Seorang Pendosa, Katanya

Kilau pantulan cahaya membawa mataku melihat sisi kelam 74 tahun lalu
sumpa’ kale badik mangkasarak, terngiang menciutkan telinga
ironi kehidupan, haruskah ku buat biografi tentang dia?
seorang pendosa, katanya

“satu tebasan kepala membuat tidurku tidak berkualitas,

maka harus kucari dua, tiga, empat, hingga angka itu tak mampu lagi kuhitung”

1/
keluarga tidak lagi memberikan ketenangan
melainkan ancaman bagi sebagian pandangan mata
bermula dari kecaman yang dianggap remeh
ada rasa memberontak, akal terselimut nafsu yang sakit
dan kini membawaku dalam bui
kekang, ku lihat dari sela besi itu ada tawa saling bersahutan

2/
hari ini, kembali ku rasakan alam yang selalu sama
namun kini aku terlahir asing 
ada asa yang masih bertanya, ketenangan itu di mana?
oh, rupanya ku tinggal dalam jeruji
bolehkah aku kembali ke sana?

3/
untuk yang kesekian kalinya, betahmu dalam bui
sekata dengan ucapanku, angka itu tak mampu lagi ku hitung
jangan mengingatkanku jika kau ingat
semuanya selesai, aku akan segera mati

seperti misi tertata rapi, akan hilang ketika usai
mengapa bui membuatmu nyaman?
sampai mati pun kau masih genggam besi itu
inilah ketika mata dan perasaan telah buta
tapi ku rasa ada setitik harapan yang kau amanahkan untukku
belajar mempertanggungjawabkan ucapan
selamat menempuh dunia baru, semoga kau bahagia
seorang pendosa, katamu
aku teramat menyayangimu kakek, Patahang Dg. Nyarrang