Wujud Laki-laki Biasa (1)

Agustus, 2018 tahun bersejarah di tanah kelahiran untuk pertama kalinya dia menghentakkan kaki di tempat ini. Seragam hitam putih seolah berteriak, rasa kian berlapis hingga melebur tepat pada gerbang pertama. Universitas Negeri Makassar kampus orange yang memancarkan seribu lentera yang akan membuat wajahmu bersenam bak penikmat kopi di pagi hari. Lelap tidur membuatnya bermimpi hingga terbangun di hadapan kampus ungu. Kenalkan dia adalah gadis desa yang menerima takdir sebagai mahasiswa.

“Assalamualaikum..” ujarnya sambil mencium tangan laki-laki itu.

“Waalaikumussalam..”.

Dia pun melangkah memasuki jalan yang begitu asing baginya. Suara semerbak penghuninya bagaikan sambutan hangat berirarama kemayu. Selamat datang di Fakultas Bahasa dan Sastra. Sembari membuka gawai untuk memberikan kode kepada salah satu teman. Hari ini merupakan hari yang sakral yaitu, hari Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB).

Dia dan segenap mahasiswa begitu bahagia menyaksikan kegiatan penyambutan yang diawali oleh dekan. Kemudian, disusul oleh dosen-dosen di fakultas tersebut. Saat itu dia telah menanamkan cita-cita kuat ingin menjadi seorang dosen. Proses penyambutan ini sesekali menyelipkan persembahan yang mengundang gelak tawa. Ia… namanya juga mahasiswa baru hatinya mudah sekali luluh apalagi dengan sesuatu yang baru.

“Eh..ayo deh kita foto dulu”. Ujarnya dengan dialek Makassar.

“Ayo..ulang dulu satu kalipi..”.

Sembari melakukan foto bersama sambil bercengkrama ria tak terasa kegiatan PMB telah usai, dia dan kawan-kawan segera bergegas mengambil tempat duduk strategis untuk makan siang. Di tempat ini dia banyak belajar dengan alam dan penghuninya. Banyak kalangan dari berbagai ras, budaya, dan agama. Tapi, perbedaan itu sama sekali tak membuat mereka menaruh sekat di antaranya. Di tempat ini juga, dia banyak berkenalan dan memiliki teman baru dari berbagai daerah. Dia pun bertemu dengan salah satu teman SMA yang bernama Andani, meski satu sekolah tapi sekat jurusan membuatnya tidak saling kenal nama pada saat itu.

Setelah momen ini berlalu saatnya melihat informasi pembagian kelas dari berbagai program studi (Prodi). Dia dan kawan-kawan begitu antusias berlari ke sana ke mari untuk mencari daftar namanya. Saat itu dia sudah cemas karena belum menemukan namanya. Sedangkan, sudah diberitakan bahwa dosen Penasehat Akademik akan segera bertemu dengan anak bimbingannya. Berapa kali bolak-balik akhirnya namanya pun ditemukan.

Dia pun segera konsultasi dan saling berkenalan sesama anak bimbingan. Faktanya ini sesuatu yang luar biasa, karena bisa bertemu dengan seorang dosen dan bertatap muka dengannya. Tak terduga sepertinya dia melihat sosok yang dikenal, sosok tersebut tak canggung-canggung dia sapa.

“Namamu siapa?” Ujarnya.

“Hijrah..” sambil tersenyum.

“Oh.. Hijrah Selayar (sambil mengalihkan kode bahasa) hehe maaf mauka tadi menyapa cuma ragu sempat salah orangka”. Sambil tersenyum malu.

“Hehe, iye sama. Takutka juga salah orang”.

Setelah konsul selesai dia pun menuju ke sebuah ruangan DG yaitu ruangan yang sering ditempati mahasiswa Bahasa Indonesia. Di ruangan inilah awal kita bertatap muka dengan teman-teman baru yang akan menemani selama 8 semester. Wajah yang asing dialek yang beragam dan karakter yang bervariasi disatukan dalam satu wadah perkuliahan. Tapi, tak terduga ada hidangan pembuka yang tidak mesti disajikan di awal pertemuan. Salah satu teman kelasnya melakukan pelanggaran adat kampus, kesan pertama pun kepada dosen berputar tanpa haluan.

“Tidak sopan! masih maba tapi sudah seperti ini. Ingat yah! kamu nanti akan bertemu saya di semester selanjutnya!” ujarnya dengan sinis berwibawa.

Hari demi hari dia lalui, proses perkuliahan semakin dia nikmati. Meskipun pada semester awal dia terlalu terkungkung dan belum berbaur dengan alam sang dosen. Salah satu bukti bahagia ketika dia mampu mendapatkan IPK 3,85. Mungkin IPK ini tidak seberapa, tetapi baginya ini merupakan Maps yang akan memandunya pada semester berikutnya.

Kemana saja kaki ini berpijak pasti kita akan menemukan sosok yang setia menemani. Dia telah menemukan sahabat di sini. Mengenang awal terbentuknya jalinan persahabatan yang ditandai tepatnya, di gedung DH pada perkuliahan semester awal. Pada mata kuliah Bahasa Inggris, saat itu dosen sedang menjelaskan eh… lebih tepatnya berkisah.

Belajar Bahasa Inggris mungkin sesuatu yang akan mengasyikan ketika dosen itu bersahabat. Tapi, apalah daya ekspektasi tak seindah realita. Dosen yang mengajar pada saat itu hanya memaparkan kisah indah bersama keluarga dan cucu kesayangannya, yaitu Metyu dan Marvel. Meskipun, pada matkul ini kita hanya mendengarkan kisah tapi dia dan kawan-kawan tetap menghargai dosen tersebut. Kejadian yang tidak pernah dilupakan saat matkul Bahasa Inggris pada materi sub bab kisah yang sama. Spontan dia membuka gawai dan tunduk dengan khusyuk membaca.

“Apa yang kamu lakukan..bawah sini gawaimu? Ujarnya dengan lantang dari depan.

Dia pun kaget dan menengok ke arah depan. Suasana kelas pun” hening cipta” dimulai. Jalannya ke arah depan diiringi denyut kencang tanpa batas.
“Ini bu…!” Sambil menaruh di atas meja.
“Pakkkk……………”.Suara gawai yang dilempar dari atas meja hingga tersungkur lemah tepat di bawah meja salah satu temannya. Dia mengambil gawainya dan diberi izin untuk keluar dari ruangan. Dia pun sontak keluar, air mata pun menjadi saksi bisu perjalanannya ke sebuah masjid bernama Ulil Albab. Tak, ada kata yang mampu keluar kecuali isak tangis. Dia mengaku salah. Tapi, dia juga merasa dosennya kurang benar, sama sekali dia tidak mendengarkan alasan sang mahasiswa sebelum melakukan tindakan ini.

Jadi, saat itu dia membaca Al-Quran, dia juga sadar itu bukanlah waktu yang tepat. Dia juga paham bahwa sang dosen beda pemahaman dengannya wajar jika hal itu terjadi. Tapi, setelah dikonfirmasi dan teman-temannya datang menemuinya sang dosen sama sekali tidak marah dia hanya berkata “apa yang dia lakukan tadi”. Teman-temannya pun berkata “dia sedang membaca Al-Quran Mam” respon dari sang dosen biasa saja.

Meskipun, teman-teman mendorong dia untuk melaporkan kasus ini pada ketua prodi agar dosen tersebut bisa digantikan. Tapi, dia tidak melakukan hal itu. Tidak dapat dipungkiri dia tetaplah dosen, wajar jika sesuatu yang dianggap salah harus mendapat hukuman. Biarlah kisah ini menjadi guru terbaik untuk dia. Kejadian seperti ini sering terjadi, meskipun kasus yang berbeda, bahkan pernah sekali temannya hanya berkedip-kedip dan memegang matanya. Eh malah disuruh keluar. Inilah salah satu problematika rasa yang menjadi kenangan berharga dalam kehidupan kampus.

Usut punya usut ternyata dosen ini telah mengidap penyakit, di mana ingatannya hanya tertuju pada masa lalu. Kalau lirik lagu mengatakan “masa lalu biarlah masa lalu jangan kau ungkit jangan ingatkan aku” tapi bagi dosen ini tidak berlaku. Karena bosan dan menghindari rasa kantuk dia berlima menyusun sebuah singkatan di kertas ada beberapa singkatan yang di tulis tapi, pada umumnya yang terpilih pasti hanya satu.

Ibarat banyak rasa tapi yang akan menemani hanyalah satu, yaitu rasa cinta yang abadi. Dia pun berunding dan memutuskan memilih singkatan UsMarLutFiDa. Dia menyepakati bahwa mulai hari ini itulah nama persahabatan kita. 27 September 2018 itulah hari besejarah pertama bagi UsMarLutFiDa.