Tahun Baru, Hujan: Antara Genangan dan Kenangan

Di penghujung tahun 2019 hujan mengguyur sebagian wilayah Nusantara, mengisyaratkan pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan. Ibu pertiwi yang kita singgahi ini dikenal sebagai paru-paru bumi memang hanya memiliki 2 musim saja, berbeda dengan beberapa negara di belahan dunia yang lain.

Berakhirnya Tahun 2019 ditandai dengan kelap-kelip kembang api dan petasan yang menghiasi langit, langitpun ikut bergemuruh, mungkin tanda ia ikut serta dalam perayaan tahun baru kali ini ataukah itu hanya tanda bahwa lapisan ozon di atmosfer semakin menipis akibat radiasi petasan dan global warming dari efek rumah kaca. Entahlah!

Tahun baru kali ini terasa berbeda, pasalnya aku tidak menikmatinya bersama kawan sejawatku seperti biasanya. Kali ini ada yang berbeda, bukan karena tahun baru kali ini diguyur hujan lebat namun resah hati antara kerinduan pada si kumis tipis itu tumpah ruah bersama guyuran hujan. Ada kehangatan yang terasa di antara rinai hujan, mungkin betul sebuah ungkapan bahwa hujan tidak hanya membawa genangan namun juga kenangan.

Hingar-bingar perayaan tahun baru dihiasi rintik rinai hujan berbarengan dengan hasrat kerinduanku yang akhirnya dapat kutunaikan, malam itu kami memilih menyusuri jalan ibu kota menikmati perayaan dengan suka cita. Bergandengan tangan seperti membayangkan kisah cinta romeo dan juliet. Menikmati cinta kasih yang agung seperti kisah Layla-Majnun, berdialog dengan anggun penuh kasih layaknya Zainuddin-Hayati dalam serial tenggelamnya kapal Van der Wick, kami pun bercerita dan ikut bercita-cita menjaga kasih yang agung seperti Habibi-Ainun menjaga kasihnya hingga akhir hayat.

Ahhhh, aku tenggelam begitu dalam menikmati malam itu bersamanya, wanita yang ku sebut si kumis tipis itu membuatku gugur bersama bunga musim semi. Antara sendu dan rindu tidak dapat ku bedakan lagi.

Kecap-kecup pipinya yang merah merona kadang nampak ketika kunai mataku tertuju padanya, sepertinya ia malu terendus tatapanku yang tajam.

Esoknya, di awal tahun 2020 yang penuh dengan resolusi, langit belum saja menampakkan senyum. Ia masih bersedih berlinang air mata. Di kejauhan, si kumis tipis terlihat dengan anggun dan gemulai terguyur hujan, aku mengajaknya berteduh sembari menikmati teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Aku tadahkan jaketku ke tubuhnya agar demam tak mendera dirinya.

Kami berteduh di sebuah warung sederhana berukuran 4×6 meter yang terletak di pinggiran ibu kota. Si pemilik warung itu bernama pak Wahyu. Badannya sedikit tirus, wajahnya sudah termakan usia dan peliknya kehidupan ibu kota. Di saat musim hujan seperti ini, warungnya begitu ramai di sambangi pembeli, ada yang singgah berteduh karena kehujanan ada pula yang hanya menyempatkan mampir untuk meminum segelas kopi lalu melanjutkan aktifitasnya.

Kami masuk ke dalam warung dengan keadaan kuyup lalu memanggil pak Wahyu untuk memesan 2 gelas teh hangat. Tak selang beberapa lama teh yang kami pesanpun datang. Ia begitu menikmati kehangatan yang diberikan teh itu padanya, di sela-sela kami menikmati seduhan teh itu, si kumis tipis membuka dialog.

”Sepertinya ibu kota dan sekitarnya akan tergenang banjir lagi” katanya.

Yah seperti yang kita tahu di musim penghujan seperti ini banjir bagi ibu kota adalah oleh-oleh wajib tiap tahunnya.

Genangan hujan membawa kenangan, yaahh kenangan atas masa lalu, bukan hanya soal dia yang pernah tersemai menabuh rindu pada senjakala namun kenangan atas kisah bahwa banjir tidak pernah terlupakan bagi warga ibu kota. Ia masih tertanam dalam benak sebagai masalah yang tidak pernah terselesaikan hingga kini, ia memang masa lalu namun ia akan kembali mengenang masa itu, masa di mana yang memimpin ibu kota adalah ia yang hari ini dianggap sebagai masa lalu tapi ia ternyata tidak terbawa arus genangan, karena ia masih membuat genangan meski dengan orang yang berbeda namun masalahnya tetap sama.

Kenangan itu begitu menghantui warga ibu kota, pasalnya volume air hujan tiap tahunnya begitu besar dan tidak bisa ditampung hingga akhirnya meluap bagai rindu yang tertahan begitu lama.

Si kumis tipis mengkerutkan dahinya seolah berfikir, tiba-tiba bibirnya menyergap seraya berkata ”Wajar saja jika ibu kota selalu banjir di musim penghujan, itu di karenakan pengelolaan dan penataan ibu kota tidak di barengi dengan penataan lingkungan yang baik. Tidak adanya wilayah serapan air hujan mengakibatkan air hujan yang jatuh tak tau harus kemana ia berlabuh, pilihannya adalah ia berlabuh di jalan atau pemukiman.

Banjir adalah bias dari pembangunan gedung-gedung mewah, jalan-jalan beton, dan drainase yang menggunakan bahan baku semen. Pembangunan yang tidak memikirkan dampak lingkungan mengakibatkan air kiriman dari daerah sekitar ibu kota tak dapat terserap dengan maksimal ke dalam tanah, lain lagi dengan kanal-kanal di daerah ibu kota yang juga ikut meluap. Resolusi Tahun 2020 lebih bagusnya adalah mari melakukan pembangunan dengan tdk melupakan dampak lingkungan melalui pembebasan lahan untuk penyediaan wilayah resapan air hujan” tandasnya.

Malam itu begitu syahdu, wangi semerbak terseruak di antara helai rambutnya yang merasuk hingga sukmaku. Aku terbangun dalam lamunan romansa malam itu, ternyata langit telah tergenggam gulita, hujan yang mengguyur telah terhenti dan menuai sejuk. Kami bergegas untuk berkemas-kemas lalu kembali ke peraduan untuk sekadar merebahkan badan yang lelah sembari menabuh rindu yang belum usai hingga esok ketika hujan tak lagi di anggap sebagai bencana namun rahmat bagi semua makhluk yang tak hanya berkisah soal genangan dan kenangan namun juga berkisah soal cinta Kasih Tuhan yang terwujud dalam sejuk ketika rintiknya jatuh ke bumi.