neraka yang sangat mengerikan, neraka yang mereka ciptakan dalam kehidupan saya. Penderitaan telah menghujam saya. Saya akan meninggalkan dunia meskipun dunia telah lama meninggalkan saya. Saya telah kehilangan apa yang saya miliki bahkan harga diri. (terdiam)

Akhirnya saya menikam diri saya sendiri. Darah keluar dari dalam mulut saya, sementara darah yang lainnya mengalir dari perut. Saya jatuh telentang di atas kasur, dan tiba-tiba saja ingatan berlompatan di kepala saya.

Kematian ternyata tidak sesakit seperti yang orang bayangkan. Rasanya biasa saja, rasanya dingin, dan kegelapan menyelimuti pandangan saya.

Dalam keremangan senja saya melihat ada seseorang berjalan pelan ke arah saya, sangat pelan. Ia mencabut badik dari perut saya. Sekali lagi darah keluar dari mulut dan juga perut saya. Saya menatap wajahnya yang ditutupi keremangan dan bertanya ‘apakah saya sudah ada di surga?’ Kemudian saya kembali tenggelam dalam kegelapan.