Balada Pemuda Tani

“Nak, cukup bapak saja yang jadi petani. Kamu sekolah tinggi-tinggi biar tidak merasakan namanya menjadi petani!” hardik Bapak. 

Kata-kata ini melekat terus dalam pikiran saya, kenapa bapak berucap seperti itu padaku? Apa yang salah dengan petani? Serendah itukah petani? Bukankah para petani yang menjadi penghasil pangan orang banyak? Lalu ada apa sebenarnya? 

Semasa kecil, almarhum kakek selalu mengajak saya ke sawah. Tentunya saya sangat senang. Selain makanan yang enak menanti, saya bisa naik kerbau yang sedang membajak sawah. Saya juga bisa puas bermain lumpur sembari berlari ke sana ke mari mengangkat benih padi. Bahkan sekali waktu, saking senangnya dengan suasana di sawah, saya lebih memilih ke sawah dibandingkan ke sekolah. Tapi tenang saja, kebiasaan ini masih berlanjut hingga saat ini kok, meskipun hanya sekadar membantu Bapak saja sih. Dan saya juga tidak naik kerbau lagi kok, nanti dikira saya melakukan penyiksaan hewan lagi sama Manteman aktivis perlindungan hewan. Sekarang sudah pakai traktor. Hehehe…. 

Sekarang, bagi sebagian kaum muda, petani bukanlah menjadi sebuah pilihan pekerjaan. Tapi lebih tepatnya menjadi sebuah pelarian, dan menganggap sebuah takdir. Sangat disayangkan kondisi seperti ini, seharusnya petani merupakan pekerjaan yang sama pentingnya dengan pekerjaan yang berpakaian rapi, yang berkantor di ruangan ber-AC. Petani mestinya menjadi salah satu pilihan dalam menitipkan cerahnya masa depan kita. 

Harapan tak selamanya sesuai kenyataan . Seperti lirik salah satu lagu Kapal Udara,

Menanam,Tanah lapang membentang
Dibalik gunung menjulang
Tebarkan benih harapan
Menggantungkan kehidupan
Seruan kehilangan
Dibalik gedung menjulang
Memupuk penantian
Berbuahkan ketiadaan
Menanam, menanam, menanam harapan
Penantian, penantian, tanam harapan
Ohh haaaa
Menanam, menanam, menanam harapan
Penantian, penantian, menanam harapan
Menanam, menanam, menanam harapan
Penantian, penantian, tanam harapan

Petani hanya bisa menanam dan terus menanam harapan, harapan untuk keberlangsungan hidup keluarganya yang menanti di rumah dengan senyuman. Harapan untuk pendidikan dan kesehatan keluarganya. 

Hasil survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) soal petani nasional cukup mengkhawatirkan. Kesimpulannya, Indonesia di ambang krisis petani. Kondisi ini sangat memilukan, karena Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris. Hasil survei itu disampaikan peneliti kependudukan LIPI, Vanda Ningrum di Jakarta, 19 September. 

Dia menuturkan sebagian besar petani berusia di atas 45 tahun. ”Bahkan rata-rata usia petani di Jawa Tengah 52 tahun. Kemudian hanya tiga persen anak petani yang melanjutkan kiprah orang tuanya sebagai petani,” jelasnya. 

Hasil Sensus Pertanian 2013 menyebutkan, mayoritas petani ada di kelompok usia 45 – 54 tahun yakni mencapai 7.325.714 jiwa. Menurut Vanda kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan.

 (http://lipi.go.id/lipimedia/indonesia-di-ambang-krisis-petani/19056)

Apakah kita harus menyalahkan pemuda yang memilih menjauh dari lahan pertanian? Kita juga tidak boleh mengambil sikap itu, dengan mudahnya memberikan penilaian seperti itu ke pemuda. Karena sampai hari ini, belum ada jaminan akan masa depan sebagai petani. Misalnya jaminan hari tua, jaminan harga, jaminan gagal panen, jaminan keselamatan kerja, jaminan modal usaha, inovasi pertanian dan lainnya. Mungkin sebagian sudah diperadakan, tapi belum menyentuh keseluruhan. Jika pun kita menemukan pemuda bertani, mungkin karena menjadi pelarian saja. Dan menganggap sebagai takdir. Ditambah lagi, maraknya tengkulak yang tanpa memakai rasa, tega “mengisap” keringat para petani. Jangankan mendapat uang panai’ (mahar) yang makin tinggi di kampung halaman saya, malah harus bayar hutang dulu sama pemilik modal. Sepertinya ini yang menjadi jawaban akan pertanyaan Bapak, kenapa bapak begitu bersikukuh untuk tidak mengizinkanku menjadi petani. 

Sampai hari ini, berbagai macam upaya sudah dilakukan baik oleh pemerintah, lembaga, maupun perseorangan. Namun tak kunjung lahir sebuah solusi yang tepat. Sedangkan masalah ini sangatlah serius. Dan seharusnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Menyelesaikan masalah ini harus pakai metode keroyokan. Lagi dan lagi saya katakan, kolaborasi sangatlah penting. Kita harus serius dan konsisten untuk menyelesaikan masalah ini dengan peran kita masing-masing. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan atau hadir sebagai super hero yang bisa menyelesaikan sendiri. Tapi bergandengan, lalu bergerak bersama. Karena apapun pilihan pekerjaan kita hari ini, semua itu cara untuk membantu semua ciptaan Tuhan.