Kelam yang Tersandung

Melihat ke bawah, kau dapatkan yang kau pijak. Melihat ke atas, kau dapatkan yang menaungimu. Melihat ke belakang, kau dapatkan yang telah kau lalui. Melihat ke depan, kau dapatkan “inilah seharusnya aku”

Di penghujung Maret yang gelap ini Mushap termenung. Memikirkan kabar Juinanya di seberang pulau sana. April akan tiba tetapi ia belum menemukan setitik pencerahan. Terlalu sayang ternyata kadang menjadi terlalu sakit, itulah yang ia pikirkan. Menurut Mushap, Maret ini terlalu enggan meninggalkannya. Lihat saja gelap kelam malam ini entah karena mengerti perasaannya atau hanya ingin mengolok-oloknya. 

“Mushap, ayo masuk nak!”

Julaeha, Ibu Mushap memanggil anak semata wayangnya. Sebagai seorang janda tua Julaeha sangat mengerti kelamnya perasaan putranya itu, tapi apa boleh buat Julaeha tidak memiliki kuasa untuk mengatur takdir. Mushap bergeming, memasuki pondok tempatnya mengenal pahit manisnya hidup di dunia.

“Bu, kenapa Juina jarang menelepon?” Keluhan Mushap pada ibunya yang sedang memasak bau peapi, masakan ikan dengan campuran asam mangga, bawang Mandar, kunyit, dan minyak kelapa kurang lebih begitu. Bau peapi sendiri merupakan makanan khas suku Mandar, suku Julaeha.

“Mungkin sibuk, kau tahu bagaimana pekerjaan seorang dokter ‘kan? Apalagi kerja di Jawa” Jawab Julaeha setelah mencicipi masakannya.

“Apa dia benar-benar mau sama saya?”

“Berdoa saja. Kalau dia dalle’ mu, tidak akan ke mana”

Mushap menghela napas kasar, kata seperti dalle’ (rejeki) dan toto’ (takdir) yang sering digunakan orang tua di Sulawesi itu seringkali mengganggunya. Bagaimana kalau Juina bukan dalle’nya? Bagaimana kalau Juina bukan toto’nya? Siapa yang bisa menjawab pertanyaan itu? Tentu saja waktu.

Makan malam dengan nasi panas ditemani bau peapi buatan Julaeha bisa membuat Mushap sedikit tenang. Mushap mengambil ponsel kecil yang tidak mempunyai kamera itu dari saku celananya. Mencari kontak Juina di sana dan langsung meneleponnya.

“Assalamualaikum, Juniku” Juni, panggilan sayang dari Mushap untuk Juina.

“Waalaikumsalam, kak.” Kau pernah mendengar suara bidadari? Bagi Mushap cukup mendengar suara Juina saja itu sudah sangat indah bak bidadari mungkin.

“Dek, maafkan saya karena belum bisa ke Cibubur bulan ini. Ibu sendiri di sini jadi untuk sementara harus saya temani sampai saudara sepupu saya kembali ke sini. Besok sudah April, doakan saja April ini saya bisa ke Cibubur.”

“Iya kak, saya mengerti. Andai saya punya libur lebih, alangkah baiknya kalau saya yang sesekali berkunjung ke Mamuju. Tapi jangankan ke Mamuju untuk saat ini, memberi kabar saya bahkan tidak sempat. Saya juga penasaran sama Pulau Karampuang yang pernah Kakak ceritakan, hehe.” Di balik telepon Mushap tersenyum simpul mendengar ucapan Juina yang manis menurutnya.

“Tidak apa-apa, asalkan sempatkan istirahat dan makan. Nanti, lain kali kalau berjodoh saya akan bawa ke Pulau Karampuang” Perkataan adalah doa, dan baru saja Mushap berdoa agar merka berjodoh, sipadalle’ sipatoto’.

“Iya kak. Kalau begitu saya tutup dulu, ada pasien. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam, dek”

Setelah menyimpan ponselnya ke dalam saku, Mushap melirik arlojinya. Dua jam lagi April akan datang. Hari baru akan tiba. Julaeha sendiri sudah menyatu dengan damainya lelap tanpa peduli ada April yang akan membawa warna baru.

Gigitan angin malam memaksa Mushap melihat ke depan, bukan ke belakang tempat kenangan kelamnya tumbuh. Tetapi Mushap tetap bingung, pusing, dan takut. Kenangan kelamnya atau lebih pantas disebut rahasia terus saja meneror dan mengganggu rencana hidup dengan Juina yang telah ia rancang. Andai saja ia bisa merayap ke masa lalu dan menghapus kelamnya. Sayangnya, itu cuma andaian.

Mushap benar-benar mencintai Juina, tidak ada rasa malu sedikit pun hanya karena ia seorang petani yang mencintai seorang dokter. Menurutnya selama saling mencintai dan mau memulai bersama-sama semuanya akan lancar. Ia tidak malu jika anaknya nanti mengatakan “Ayahku seorang petani dan Ibuku seorang dokter.”

Tapi, rahasia kelamnya ini tidak boleh terdengar oleh Juina apalagi kedua orang tua Juina yang akan menjadi mertuanya. Kunci masa depannya hanya itu.  Sebenarnya Mushap memiliki banyak pilihan ditangannya. Tapi diantara pilihan itu hanya satu yang menjamin kebahagiaannya. Lantas, pantaskah itu disebut pilihan?

“Kalau toto’, ya bagus”

Mushap mengumpat halus. Sangat kelihatan, bukan ia yang sedang bermain dengan takdir. Tapi takdir yang bermain dengannya. Untuk terakhir kalinya di bulan Maret ia melirik arloji lamanya, semenit lagi satu April. Mushap berjalan masuk ke dalam kamarnya, memperbaiki posisi bantal di atas kasurnya. Ia berniat tidur sekarang, direbahkanlah tubuhnya di atas kasur. 

“Apa yang bisa diharapkan dari seorang petani berumur duapuluh delapan tahun sepertiku? Duda lagi!”

Kalimat penutup Maret dan penyambut April dari Mushap sebelum ia ikut Julaeha menjelajahi pulau kapuk. Sementara kelamnya ia biarkan tersandung.