Pemuda dan Sepiring Makanan dari Tuhan

Seorang mahasiswa yang disebut semester tua namun dalam perspektifnya hanya sedang jatuh cinta belajar ilmu jauh sepanjang semampunya.

Di senja tadi ia bangun dari tidur yang tak fana. Detak kempis perutnya lebih cepat dibanding detak jam dinding rumah. Tangan yang pucat gemetar tanda ia sedang lapar. Ia tahu ini bukan sedang jatuh cinta. Tapi hanya jutaan sel-sel memanggil dan lemah karena tak menemukan pasangan hidupnya; makanan apa saja, agar sel dan pujaan hati menyatu menjadi sebuah daya.

Di setengah sadar ia dengan kekuatan seadanya berkata pada seorang kawan sambil bangkit “Sahabat, ayo kita shalat di Masjid. Kita sudah terlambat menjemput kereta Ashar sebelum lelap senja”.

Di tengah altar penyembahan pada Tuhannya, diangkat kedua tangan tanda penyerahan diri pada Tuhan Raya. Altar penyembahan saat ia sedang bangun mengangkat kedua tangan; mengangkat lebarkan sayap untuk menemui Tuhan, suara sendok mendecak piring kaca. Ia tahu itu seorang remaja masjid yang sedang lahap menyantap makan siang.

Pusat kesadaran menjadi buram sebab musik yang bersuara memecah hening yang sedang menjadi sirna. Lenyap di saat tangan yang sedang kuat tenaga mendekap agar getar tak mengganggu rentetan ritus do’a. Pemuda penuh sederhana itu berdo’a “Ya Allah jangan palingkan hatiku untuk mendengar dan membayangkan makanan bah suara gendang perang yang sedang menggodaku, aku lebih memilih-Mu. Jika do’aku masih penuh dusta debu, maka bersihkanlah do’a dan niatku pada-Mu”.

Setelah shalat ia kembali pada gubuk peraduan sederhananya di saat senja telah lelap hilang, gerak langkah kakinya berjalan agak sempoyong ditegar-tegarkan. Ia menuju sebuah singgasana yang disebut rumah “Kos”, masyarakat melabelinya.

Angin malam bersiul-siul ditambah perutnya juga membalas siulan dengan nada ciri khasnya sendiri. Di tengah ia merenung, seorang Yunda mengetuk pintu kamar dan berkata di tengah berisik siulan angin malam.

“Kakanda, kebetulan ada kiriman dari kampung tercinta. Ini terlalu banyak bagi saya. Silakan Kanda ambil sebahagian makanannya”.

Seorang anak muda tadi tahu itu dari Tuhannya. Ia makan penuh lahap, selahap remaja masjid sebelum petang menghabiskan makanan sesaat ia berada di tengah shalatnya. Ia paham, Tuhan sedang menunaikan janji-Nya, menghilangkan kembang kempis perut dan gemetar tangannya.