Tak Sekadar Cantik

Cantik bagi sebagian besar orang di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya adalah dambaan bagi setiap perempuan. Berbagai pendapat di setiap daerah terkait kriteria cantik bermunculan mulai dari pendapat bahwa perempuan cantik itu harus dia yang tingginya semampai, kulitnya putih, mata bulat bening, bulu mata lentik, bibir merona dan tidak lupa rambut yang hitam lebat berkilau.

Tak jarang di zaman yang semakin maju dan peradaban terus tercipta hingga yang serba instan pun menjadi jalan pintas. Akan tetapi itu tidak berlaku bagi mereka yang masih menganut paham bahwa semua perempuan itu sejatinya terlahir cantik bergantung bagaimana individunya membawa diri. Cantik bawaan (sejak lahir) ataupun dipoles sejatinya sama-sama cantik bergantung dari perspektif mana menilai dan melihatnya.

Terlahir cantik maupun dipoles sejatinya memiliki tantangan yang sama. Diperhadapkan dengan pilihan menjadikan cantiknya anugerah atau justru mendatangkan musibah. Di zaman ini tidak begitu sulit rasanya menemukan mereka yang hanya mengandalkan tolok ukur kecantikan untuk menduduki sebuah jabatan, mengais sedikit rezeki untuk menambah pundi-pundi rupiah demi tuntutan zaman seperti diceritakan dalam salah satu novel karya Eka Kurniawan yang berjudul “Cantik itu Luka”. Lantas semua salah siapa?

Tak perlu terlalu risau! Itu bukan satu-satunya pilihan hingga mengutuk diri sendiri bahwa fisik yang Allah titipkan ini justru mendatangkan musibah, melainkan harus perbanyak bersyukur. Tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang sedang kamu dapatkan sekarang, bisa jadi apa yang kamu dapatkan sekarang adalah hal yang justru sangat orang lain impikan dan idamkan maka, bersyukurlah…!!!

Sejatinya bukan salah siapa-siapa jika fisikmu cantik, yang salah adalah ketika terlalu sibuk memperbaiki fisik hingga lupa bahwa hati sedang berkarat lama tak terawat. Alangkah indahnya jika perempuan tidak hanya menyibukkan diri dengan berbagai jenis produk kecantikan dari ujung kaki hingga ujung rambut, mulai dari yang dioles, diminum hingga yang disuntikkan. Dari harga merakyat hingga harga yang membuat mata tercengang. Dari pakaian gamis hingga tunik. Dari celana sepaha sampai rok yang menyapu lantai.

Alangkah baiknya menyeimbangkannya dengan merawat jiwa dengan senantiasa mengikuti segala perintah Allah swt mulai dari shalat yang wajib hingga yang sunnah, puasa wajib dan sunnah dan senantiasa berada dalam medan jihad sesuai dengan proporsinya masing-masing. Tak lupa sembari mengikuti segala perintah Allah swt dibarengi pula dengan ikhtiar untuk menjauhi segala laranganNya, mulai dari menggibah hingga seks bebas yang semakin merajalela.

Sebagai imbalannya perempuan saat ini tidak lagi dituntut hanya di rumah saja, akan tetapi diberi kebebasan untuk berkarir sesuai bidangnya masing-masing, karena perihal perempuan tidak melulu soal rasa akan tetapi mempergunakan segala sesuatunya secara profesional dan proporsional. Keberhasilan suatu negara dapat diukur dari perempuannya, karena perempuan mampu memikirkan dan mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karir bukan lagi pilihan yang justru mendeskriminasi melainkan hanya perlu dipertimbangkan konsekuensi logisnya.

Perlakukanlah dirimu sebagaimana enggkau ingin orang lain memperlakukanmu. Tarulah hormat didirimu karena sejatinya Allah memberikanmu kedudukan yang mulia hingga menempatkan surga berada di bawah telapak kakimu wahai wanita dan tak lupa satu surah telah dibuat khusus hanya untuk menceritakan semua tentangmu perempuan!!! Maka apakah itu masih tidak cukup untuk menggambarkan bahwa dirimu tak cukup hanya dihargai karena kecantikan semata? Ketahuilah bahwa lambat laun itu akan menghancurkanmu. Maka pikirkanlah!!!