Menuju Kaffah

Adalah sebuah kehormatan, menjadi mahluk yang proses penciptaannya mendapatkan pembelaan dan penghargaan dari Tuhan. Konon pada mulanya bangsa Malaikat protes akan suatu rencana Tuhan hendak menciptakan makhluk baru bernama “Manusia”. Tapi Tuhan sendirilah yang memberikan penjelasan dan pembelaan akan nilai keberadaan suatu makhluk yang baru ini, terhadap kemungkinan-kemungkinan apa yang akan diperbuatnya di Bumi. Selain itu, Tuhan pun berfirman yang diabadikan dalam kitab suci, bahwa makhluk yang baru ini adalah ciptaan yang paling sempurna, paripurna, yang sangat istimewa, karenanya tidak hiperbola ketika dikatakan bahwa Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mendapatkan kehormatan paripurna dari Tuhan.

Namun, di sisi lain Tuhan pun berfirman, bahwa makhluk ini suatu ketika bisa saja menjadi ciptaan paling hina di mata Tuhan. Hal ini seakan kontradiktif dengan firmanNya yang lain, akan tetapi tidak arif ketika serta merta mengalamatkan protes kepada Tuhan. Firman ini seakan menjadi kata kunci atau kode yang harus dipahami dan menjadi ultimatum untuk membuat manusia terus berhati-hati terhadap sikap dan perilaku yang telah dilakukan, sekarang dan di masa yang akan dating karena hal itu dapat mengantarkan pada dua kedudukan yang amat berbeda, istimewa atau hina.

Keduanya adalah kemutlakan dan keduanya telah dikabarkan. Mungkin semua manusia telah hafal betul sejarah penciptaannya namun tak sedikit pula yang melupakan. Walhasil terkadang menghadirkan kebingungan tersendiri yang menjelma menjadi untaian pertanyaan. Kenapa? Untuk apa? Apa yang harus dilakukan? Bagaimana?.

Mungkin salah satu jawaban yang tepat untuk diberikan adalah menjadikan diri sebagai ciptaan Tuhan yang bermanfaat. Sebenarnya sudah menjadi garis takdir Tuhan bahwa semua ciptaannya dihadirkan untuk menebar kebermanfaatan, akan tetapi kadang mata menjadi buta dan hati menjadi kaku untuk menyadari itu. Persoalannya sederhana saja, apakah manusia bernama “kita” ini mau menjadi “manfaat” atau selainnya. Menjadi yang selainnya, cukup ditafsirkan sendiri

Kadang tak disadari sejatinya setiap manusia memiliki potensi untuk bermanfaat, walaupun terlihat kecil dan sederhana. Tak mengapa, manfaat itu tak selalu ditafsirkan sebagai sesuatu yang besar. Kecil dan sederhana pun bagian darinya. Menjadi manusia yang bermanfaat mungkin bisa dikatakan sebagai suatu jalan menuju Kaffah (kesempurnaan peran). Pikiran mana yang akan menyangkal, dan hati mana yang akan menolak kehadiran manusia-manusia “bermanfaat” di sekelilingnya? Bahkan makhluk selain manusia pun akan sangat berterima kasih terhadapnya. Jadi poinnya adalah, jalan menuju Kaffah (kesempurnaan peran) dapat ditempuh dengan menebar kebermanfaatan. Manfaat kepada orang lain (semua orang- yang terkasih maupun tidak), makhluk lain dan utamanya diri sendiri.

Selamat berjalan menuju Kaffah