Sebatangkara

Kau bibit yang ku tanamkan
Saat ku terpuruk
Sengsara
Terluka

Kau tumbuh dari hasil siraman air mataku
Kau masih berbentuk cambah kecil
Setiap waktu ku ceritakan keluh kesahku
Padamu
Hanya padamu

Kau bagai pendengar yang baik
Kau diam tak banyak bicara
Hingga suatu masa
Kau tumbuh
Kokoh
Lebat
Tapi sendiri

Dengan batangmu yang kokoh
Ku jadikan kau sandaranku
Dengan daunmu yang lebat
Ku jadikan kau pelindungku
Dari terik matahari
Juga derasnya hujan

Saat itu aku terluka
Kecewa
Dan sebatangkara
Daunmu menyentuh wajahku
Menyadarkanku
Bukan aku saja yang sebatangkara
Juga kau

Kita saling melengkapi
Kita saling berbincang
Mencurahkan semua kegelisahan
Dan terkadang bercanda bersama
Tapi aku masih merasa kesepian
Entahlah

Saat kulihat sepasang merpati
Saling bercengkerama
Di atas rantingmu
Mengisahkan tentang betapa rindunya
Si jantan kepada si betina
Dan di sisi lain si Nuri
Bernyayi ria
Seakan menyindir kita yang hanya duduk sendirian

Hati ku terasa sesak
Aku iri
Mengapa semua memiliki pasangan??
Kenapa tidak denganku?
Apa aku berbeda?
Atau memang tidak layak memiliki

Kau diam seakan mengiyakan argumenku
Perlahan
Angin menyapa wajahku
Tanpa sadar air mata jatuh dari kelopak mataku
Menyadarkanku bahwa aku hanya sebatangkara