Menyambut kedatangan Presiden

   “Jika tak tahu lebih awal, tentulah sangat sulit membedakaan suara sirene mobil Pengantar rombongan Presiden dan suara sirene Ambulans.”  

           Barisan motor polisi terlihat berderet rapi di bawah jembatan layang kota Merah. Para polisi dengan walkie talkie yang selalu awas di telinga, tengah bersiap mencegat para pengendara untuk berhenti, membiarkan rombongan seorang presiden lewat dengan leluasa. tentu hal itu akan membuat jalan raya bertambah macet minta ampun, nantinya.

Anak-anak kecil peminta-minta dengan baju compang-camping tak terurus, juga sibuk berkeliaran sana-sini. Kaki-kaki mereka telanjang, hanya beralaskan tanah yang mereka pijak. Sesekali, di antara mereka, ada yang mendekat ke deretan motor polisi itu, sekadar memperhatikan bodi motor trail yang tampak gagah dan berkilau di bawah terpaan sinar matahari.

            Di pinggir jalan, empat orang pemuda, dua perempuan, dan dua orang laki-laki, sedang membawa kantongan hitam besar dan sedus air gelas. Seperti sudah sering terjadi. bagai mendung awan, penanda akan turun hujan. Anak-anak kecil itu tahu dan segera saja perhatian mereka teralihkan. Mereka berlarian datang menyambangi keempat pemuda itu.

            Belum sempat kantongan hitam itu dibuka, disambarnya oleh salah seorang dari mereka. karena ikatan yang longgar, bungkus-bungkus nasi kuning di dalam kantongan itupun tumpah berserakan di tanah. Mereka berebut mengambil paling banyak. salah satu bungkusan nasi itu, bahkan sampai pecah. Nasi serta lauknya terburai jatuh diiringi tawa tanpa rasa bersalah yang terbayang di wajah anak-anak gembel itu. Air gelas di dus, juga tak luput dari rebutan mereka. Anak-anak kecil itu seperti binatang liar yang hidup di belantara hutan.  

            “Dik, jangan ambil banyak! Masih ada orang yang butuh.” Mereka hanya cengar-cengir, dan berlalu pergi.

            Seorang anak perempuan berumur delapan tahun dengan rambut kusut sebahu, kembali dari seberang jalan, setelah membawa beberapa bungkusan nasi kuning dan air ke keluarganya. Ia meminta air lagi. Mereka memberinya dua gelas air yang kemudian langsung ia bawa. Baru beberapa langkah, air gelas yang berada di tangan kanannya, tiba-tiba ia pecahkan, lalu menumpahkannya ke atas kepala. Mengoyang-goyangkan kepalanya sampai rambutnya berkibar-kibar dan memercikkan tetes-tetes air. kelima pemuda yang melihat itu hanya tertawa, tak habis pikir akan kelakuan anak itu.

            Hanya tersisa beberapa bungkus nasi kuning di dalam kantongan. Keempat pemuda itu bergerak ke arah simpang jalan, tempat polisi banyak berkumpul.

            “Jangan-jangan, mereka mengira kita adalah tim sukses,” kata Anita, perempuan bertubuh pendek dan bersuara cempreng itu, tiba-tiba.

            “Tapi untungnya kita tidak berbaju partai,” sambung ilyas tertawa sambil membuka kerah baju kemejanya. Udara siang cukup panas memang, ditambah kepul asap dan riuh kendaraan kota yang lalu lalang.

           Anto yang berada di belakang, tengah sibuk memperhatikan bendera-bendera partai yang terpacak di pinggir kiri kanan jalan. Dilihatnya bendera-bendera itu sesak, bak rerimbun bambu yang banyak tumbuh di kampungnya. Banyak dari tiang-tiang bendera itu yang sudah roboh di terpa angin, tergeletak masuk ke jalan raya dan seringkali dilindas kendaraan yang lewat. Di sudut jalan  yang akan dilewati rombongan itu, terpampang sebuah baliho besar, bertuliskan ucapan selamat datang kepada Presiden dan Ibu Negara beserta Rombongan dan beberapa embel-embel lainnya.

            Pemilihan Umum memang akan segera berlangsung. Masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden juga akan berakhir. Di banyak media sudah tersebar banyak selebaran-selebaran berupa poster berisikan Pasangan Calon yang akan dipilih nantinya.

~ ~ ~

            Dari balik tiang Penyanggah jembatan, seorang tukang becak dengan tubuh melengkung dan kaki terjulur keluar, sedang beristirahat di atas becaknya. Kepalanya tersandar di sisi kanan jok kulit becaknya. Dengan mata tertutup, mulut yang sedikit terbuka, dan wajah yang menengadah ke atas, memperlihatkan, betapa ia sangat kelelahan. Cahaya yang masuk melalui celah-celah jembatan menyorot kulitnya yang legam terbakar terik matahari. Tetes-tetes keringat mengucur di balik kerah bajunya yang sudah kecoklatan.

       Mereka mendekatinya perlahan. Suara denting kaleng yang tak sengaja diinjak Anita membuat tukang becak itu terbangun. Anita langsung menyorongkan bukusan nasi kuning serta dua gelas air kepadanya sambil tersenyum, “Ini ada nasi kuning buat bapak.”

            Tukang becak itu tersenyum, mengucapkan terima kasih.

         Dari kejauhan, samar-samar suara sirene mobil pengantar rombongan Presiden telah tiba.

            “Mereka sudah datang.” kata Anita

            “Mungkin Ambulans.” balas Ayu

            “Entahlah.”

     “Jika tak tahu lebih awal, tentulah sangat sulit membedakaan suara sirene mobil Pengantar rombongan Presiden dan suara sirene Ambulans,” kata Anto, tiba-tiba, “tapi bagiku, memang seperti suara ambulans. Dengar! Suaranya semakin dekat dan semakin jelas.”

“yah, memang terdengar seperti Ambulans.” Tambah si tukang becak yang sedang memakan nasi kuning. Di belakang mereka, tampak para polisi sudah bersiap-siap, sedang anak-anak kecil masih berkeliaran seakan tak peduli.