Kisahku dan Harap Terhadapnya.

Beberapa kisah harus di paksa berakhir sebelum waktunya. Pernah dengar kalimat ini? Iya sering.

Entah sebab kita yang ingin mengakhirinya atau sebab keadaan yang memaksa untuk mengakhirinya. Pada beberapa keadaan, kita harus mampu merelakan. Sanggup atau tidak. Mau atau tidak. Merelakan dia yang hadirnya telah memporak-porandakan hatimu adalah suatu keharusan.

Merelakan sesuatu yang memang di ciptakan bukan untuk kita memang tidak pernah mudah. Namun, aku tidak ingin di kendalikan oleh rasaku sendiri. Nalar ku pun harus paham, bahwa bukan hanya aku saja yang sedang ia inginkan. Bukan hanya aku saja yang sedang ia perjuangkan.

Ada kalanya seorang pria harus paham, bahwa tidak ada seorang wanita pun yang ingin dijadikan pilihan. Seorang wanita selalu ingin dijadikan prioritas.

Kisah kemarin mengajari ku untuk lebih banyak bersyukur. Bersyukur perihal apa yang ku miliki saat ini. Perihal bagaimana menjaga apa yang telah dititipkan.

Aku ingin ini adalah yang terakhir. Terakhir kali aku merasakan kecewa yang teramat dalam. Merasakan sakitnya dilukai.

Semua perasaan yang kurasakan, ku harap itu adalah yang terakhir kali. Hari ini dan seterusnya ku harap takkan ada manusia berwujud laki-laki yang menawarkan sebuah janji yang akan ia ingkari pada akhirnya.

Kamu tidaklah salah seutuhnya. Sebab, aku yang terlalu mudah percaya perihal janji dan komitmen yang kamu bicarakan. Tidak apa, sebab dari mu aku belajar kuat.

Tetaplah berbahagia.

Terima kasih atas segala tawa yang telah tercipta. Meski harus ada hati yang terluka. Aku mensyukuri segalanya.

Mari sama-sama berbahagia, meski harus di bahagiakan dengan orang yang berbeda pada akhirnya.