Menahan Hati

Berikhtiarlah menahan hati sekuat-kuatnya. Stay focus hanya pada wishlist yang dibuat. Atas segala pengharapan kepada pemilik jiwa yang nun jauh di sana, leburkanlah. Sebab itu tidak ada ujungnya, akan selalu menetap, mengendap seperti mulanya, hanya pengharapan.

Apa yang mesti diharapkan pada sesuatu yang tidak menentu kadar dan ketetapannya? Toh dengan dalihnya “ini adalah hak prerogatif untuk hatiku”. Kau bisa apa? bahkan alam pun akan mengejekmu sebab kesalahanmu sendiri salah alamat menggantungkan pengharapan. Tak ubahnya berharap pada makhluk melata lainnya.

Tahanlah hati sekuat-kuatnya sebab kau pun punyai hak prerogatif menemukan dan menentukan hatimu. Soal itu? ah anggap saja dia bagai rezeki dari Ilahi. Jika ditetapkan untukmu, tidak mungkin akan tertukar dengan milik orang lain. 

Sekuat keyakinan Hasan Al-Basri, suatu ketika ia ditanya “Apa rahasia zuhudmu?Aku tahu rezekiku tidak akan diambil (tertukar) orang lain karenanya hatiku selalu tenang”.

Bila ketenangan hati telah diraih maka akan sangat mudah mengarahkan kemudinya. Ia bisa fokus, tidak tergesa, dan tidak akan menyesal. Hanya memerlukan ikhtiar dan keyakinan sekuat-kuatnya (menahannya).

Samata, Januari 2020