Betapa Sering Orang Berbicara Hampa

Saat tsunami besar melanda Aceh, dan membuat ratusan ribu orang menderita, alih-alih mencoba menjelaskan peristiwa tsunami dengan menggunakan wawasan dan informasi dari studi geologi dan geofisika, sebagian besar di antara kita justru sibuk mengkambing hitamkan korban, menyebut mereka munafik karena konon perilaku mereka tak sejalan dengan julukan daerah mereka yakni “Serambi Mekkah”. Hal yang sama terjadi saat Palu dilanda gempa, tsunami dan likuifaksi yang parah, alih-alih mecoba menjelaskannya dengan menggunakan wawasan dari ilmu tanah, kita malah mengatakan bahwa kawasan yang terkena dampak parah likuifaksi, karena banyak di antara mereka yang menjadi korban adalah pelacur, kriminal dan wanita tunasusila. 

Hal yang sama berulang, saat virus Corona mengakibatkan wabah penyakit menakutkan di Wuhan, Cina. Sebagian besar di antara kita lebih memilih penjelasan magis ketimbang penjelasan medis. Berlomba-lombalah kita memastikan bahwa wabah tersebut adalah azab ilahi, para korban adalah orang-orang yang mengalami penghakiman Tuhan dikarenakan telah melakukan dosa besar. Sepertinya kita tidak siap berpikir kompleks bahwa virus Corona mengakibatkan wabah karena merupakan virus jenis baru yang belum didapatkan obatnya, ditambah faktor cuaca yang dingin, belum lagi pola hidup dan pola makan. Bahkan bisa jadi ada di antara kita, diam-diam berharap jahat dalam hati, agar wabah ini semakin memburuk hanya karena alasan perbedaan agama. Lalu ada teman yang bertanya ke saya, mengapa bisa ada yang berharap demikian? saya jawab dengan seadanya, “mungkin karena agama bagi kita, pertama-tama adalah soal identitas yang kaku, bukan sebagai pengalaman eksistensial yang dinamis, sehingga kita beragama dalam bingkai logika kami-mereka, bahkan dalam logika ‘kekalahan/derita mereka adalah kemenangan/kegembiraan bagi kami dan kemenangan/kegembiraan mereka adalah kekalahan/derita bagi kami’………….”.

Dalam sejarah, dan ini dijelaskan dengan apik oleh Yuval Noah Harari dalam Homo Deus (2018), musuh kedua bagi bertahannya spesies Homo Sapiens setelah kelaparan adalah wabah penyakit. Dalam sejarah kita mengenal Maut Hitam atau biasa juga disebut dengan wabah hitam pada dekade 1330, bermula dari wilayah Asia Timur atau Tengah, saat bakteri penumpang kutu Yersinia Pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu. Dari sana, dengan menumpang armada tikus dan kutu dengan cepat ke seluruh Asia, Eropa bahkan Afrika Utara hingga pesisir-pesisir samudera Atlantik. Lebih dari ssperempat penduduk Eurasia mati karena wabah, Florensia kehilangan 50.000 dari 100.000 penduduknya. Lalu, masyarakat abad pertengahan menduga kuat, bahwa penyebab Maut Hitam tersebut adalah iblis mengerikan yang melampaui kendali atau pemahaman manusia. Para pemegang kuasa di kota-kota Eropa tak berdaya menghadapi wabah, maka dilakukanlah doa-doa dan prosesi massal untuk mengusir sang Iblis.

Mungkin wajar saja, jika saat itu, Iblis yang ghoib menjadi tersangka bagi wabah yang merebak. Karena tidak sebagaimana perang atau bencana lain (banjir, tsunami atau angin topan), penyakit menyebar dengan cara yang tak terlihat, dia ibarat “armada bayangan” bagi masyarakat abad pertengahan. Ditambah pengetahuan tentang sel, bakteri apalagi virus belum berkembang saat itu, mikroskop belum ada dan mikrobiologi belum lahir. Tapi akan menjadi aneh, kalau sikap yang sama tetap dipertahankan, di masa dimana ilmu kedokteran telah berkembang, mikrobiologi semakin canggih dan instrumen-instrumen pengamatan makhluk renik semakin membaik, bahkan pengetahuan dasar tentang jamur, bakteri dan virus telah diperkenalkan sejak bangku SMP.

Lalu mengapa penjelasan moral dan magis tetap memiliki pesona ketimbang penjelasan saintifik?. Dalam The Magic Of Reality (2011), Richard Dawkins mengatakan, manusia senantiasa menuntut penjelasan dari segala peristiwa (apalagi wabah) yang mengepung dan menarik perhatiannya, itu mungkin karena kita berprinsip bahwa “segala sesuatu terjadi karena alasan tertentu”. Segala sesuatu memang terjadi karena alasan tertentu, dalam artian alasan sebagai penyebab. Gempa bumi terjadi karena adanya pergerakan lempeng tektonik yang kemudian melepaskan energi besar, tsunami terjadi karena adanya pelepasan energi gempa yang berpusat dilaut atau oleh runtuhan sedimen bawah laut pasca gempa, wabah yang disebabkan oleh penyebaran bakteri atau virus tertentu, dan alasan (sebab) ini senantiasa terjadi sebelum peristiwa.

Namun seringkali kita menganggap alasan peristiwa sebagai sesuatu yang berbeda, semacam “tujuan”. Richard Dawkins menyebutkan beberapa kalimat yang sering diucapkan dan menggambarkan hal tersebut, semisal perkataan “Tsunami adalah hukuman atas dosa-dosa kita” atau perkataan “alasan terjadinya tsunami adalah untuk menghancurkan klub tari telanjang, disko, bar dan tempat-tempat penuh dosa lainnya”. “Luar biasa betapa sering orang berbicara hampa semacam itu”, tegas Dawkins, lalu lanjut berkata “mungkin itu bawaan sisa masa kanak-kanak. Para Ahli psikologi anak telah menunjukkan bahwa anak-anak yang sangat muda, ketika ditanyai mengapa bebatuan berbentuk runcing, menolah penyebab-penyebab ilmiah sebagai penjelasannya (karena terjadi pelapukan mekanis dan kimiawi misalnya) dan memilih jawaban : ‘agar hewan bisa menggaruk badan sewaktu kegatalan’. Kebanyakan anak tidak lagi mempercayai penjelasan soal batu runcing itu seiring bertumbuh dewasanya mereka’....”.

Atau mungkin, manusia rentan dalam melakukan kesalahan berpikir. Di antara kesalahan (fallacy) berpikir, ada satu yang cukup terkenal dan cukup akrab bagi yang pernah belajar logika, yakni post hoc ergo propter hoc.Yakni kesesatan yang dilakukan karena pengambilan kesimpulan berupa hubungan sebab-akibat dari dua peristiwa yang kebetulan berurutan. Misalnya, sebelum terjadi tsunami Palu, masyarakat beramai-ramai mengikuti semacam festival adat setempat di pantai. Lalu kita menyimpulkan bahwa Tsunami disebabkan oleh festival adat yang berbau syirik. Begitu pula wabah di Wuhan, karena didahului oleh berita persekusi Muslim Uighur, sehingga kita menyimpulkan bahwa wabah disebabkan oleh persekusi yang dilakukan pemerintah Tiongkok kepada muslim Uighur. Dan jika kita telisik lebih jauh, peristiwa sebelumnya yang dianggap sebagai penyebab, adalah peristiwa yang kita pilih dan pilah, sesuai dengan selera budaya, politik ataupun agama.

Di sinilah letak pentingnya literasi sains bagi warga, agar tak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan dan terbiasa mengambil kesimpulan disertai dengan argumentasi yang rasional dan bisa dipertanggungjawabkan serta terbuka bagi koreksi. Sains memang bukan segalanya dan tidak pernah mengklaim diri mampu menjelaskan segalanya, “salah satu keberhasilan sains adalah bahwa di jantung sains itu sendiri tertanam mekanisme pengoreksi kesalahan…setiap kali kita menerapkan kiritik diri, setiap kali kita menguji gagasan-gagasan kita terhadap dunia luar, kita sedang menerapkan sains. Ketika kita bermanja diri dan tidak kritis, ketika kita mencampur-baurkan keinginan dan fakta, kita tergelincir dalam pseudosains dan takhayul…”, tulis Carl Sagan dalam The Demond Haunted World (1996).

Tapi sekali lagi Sains bukan segala-galanya. Bagi yang menjadi korban, atau keluarga-sahabat-rekan kerja korban, penjelasan saintifik tak akan membuat mereka tegar dihadapan bencana ataupun wabah, mereka butuh pengharapan dan itu bisa diperoleh dari agama, mereka butuh pemaknaan dan itu bisa didapatkan dari filsafat dan sastra. Tapi yang terpenting adalah kepedulian dan uluran tangan kita agar sang korban “tak mudah patah di hadapan peristiwa pedih”, mereka tak begitu butuh komentar kita.