Revolusi Destruksi Sekian Titik Nol

Manusia seakan terperangah dengan berbagai perkembangan dunia saat ini. Khususnya dalam hal kemajuan teknologi. Berbagai macam kemudahan dan kepraktisan hidup yang ditawarkan, yang serba cepat dan instan. Benda yang awalnya mungkin tak ada artinya. Terbuat dari batangan-batangan besi, atau mungkin beberapa bagian almunium, atau benda padat lainnya, atau mungkin saja dari suatu benda yang lain, daripada proses pembuatan suatu teknologi tersebut. Tidak lebih dari sekadar puing-puing sampah yang berserakan.

Lalu dikonstruksi menyerupai manusia, baik dari segi bentuk maupun tingkah laku, sehingga membuat manusia terkagum-kagum. Lalu, apa yang membuat benda tersebut, yang mungkin bahan dasarnya saja tidak lebih dari sekadar sampah. Sehingga begitu sangat berarti bagi manusia sekarang ini. Tentu bagi penikmat wacana Revolusi Industri 4.0 sudah tidak asing lagi tentunya dengan istilah Artificial Intelligence atau disingkat dengan AI.

Sebuah satuan sistem dalam suatu karya teknologi (Robotik, Komputer, Android, dsb) yang berperan dalam merespon data-data eksternal, lalu menafisirkannya. Hasil daripada penafsiran tersebut, kemudian bertransisi menjadi program instruksi ke dalam internal sistem, hingga menghasilkan suatu kinerja yang realistis dan mampu menyesuaikan dengan keadaan dan permintaan manusia.

Singkatnya jika manusia memiliki suatu sistem syaraf, yang berfungsi secara alamiah, terdiri dari susunan sel-sel yang kompleks. Guna merespon suatu keadaan di luar dirinya dan menghasilkan sebuah tindakan secara fisik dan refleks. Seperti berbicara, berjalan, berlari, menganalisis, dan membuat sesuatu yang dikehendaki. Begitupun AI, perannya hampir sama dengan sistem syaraf manusia. Meskipun begitu adanya AI, tapi belum mampu menyamai sistem kinerja syaraf yang begitu autentik dimiliki oleh manusia, hasil mahakarya dari sang Maha Pencipta.

Sebagai manusia, mungkin saja kita bisa berbangga atau paling tidak, menikmati hasil peradaban ilmu pengetahuan. Ironisnya, perkermbangan ilmu pengetahuan manusia yang kian hari kian berkembang. Tanpa disadari berbanding lurus dengan terdegradasinya peradaban manusia itu sendiri. Artinya karya-karya teknologi apapun bentuknya, fungsi dan jenis kecanggihannya. Membuat manusia semakin cinta terhadap teknologi yang dimilikinya. Namun kian waktu turut mengabaikan cinta dan moralitas terhadap sesama manusia itu sendiri.

Bisa kita amati dan tidak perlu jauh-jauh mengamati perkembangan teknologi super cerdas lewat negara maju. Salah satunya alat komunikasi, yang saat ini sedang terus berevolusi dikenal sebagai android. Nampaknya begitu sangat mencuri perhatian dan hati masyarakat Indonesia. Alat komunikasi/Android saat ini, Tidak saja berfungsi sebagai alat komunikasi khsusus. Bahkan yang membuatnya semakin menarik dan makin banyak dimiliki dan digandrungi rata-rata oleh kawula muda. Karena berbagai sajian fiturnya yang sangat mengasyikkan, bahkan lebih asyik daripada berinteraksi secara natural terhadap manusia.

Di sini saya tidak akan menjelaskan lebih detail, bagaimana kecanggihan handphone android yang saat ini pembaca sedang gunakan, saya rasa kita semua sudah bisa merasakan keasyikan yang saya maksud. Bahkan pembaca bisa berjumpa dengan tulisan saya saat ini dan di hari ini, berkat jasa android pembaca, tanpa pembaca harus tongkrongin saya di kamar berjam-jam membuat tulisan ini.

Kecanggihan, keasyikan dan keberagaman fungsi, yang disajikan oleh kemajuan teknologi boleh-boleh saja dinikmati oleh manusia. Akan tetapi, seiring perkembangan dan kemajuan bermacam aspek teknologi yang juga merambah ke berbagai sektor kapital dan sosial. Berbekal AI yang dimiliki dan diinput ke dalam sebuah sistem suatu teknologi hasil buatan manusia.

Di satu sisi, individu tertentu di permukaan bumi ini mungkin merasa telah berjasa menciptakan suatu kontribusi bagi kemudahan hidup manusia. Namun di sisi lain yang mungkin tidak disadari secara holistik dan filosofis oleh mayoritas manusia sebagai penikmat teknologi cerdas bahwa di balik proses pembuatannya (teknologi) yang super canggih, rasanya manusia perlahan sedang mengagendakan pemusnahan peradabannya sendiri.

Struktur peradaban manusia turut menjadi kacau, strata kelas kaya dan miskin semakin tegas yang terkadang ditandai dengan kuantitas pengoleksian alat teknologi dan menjadi salah satu variabel penentu kualitas strata sosial seseorang. Fitnah makin massif memutus rantai-rantai interaksi. Membuat yang dekat akan menjauh dan yang jauh akan sirna. Hingga perbudakan manusia dengan gaya modern juga sedang beratraksi, nampak dari totalitas para masyarakat saat ini.

Demi kebutuhan konten serta obsesi likers di media sosial, berdasarkan request hiburan yang sangat tidak manusiawi oleh sejumlah netizen. Diri seseorangpun menjadi bahan eksploitasi hiburan, layaknya fenomena sirkus. Netizen seolah sebagai pawangnya yang membuat konten, dan manusia seolah menjadi hewannya yang siap melakukan apa saja demi menghibur netizen dengan sebuah aksi konyol.

Dalam ranah industri, begitu banyak kita dapati baik dengan melakukan pengamatan secara langsung atau melalui sumber informasi lainnya. Bahwa pengangguran kian merajalela di setiap negara. Motifnyapun bermacam-macam. Ada yang dipecat dikarenakan suatu industri merasa over SDM jika sudah mempunyai mesin produksi yang berbasis robotik. Ada yang sudah bertahun-tahun menganggur, namun sampai hari ini pekerjaan belum saja memihak terhadap mereka yang belum tahu bagaimana cara berinteraksi dengan perkembangan teknologi.

Dua patologi sederhana di atas, sampai di sini apakah kita masih yakin, bahwa manusia sejatinya sedang menuju revolusi industri yang membawa manusia kepada suatu titik klimaks peradaban ataukah malah sedang berevolusi menuju zona destruksi kemanusiaan yang teramat mengerikan.

Wacana revolusi industri beberapa dekade terakhir, terbilang cukup marak diperbincangkan. Mulai dari kalangan akademisi, pemuda, masyarakat kota bahkan desa. Sekalipun mungkin belum paham arti dan susbtansi daripada revolusi industri tersebut, namun setidaknya mereka sudah mengenal istilahnya. Sebagai tanda mereka adalah bagian daripada suatu perubahan dunia.

Revolusi industri kemudian terlahir dengan berbagai tahapan. Mulai dari 1.0, 2.0, 3.0, 4.0 bahkan yang sedang menjadi proses transisi wacana revolusi industri saat ini sedang menuju ke 5.0. Entah apa arti semua itu yang pastinya jika kita ingin membaca beberapa literatur yang mengulas jejak-jejak angka revolusi industri tersebut, hanya sekadar tanda untuk mengidentifikasi proses perkembangan sebuah alat produksi. Yang secara historis, memang memuat banyak sejarah perkembangan praksis kehidupan manusia dari segala aspek.

Namun di balik itu juga terdapat kekejaman-kekejaman yang teramat mengerikan di balik 1.0 hingga 4.0. inilah yang kemudian menjadi salah satu agenda “kutukan” dalam wacana postmodernis. Jika sebuah teknologi, hasil daripada ekstraksi ilmu pengetahuan menjamin keberlangsungan hidup manusia. Tanpa mencerabut autentisitasnya sebagai manusia yang menjunjung tingga nilai-nilai sosial yang terbebas dari eksploitasi. Tidak ada salahnya untuk terus dikembangkan.

Namun kemudian sebaliknya, jika itu terjadi, lebih baik ditiadakan saja kemajuan itu dan biarkan manusia berkembang secara natural. Sebagaimana dalam teori primitif Jean Jacques Rousseau yang menghendaki manusia untuk berkolaborasi dengan alam secara harmonis dalam membangun kapasitas diri dan peradabannya.