Manusia dan Alam

Perbincangan Tuhan, alam dan manusia adalah isu lama. Namun perbincangan isu ini tak lekang oleh waktu, sehingga kita sering kali menyebutnya sebagai persoalan falsafah yang abadi dan bersifat sejagat. Persoalan hubungan manusia dan alam kerap diabaikan karena kegagalan manusia memahami bahwa pemeliharaan alam sekitar adalah tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. (Q.S Al Baqarah ayat 30 )

Polemik alam dan manusia selalu saja berkepanjangan, dan menaruh jejak pikir bagi masyarakat. Kembali melihat histori perdebatan antara faham aliran qadariyah dan jabariah tentunya yang sampai hari ini masih eksis walau para tokoh pemikirnya sudah wafat.

Faham jabariah mengandung arti bahwa segala sesuatu perbuatan manusia adalah sudah ditentukan oleh Allah swt. Mereka mengambil hujjah (penolong / literatur ) dalam Q.S Ash-Shaffat Ayat 96 yang Artinya: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu“. Juga di dalam Q.S Al Hadid Ayat 22 yang artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuz ) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah“.

Dari dua ayat di atas menjadi pedoman kuat bagi kaum jabariyah yang menyakini bahwa segala sesuatu tingkah dan perbuatan manusia telah ditentukan oleh Allah Swt. Berbeda dengan aliran qadariyah yang menyakini tiap-tiap orang adalah pencipta bagi perbuatannya. Mereka dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendak sendiri. Menganggap bahwa pekerjaan manusia tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan.

Dasar hujjah bagi aliran qadariyah adalah Q.S Ar rad ayat 11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum , kecuali mereka dapat mengubah keadaan pada diri mereka sendiri

Nah, masing-masing aliran mempunyai hujjah yang sama-sama merujuk pada Al-Qur’an. Lantas ini menjadi tantangan bagi kita agar dapat memahami secara detail dan teliti bahwa mana dan apa yang seharusnya kita lakukan ketika melihat dua perbedaan demikian yang dapat membawa pengaruh besar bagi tingkah dan perilaku manusia dewasa ini.

Melihat bencana dan kemiskinan di mana-mana, kebohongan, pembodohan, kerusakan dan lainnya tentu menjadi bahan untuk kita renungi bersama. Tentunya dengan tidak menafikan hubungan Tuhan, alam dan manusia.

Tuhan sebagai sumber utama, manusia sebagai khalifah dan bumi (alam) menjadi tempat berlindung serta aktivitas manusia. Nah penulis ingin menyampaikan karena melihat beberapa realitas bencana belakangan ini, dari beberapa bencana yang sebelumnya sudah sungguh banyak terjadi baik itu besar (qubra) maupun kecil (sugra). Tentu kita akan bertanya-tanya, baik dalam diri sendiri maupun kepada sesama manusia, apakah segala kegiatan dan perbuatan tersebut karena perbuatan manusia ataukah dari Allah?

Tentunya melihat kedua dalih di atas baik itu qadariyah dan jabariyah, penulis menawarkan konsepsi moderat dalam memahami keduanya. Dengan tidak terlalu ekstrem ke kanan maupun ke kiri, melihat segala sesuatunya dengan sebab-akibat.

Jika melihat dari sudut pandang sains maka jawabannya tentu akan merujuk pada hipotesa-hipotesa dari beberapa eksperimen sehingga menghasilkan suatu pendapat atau teori yang menjelaskan terjadinya suatu bencana. Misal terjadinya banjir karena penumpukan sampah sehingga deras air tertahan sehingga menimbulkan penumpukan volume air yang berlebih. Juga terjadinya pencemaran udara akibat panas yang lebih dikarenakan asap kendaraan yang memadai. Ataukah penyebaran virus korona seiring dengan sikap atau perilaku manusia yang kurang baik sehingga virus-virus tersebut dapat menyebar begitu cepat sehingga menutup sepi kota wuhan, China.

Namun jika melihat pada kaca mata agama, maka jawabannya bisa merujuk kepada pandangan qadariyah ataupun jabariyah seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Tetapi penulis mengajak kembali untuk senantiasa memakai kacamata “aswaja” (Ahlusunnah Wal Jamaah) dengan menggabungkan dua aliran pemikiran antara qadariyah dan jabariyah. Bahwa terjadinya sesuatu karena tangan manusia dan karena perbuatan tersebut maka Tuhan dan alam berhak memberikan sanksi kepada manusia, semua sejalan dengan adanya sebab-akibat .

Mengapa manusia perlu menerima sanksi dari segala perbuatannya? Agar mereka tetap berfikir dan menaruh iman dalam dirinya. Mengambil hikmah dari segala kejadian baik dan buruknya suatu peristiwa.

Garis besarnya adalah dua sisi mata uang antara agama dan sains tidak dapat menyatu. Penjelasan keduanya memiliki ranah tersendiri. Karena ranah sains itu bukan agama, maka agama tidak menerima atau menolak temuan dari sains. Agama akan masuk bila temuan sains tersebut ternyata membawa mudarat bagi manusia (karena agama mendukung kelestarian homosapiens) dan lingkungan hidup manusia. Fakta Sains sendiri tidak bisa dinilai secara etis (baik atau buruk).

Apakah hikmah di balik ditenggelamkannya kaum Sodom pada masa nabi Luth? Bagaimana sains memandang demikian? Dengan menggunakan sains sebagai pendekatan maka kesimpulannya tak ada hubungan dengan Tuhan karena di postmo, Tuhan telah dibunuh dalam sains.

Sedangkan agama akan tetap memberikan kenikmatan iman dengan senantiasa mengambil ibrah dari peristiwa tersebut, Tuhan dan alam menolak perilaku demikian. Dan cara Tuhan yang paling misteri.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Dalam Tafsir Jalalain terkait ayat di atas yakni: (Telah tampak kerusakan di darat) disebabkan terhentinya hujan dan menipisnya tumbuh-tumbuhan (dan di laut) maksudnya di negeri-negeri yang banyak sungainya menjadi kering (disebabkan perbuatan tangan manusia) berupa perbuatan-perbuatan maksiat (supaya Allah merasakan kepada mereka) dapat dibaca liyudziiqahum dan linudziiqahum; kalau dibaca linudziiqahum artinya supaya Kami merasakan kepada mereka (sebagian dari akibat perbuatan mereka) sebagai hukumannya (agar mereka kembali) supaya mereka bertobat dari perbuatan-perbuatan maksiat.

Kalau kita campurkan ranah sains dengan ranah agama maka akan hadir syubhat terhadap keyakinan agama kita. Jadi letakkan kajian sains pada ranah sains begitupun agama.Kepemilikan pengetahuan ranah agama tujuannya agar kita meraih keajaiban yang membahagiakan hidup kita. Sementara kepemilikan pengetahuan ranah sains membuat kita mengatahui hakikat dunia fisik yang kita merupakan bagian daripadanya. Adapaun pemanfaatan temuan sains untuk kemudahan hidup manusia secara fisik adalah pengetahuan pada nalar seni. Filsafat sendiri bermanfaat untuk mendalami setiap perkara dengan menggunakan rasionalitas kita.