Impian Naigu, Negara, dan Nasib

Namanya Naigu, seorang pendeta di Ikeno O, suatu kampung di pinggiran kota Kyoto.  Naigu telah berumur 50 tahun, dan semua orang di Ikeno O tahu, bahwa hidung pendeta itu panjangnya sekitar 16 sentimeter. Menjuntai dari bibir atas hingga ke bawah dagunya. Baik ujung maupun pangkal, semuanya sama besar. Pendek kata, hidung itu seperti sosis yang bergelantung di pertengahan wajahnya. 

Sejak dari calon hingga menjadi kepala pendeta, batinnya tersiksa karena bentuk hidung itu. Tentu saja kesedihan tidak tampak pada roman mukanya. Ia pikir sebagai pendeta, tidak baik memikirkan hidung melulu, ditambah lagi keinginannya untuk masuk surga. Hal yang paling ia khawatirkan; Ia tidak ingin orang lain mengetahui keadaan batinnya. Pendeta Naigu merasa cemas dengan segala omongan tentang hidungnya dalam pembicaraaan sehari-hari. 

Di Ikeno O, ia memulai harinya dengan membaca sutra, lalu setelah itu ia pergi ke depan cermin. Hal pertama yang ia pikirkan sambil bercermin adalah mendapatkan cara agar hidungnya yang panjang tampak lebih pendek. Ketika ia berceramah, Naigu tidak lagi memikirkan bahan ceramahnya dan lebih banyak menaruh perhatian ke hidung orang lain. Singkat cerita, murid-murid pendeta Naigu menemukan cara agar hidungnya bisa menjadi pendek.  Setiap hari dengan susah payah ia mencelupkan hidungnya ke air panas, dan murid-murid menginjaknya dengan kaki. Hidung pendeta Naigu menyusut menjadi kecil, dan ia bahagia sekali.  

Dalam dua tiga hari, Naigu mengalami perkembangan yang tidak terduga.  Bertepatan dengan datangnya seorang samurai ke kuil Ikeno O untuk suatu keperluan. Dengan raut wajah seperti merasa aneh, samurai itu hanya memandangi hidung pendeta Naigu. Choduji, seorang pendeta yang lain, berpapasan dengan Naigu dan sontak menundukkan kepala lalu menahan perasaan geli, setelah Naigu melewati pendeta itu, gelak tawanya pecah tak tertahankan lagi. Hal serupa juga terjadi dengan pendeta-pendeta lain saat melihat Naigu. 

Dalam hati manusia, ada dua perasaan yang saling bertentangan. Tidak ada seorangpun yang tidak bersimpati terhadap nasib orang lain, tetapi jika seorang itu ingin berusaha mengubah nasib buruknya, maka ada orang lain yang tidak suka. Kalau sedikit dilebih-lebihkan, banyak orang yang ingin orang lain yang bernasib malang; tetap bernasib malang.  Dalam suatu hari, terkadang pendeta Naigu berhenti membaca sutra dan mulai menghabiskan waktu merindukan hidung panjangnya. 

Ada suatu negeri yang luas dan indah, tetapi tampak tidak terlalu makmur. Warganya jujur, kuat, dan memiliki kemampuan. Mereka juga pandai bersyukur. Waktu merentang dan mereka cukup puas dengan nasib yang diberikan Tuhan kepada mereka.  Segala rupa tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi tetap dihargai dengan nilai yang lain, nilai keluhuran akan jiwa manusia. Hingga pada suatu masa yang lain,  negara tetangga yang lebih makmur, mengolok-olok bahkan menghina wajah orang-orang sederhana ini. Akhirnya mereka jenuh dan memimpikan negerinya beralih rupa dari negara miskin menjadi negara kaya. Tetapi kita tahu, layaknya Naigu, impian itu malah menjadi  awal  dari penyesalan yang lebih menyedihkan. 

Seperti halnya pendeta Naigu yang bersusah payah ingin memiliki hidung pendek, dan ketika akhirnya ia memiliki hidung idamannya, semua menjadi lebih berantakan. Indonesia, negara dengan wajah yang tampak miskin ini, ingin bersusah payah menjadi negara berwajah kaya. Tetapi di ujung perjalanan, mereka menjadi satu negara yang berbeda dengan pribadi yang mereka miliki sebelumnya. Pengaruh itu tidak hanya mereka ambil dari negara asing  beserta penjajahan, tetapi bersumber dari penderitaan yang pahit di rumah mereka sendiri; Berbagai kelompok dan partai yang berbeda saling merintangi, saling mencabik dengan perselisihan dan kecemburuan. 

Mari kita andaikan Negara ini sebagai Naigu, dan impiannya mempunyai hidung pendek para pendeta sebagai impian negara pada perubahan besar-besaran yang terjadi di seluruh dunia.  Transformasi manusia dan barang-barang telah muncul seperti wabah epidemik dari kepulan asap mesin uap pertama, yang mengubah seluruh sendi kehidupan. Pada kenyataannya, mesinlah yang mendorong manusia untuk bekerja lebih keras. Kekayaan diproduksi, dan benua yang menemukan mesin, yang mengolok-olok mereka, memeroleh kekuatan yang lebih besar untuk menguasai dunia. Hanya negara adikuasa yang berhak membagi-bagi negara lain. 

Sedangkan Indonesia, bangsa yang memiliki berbagai macam kebudayaan, yang di satu sisi telah sekian lama diperolok, tetapi di sisi lain menjadi incaran banyak negara, telah terpesona oleh kekuasaan dan kekayaan. Layaknya Naigu, yang terpesona oleh hidung pendek para pendeta. Negara akhirnya membangun dan menabung, berdagang dan meminjam uang. (meski kita meminjam dari negara yang mengolok-olok kita, dan mirisnya  kita tahu, tidak akan langsung menjadi kaya). 

Pemilik sawah, ataupun tebu, tiba-tiba berpikir untuk memiliki pabrik. Pekerjaan yang dilakukan tiga orang, kini menjadi dua puluh orang, dan industri menyerap seratus bahkan seribu tenaga kerja. Sebab rumusnya adalah “semakin cepat mesin dan tangan bergerak, semakin cepat pula uang terkumpul”.  Alhasil, begitu banyak perkerjaan yang dahulu dilakukan dalam suasana keakraban, kini menjadi perangkap dalam sistem penghambaan dan perbudakan. Pondok menjadi pabrik, tuan menjadi raja, dan pekerja menjadi budak. 

Jauh di dalam hati kita, ada yang  deru menyeru.  “Kembalilah kepada masa lalu, yang berjaya dalam kesederhanaan”. Keluhuran spiritual yang menuntun kita seperti di masa silam. Ketika musik dan puisi mengalir terus menerus dan mengangkat kita dalam panggung peradaban dunia. Bumi berputar dan berevolusi; nenek moyang memproduksi puisi dan pemikiran-pemikiran falsafah kuno, tetapi kita lahir dan mengangkat negara dengan kapasitas yang lain.  Kita menempa diri dengan mesin canggih dan ratusan pabrik.  Membuka jalur kereta dan menghasilkan komoditas.  Juga untuk berjaga-jaga dari perang dunia ke tiga, kita membuat meriam dan senjata api sebanyak-banyaknya. 

Negara maju menaruh tolok ukur pada sejauh mana ia menghasilkan barang dan jasa.  Tetapi waktu membentang, dan kita tahu, tolok ukur itu tidak menghasilkan apa-apa, kecuali persaingan dagang dan peperangan. Orang kaya memisahkan diri dan orang miskin merasa terabaikan. Mereka berhenti memerdulikan orang lain dan mulai memikirkan diri sendiri. Persis seperti para pendeta di Ikeno O; memaksa Naigu yang malang tetap bernasib malang. 

Negara maju dalam konteks ke-Indonesia-an, harus dipindahkan tolok ukurnya;  dari “sejauh mana negara menghasilkan barang dan jasa, ke sejauh mana negara menghasilkan kebahagiaan”.  Dan cara mengukur kebahagiaan  dalam negara dilihat dari sejauh mana orang-orang yang ada di dalamnya mampu berbuat baik pada sesama. Juga tentu saja, tidak menjadi seperti para pendeta Ikeno O; diam-diam membenci orang lain yang berjuang menghadapi nasib buruknya sendiri. 

Dan kini,  sampai di sinilah kita.  Berada tepat di depan cermin pendeta Naigu yang memimpikan hidung panjang.  Cermin itu adalah masa ujian yang pahit, saat kita tidak mengetahui ke mana akan menuju atau di mana mencari pemimpin (yang betul-betul berpihak kepada kita), dan meminta pertolongan. Sebagaimana pendeta Naigu yang merindukan hidung panjang, kita pun meratapi nasib, tak bisa kembali ke angan-angan masa kecil, seperti masa awal Nusantara berdiri.  Sebab bukan hal sederhana untuk menyerahkan semua meriam dan senjata itu, mesin-mesin dan harta benda. Lalu  memutuskan kembali menulis puisi, dan memainkan dua tiga alat musik, jauh di ujung kota, di sebuah desa kecil yang damai. 

Catatan: kisah pendeta Naigu dipopulerkan oleh prosais Jepang bernama Akutagawa Ryunosuke.