Perpisahan yang Berujung Bahagia

Kubilang gunung kau bilang tinggi
Kubilang laut kau bilang biru
Kubilang langit kau bilang luas
Kubilang cinta kau bilang paradoks

Oh kekasih kutanya sekali lagi apakah kau betah tinggal di pelukanku
Jika kau betah mengapa kau membawa orang asing di ujung mataku
Barangkali ia telah memberimu sebuah kota di antara selangkanganmu
Ataukah ia telah memberimu sebuah berlian di pangkuanmu

Rupanya aku telah tepat memilihmu
Kau berikan aku cinta berlebihan hingga aku terbunuh
Dan kau berbahagia melihatku tersenyum
” Aku tak mau jika Tuhan tahu bahwa kau telah membunuhku sebab kau akan berdosa nantinya” Kataku. 

Kini aku lebih memilih bersamamu dengan kaki pincang, tangan lemah, mulut kaku, dan hati mati
Aku berbahagia dengan itu semua sebab aku tak punya kaki lagi untuk pergi, tangan untuk memukul, mulut untuk berkata kasar dan hati yang benci. 
Ku ingin mengakhiri perpisahan kita
Dengan seorang anak laki-laki dan perempuan.