Pribadi Kedua

Pria paruh baya itu berjalan mendekati Keiran. Kepala lelaki muda di depannya itu menunduk. Tangan dan kakinya diikat di kursi.

“Bangunlah, apa kau tak ingin menuntut balas pada ayahmu yang sering memukulmu? Yang sudah membuat ibumu terbunuh di depanmu, sedang kau tak bisa berbuat apa-apa?” bisiknya pelan.

“Tidak! Tidak! TIDAAAKKK!!!” teriak lelaki itu sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat. Kepala itu kembali menunduk, tapi perlahan wajah itu kembali terangkat. Sorot mata lelaki muda itu berubah menjadi dingin dan kejam. Seulas senyum miring menghias bibirnya.

“Apa yang kauinginkan?” tanyanya. Pria di depannya tertawa terbahak.

“Aaron, akhirnya kau kembali!”

***

Katrina merasa cemas. Sudah beberapa hari ini, ia mencari Keiran. Kekasihnya itu menghilang begitu saja. Melihat rumah pria itu yang berantakan, ada kemungkinan lelaki yang dicintainya itu diculik oleh seseorang. Sebagai seorang polisi, ia sudah biasa menghadapi kasus semacam itu, tapi tetap saja, menghilangnya Keiran membuatnya panik dan cemas.

Seorang gadis ditemukan tewas di sebuah motel. Tangan dan kakinya terikat di ranjang. Ada lehernya nyaris terpisah dari tubuhnya. Mata hitamnya melotot terbuka mencerminkan ketakutan yang teramat sangat. Darah yang membasahi seprai, merembes dan menetes ke lantai. Kasus ini sudah terjadi untuk kesekian kalinya dengan metode yang sama, tapi hingga saat ini pembunuh itu belum juga tertangkap.

***

Keiran terbangun dan berniat pulang ke rumahnya. Ia tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dirinya bisa berada di tempat itu.

Akhir-akhir ini, entah mengapa dia sering kehilangan kesadarannya. Terbangun di tempat asing yang tidak dikenalnya. Terlebih lagi ada darah yang yang tidak ia ketahui dari mana asalnya.

Sesampainya di rumah, lelaki bertubuh tegap itu segera membuang pakaian itu. ‘Bisa gawat kalau sampai ada yang melihatku. Mereka akan berpikir aku sudah melukai orang,’ gumam cowok itu pelan.

Setelah semua beres, ia bergegas menuju ruang tengah dan menyalakan televisi. Ada berita tentang kasus pembunuhan gadis di motel tersebut.

‘Orang sekarang benar-benar gila,’ keluhnya.

Ponsel cowok itu berdering. Seulas senyum muncul saat melihat nama Katrina di layar.

“Akhirnya kamu menjawab juga telepon ini. Kamu itu menghilang ke mana beberapa hari ini?” gerutu suara di seberang, membuat senyum di wajah Keiran makin lebar.

“Aku senang kamu memperhatikanku. Kupikir kamu sudah lupa padaku, karena sibuk menangani para pembunuh.”

Terdengar dengusan nafas kesal gadis itu.

“Sudahlah, kamu jangan ke mana-mana, aku akan mampir ke tempatmu. Jangan berkeliaran!”

“Siap, Nyonya!” sahut cowok itu sembari terkekeh pelan.

***

Katrina baru saja tiba di rumah kekasihnya. Saat ia hendak masuk, tiba-tiba ponselnya berdering. Raut wajahnya sedikit berubah kala mendengar suara di seberang. Ia segera menutup telepon itu, saat mendengar suara pintu terbuka. Gadis berparas cantik itu tersenyum pada Keiran yang berdiri di ambang pintu dan bergegas masuk.

Meja makan berbentuk lingkaran itu ditata dengan lilin yang memancarkan cahaya keemasan dan bunga mawar segar aneka warna.

“Aku tidak menyangka kau akan menyiapkan semua ini,” ujar Katrina.

Keiran tersenyum menatapnya. Sesaat kemudian, mereka menyantap hidangan dalam diam. Katrina berdehem sejenak. Ia lalu menceritakan tentang kasus pembunuhan yang ditanganinya.

“Pembunuh itu benar-benar kejam. Aku tidak akan pernah memaafkan dia,” ucapnya mengakhiri pembicaraan.

“Jangan pernah memaafkannya. Iblis seperti dia tidak pantas untuk hidup.”

Selesai makan malam, Keiran membereskan peralatan makan. Katrina sedang melihat-lihat sekeliling rumah itu, saat ia menemukan sepatu dengan bercak darah yang telah mengering. Saat hendak melihat lebih teliti, seseorang memukul kepalanya dari belakang hingga tak sadarkan diri.

Katrina mendapati dirinya diikat dengan tali di sebuah kursi saat ia membuka matanya. Kepalanya pusing dan pandangannya sedikit kabur. Setelah beberapa saat, barulah ia menyadari saat ini dirinya berada di sebuah gudang tua yang kotor dan berdebu. Samar-samar terdengar suara orang-orang bercakap-cakap dari luar.

“Tidak, kumohon, jangan bunuh dia, aku mencintainya, Kak,” ucap orang yang satu.

“Dasar bodoh, ia itu berbahaya untuk kita. Ayah juga menyuruh aku untuk membunuhnya.”

“Benar, bunuh dia! Abaikan adikmu yang bodoh ini! Habisi gadis itu sekarang!”

“Baik, Yah!”

“Hentikan, jangan membunuh orang lagi.”

“Dasar kau wanita lemah! Percuma saja kau menjadi istriku!”

Suasana berubah sunyi. Hanya suara tangisan pilu yang terdengar. Di dalam gudang, Katrina menyadari bahwa semua suara yang didengarnya adalah milik Keiran. Pria itu sedang berbicara sendiri.

Pintu gudang tiba-tiba terbuka dan kekasihnya itu bergegas masuk.

“Kei, kumohon, Kei, jangan lakukan ini, lepaskan aku, aku akan melakukan segala cara untuk menolongmu,” pinta Katrina dengan suara memelas.

“Sstttsss!!!” ujar pria itu sembari mengitarinya. 

“Jangan berisik! Keiran sedang tidur sekarang. Kau jangan mengganggunya.

“Siapa kau?”

“Aaron,” jawab pria itu singkat sembari menyeringai dan mengeluarkan seutas kawat tipis dari sakunya.

“Jangan!!! Hentikan!!! Keiran, sadarlah!!!” teriak Katrina.

“Berisik!!! Sama seperti ibuku! Aku harus membuatmu diam!”

Dengan cepat, lelaki itu membelitkan kawat tersebut di leher Katrina dan menariknya dengan kuat, sehingga leher gadis itu tercekik.

Katrina tidak bisa bernafas. Rasa perih kini juga mengoyak lehernya, saat kawat tipis tersebut merobek lehernya. Darah yang merembes dari leher Katrina malah membuat Aaron tertawa kegirangan.

BRAK!!!

Pintu gudang itu didobrak dan terbuka lebar. Belasan senjata api terarah pada cowok.

“Jangan bergerak!!!” gertak salah seorang petugas berseragam yang berada di barisan depan.

“Ck, mengganggu saja,” gerutu Aaron. Namun, ia menurut dan hanya berdiri diam melihat Katrina dibebaskan.

“Kau tidak apa-apa?” tanya petugas yang sama. Katrina hanya bisa mengangguk.

***

Sebenarnya, ini semua sudah mereka rencanakan untuk menjebak Keiran, karena pembunuhan terakhir di motel itu meninggalkan jejak di kuku korban yang mencakar pelaku. Dari situlah diketahui identitas pembunuh. Telepon yang tadi diterima Katrina adalah dari anak buahnya yang memberinya informasi bahwa Keiran adalah seorang pembunuh berantai. Mereka lalu menyusun siasat untuk menangkap pria itu. Meski ikut mengatur rencana yang ditentang hampir semua koleganya, Katrina belum sepenuhnya percaya bahwa kekasihnya itu pembunuh. Karena itu, ia memeriksa rumah itu dan kini semua terungkap di hadapannya.

***

“Keiran, sadarlah, serahkan dirimu!” pinta Katrina lemah. Gadis itu tengah dipapah oleh rekan-rekannya.

“Tidak!!! Aku tidak mau!!!” teriak lelaki itu keras sembari mengambil belati dari sakunya dan berniat menyerang gadis itu.

Suara tembakan terdengar berulang kali menembus lelaki berambut cepak itu. Keiran ambruk ke tanah dengan beberapa peluru menembus tubuhnya.

“KEIRAN!!!” teriak Katrina keras. Ia berlari mendekati laki-laki itu dan duduk di sampingnya serta menggenggam erat tangannya.

“Da-sar bo-doh!” ucap cowok itu pelan.

“A-ku ti-dak le-mah, Kak. Ak-hir-nya a-ku bi-sa … me-nga-lah-kan-mu.”

“Keiran!!! Keiran!!!” panggil Katrina berulang kali, tapi cowok yang dicintainya itu sudah pergi untuk selamanya. Sambil menangis tersedu, gadis itu memeluk tubuh kekasihnya.

***

Dokter Jatmiko sedang mengemasi barang-barangnya, saat beberapa petugas polisi menggerebek masuk.

“Ada apa ini?” tanya pria paruh baya itu. Wajahnya nampak panik dan kebingungan.

“Bapak Jatmiko, Anda ditangkap karena menjadi otak dari pembunuhan berantai. Sekarang Anda ikut dengan kami untuk memberi keterangan!” tegas Katrina.

“Tunggu!!! Tunggu dulu! Kalian tidak bisa menangkapku tanpa bukti.”

“Bukti?” 

Katrina menyeringai.

“Tentu saja kami punya buktinya.”

Ia lalu memutar perekam di tangannya. Ada pengakuan Keiran dan suara percakapan cowok itu dan dokter Jatmiko yang sengaja membangunkan Aaron untuk melakukan pembunuhan.

“Anda pasti tidak menyangka bahwa Keiran akan menjebak Anda. Kurasa Anda meremehkannya karena menganggap ia lemah dan bodoh. Bapak Jatmiko, Anda adalah dokter jiwa, tapi bukannya mengobati pasien yang mempercayai Anda, tapi justru menjadikannya boneka pembunuh. Anda pasti tahu Keiran menderita kepribadian ganda dan sengaja memanfaatkannya.”

“Aku tidak bersalah,” ujar lelaki itu sambil menggeleng.

“Para gadis itulah yang salah. Mereka selalu melihatku dengan tatapan menghina, padahal aku ingin kenal dekat dengan mereka. Orang-orang seperti itu tidak sepantasnya dibiarkan hidup. Mereka semua pantas mati!” serunya. Lelaki berambut uban itu lalu tertawa terbahak-bahak.

Katrina menatapnya dingin.

“Seorang pria sepertimu memang pantas diremehkan. Tidak mau mengotori tanganmu sendiri, Anda justru menggunakan orang lain untuk membunuh.”

“Kau!!! Gadis kurang ajar! Kau tidak tahu apa-apa!” teriak pria itu dengan marah. Ia meronta hendak menghampiri detektif wanita itu. Namun, para petugas menahannya dengan kuat dan membawanya pergi.

“Benar-benar di luar dugaan, seorang dokter yang dikenal santun dan ramah ternyata otak pembunuhan berantai,” ujar salah seorang rekan Katrina.

Gadis itu hanya mengangguk. ‘Mungkin semua orang memang memiliki kepribadian ganda dalam diri mereka. Orang-orang harus memilih sisi mana yang harus mereka ikuti. Jika itu adalah sisi jahat, maka mereka akan berakhir seperti dokter Jatmiko,’ tukasnya itu dalam hati.

***

Katrina mengunjungi tanah makam yang masih merah itu. Ditaburkannya bunga mawar di atasnya.

‘Beristirahatlah dengan tenang, Keiran, karena kini semuanya sudah terselesaikan.’