Wujud Laki-laki Biasa (2)

UsMarLutFiDa adalah singkatan dari Uswa, Mardiana, Luthfiah, Fika, dan Dani. Dia adalah lima serangkai yang selalu berjalan bersama, makan bersama, seragam yang sama, dan semua kisah yang tak mungkin dijabarkan di hadapanmu. Dia adalah lima serangkai yang mendapat julukan kelelawar dari salah satu seniornya. Lucu tapi menyakitkan!

Saat itu dia selalu bersama apalagi ke tempat ibadah, dia pasti akan mencari satu sama lain. Ketika dia berdiri hendak melakukan salat tiba-tiba kumandang seruannya memalingkan indra pendengarannya hingga bergetar dari jasad turun ke hati. Untuk pertama kalinya seorang wanita penghuni kampus baru merasakan seruan yang luar biasa seperti ini, wajar jika seruan itu menyimpan benih unggul dalam hatinya. Sejak saat itu dia mulai kagum kepada sosok yang tak berwujud. Entahlah, dengan temannya tapi aku yakin mereka pasti juga merasakan benih meski berbeda wujud.

Sekitar semester dua dia dan kawan-kawan memutuskan untuk berhijrah massal dan bergabung pada sebuah organisasi kampus yang berlebel Islam. Di lembaga inilah mereka merasakan hal baru tidak didapatkan di tempat lain. Tanpa dia sadari seolah kedekatannya kepada sang pemilik hati semakin terjalin, bahkan rasa syukurnya kepada-Nya semakin menjadi-jadi.

Rasanya banyak perubahan yang dia alami meskipun di antara mereka ada yang sudah tahu tentang ilmu agama, tapi dengan kelompok ini mereka akan lebih tahu betapa indahnya Islam, terkhusus untuk wanita. Bukan sesuatu yang mudah bagi teman-teman bahkan dia, tapi inilah jalan yang ditakdirkan untuk UsMarLutFiDa.

Amanah dan Kuliah semakin membuatnya sibuk tapi, kedekatannya sesama sahabat tak pernah luluh oleh waktu. Krikil-krikil kecil tak pernah cuti menghalang tapi benteng pertahan pun tak pernah roboh. Ia…karena mereka yakin inilah semilir angin persahabatan.

Dosen yang pernah berkata “Kita akan bertemu pada semester berikutnya”. Perkataan itu telah menjadi nyata. Ia merupakan dosen muda berkarisma yang membuatnya menjadi idola bukan hanya pada kaum hawa tapi, juga kaum adam. Bagaimana tidak! sosoknya begitu tampan ditambah lagi kecerdasan intelektualnya. Tapi, dibalik semua itu ada sebagian mahasiswa yang merasakan getaran lain saat bertatap dengan beliau.

Konon katanya, aura beliau terlalu wow hehe istilah kerennya meticulous perfeksionis. Wajar kalau beliau tergolong tipe dosen VIP bagi kalangan mahasiswa FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra).

Di sisi lain ada sosok yang baru dia kenal, dia adalah teman kampus sekaligus teman Bidik Misi. Saat itu dia melakukan komunikasi lewat pesan media sosial sesekali. Hingga perbincangan singkat itu membuatnya terjemurus menjadi seorang admin dalam grup Whatshapp.

Tujuannya untuk menggantikan admin lama dengan alasan admin itu akan melakukan kegiatan islami beberapa minggu kedepan. Alasannya cukup bisa diterima tapi, beberapa hari berlalu dia merasakan ketidaknyamanan. Dia pun bercerita kepada salah satu sahabatnya yang bernama Uswa tanpa berfikir panjang Uswa pun memberikan pesan singkat pada sosok laki-laki yang berfonem R.

Beberapa hari berlalu masalah ini telah menemukan jejaknya. Penyesalan pun datang. Logikanya bagaimana mungkin sosok penuntut ilmu bisa terjebak dengan iming-iming dakwah, dikembalikan lagi itulah keimanan kadang mudah sekali menurun dengan gejolak hawa nafsu.

Hijrah memang tidak mudah apalagi usia hijrahnya yang masih sebesar biji sawi. Frekuensi keimanan kadang tidak stabil. Kini, aktifitas perkuliahan dan organisasi berjalan dengan semestinya. Beberapa hari kemudian, eh…sosoknya kembali muncul. Konon, hadirnya untuk memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih karena dia telah bersedia menjadi admin pada saat itu. Sempat dia menolak dengan hadiah itu, tapi sosoknya tak berhenti di sini, agar masalah ini selesai akhirnya dia mengirimkan alamat lewat pesan WA, agar hadiah itu disimpan di sana tanpa ada pertemuan.

Tepatnya hari senin dia pun berjalan bersama tiga orang teman kelasnya dari kejauhan dia melihat sosoknya. Dia pun kaget dan memilih untuk ke arah kantin dengan alasan membeli sesuatu tapi, sebenarnya ini hanyalah trik untuk menghindar, dia tahu apa konsekuensi ketika saling bertemu. Ini bukan hanya menimbulkan fitnah bagi dirinya, teman-temannya, tapi juga berdampak pada organisasinya. Sesampai di kelas teman sudah heboh dengan selembar kertas yang bertuliskan namanya.

“Cie-cie dapat hadiah dari pengagum rahasia…”. Ujar teman-teman sambil gombalin.

“Siapa itu, sosok berkaca mata? Masyaa Allah mautami juga dapat hadiah..” ujarnya sambil senyum-senyum.

“Cuma dari teman, ini cuma hadiah biasa kok, sudahlah!” ujarnya dengan tersenyum santai.

Hadiah itu akhirnya dia terima, tapi dia takut karena dia merasa bersalah karena melakukan komunikasi lagi dengannya, tapi sahabatnya sekali lagi menguatkan.

“Terima saja, hargai pemberian seseorang”. Ujarnya sambil berusaha menenangkan dia.

Setelah kejadian itu dia semakin bermuhasabah (Introspeksi) apa yang dia lakukan beberapa hari ini bukanlah sebuah sampel yang baik ditiru. Apalagi, dia salah satu aktivis kampus, dia takut citri diri seorang akhwat (wanita) tercemar hanya karena peristiwa pesan ini. Mungkin pesan ini hanya berisi syiar dakwah tapi apalah jadinya ketika dakwah ini terkontaminasi dengan hawa nafsu. Tidak ada yang bisa mencegah kecuali menghindarinya.

Saat itu dia begitu lega telah melepaskan sesuatu yang tidak mesti dia pertahankan. Berkat nasehat dari teman-teman, murobbiyah (guru), dan orang-orang terdekatnya membuatnya kembali memperbaiki diri dan beranjak dari masa itu.

Beranjak dari semua kisah itu. Masa perkuliahan kembali terjalin baik, amanah dari organisasi kian bertambah, panggilan menjadi pembawa acara semakin menyibukkan dirinya. Dia bersyukur kesibukan ini membuatnya tetap mampu menjadi sosok wanita yang eksis dari tiga dunia, mulai dari dunia kampus, organisasi, dan dunia keluarga.

Betul kata pepatah salah satu penyakit penuntut ilmu yaitu, futur dan cinta sebelum halal. Kini, dia kembali mendapat sentilan rasa dari orang yang berbeda. Suara iqomah telah menjauh bahkan beberapa semester berlalu suaranya kian tak terdengar lagi. Inilah fakta beranjak dari sosok lain merupakan cara terbaik saat ini.

Rasa kagum itu berawal saat seringnya berpapasan tanpa sengaja. Awalnya dia hanya menganggap laki-laki itu terlalu simpel, dengan tas selempangan yang seolah tak berisi, sosoknya begitu identik dengan balutan masker birunya. Sosoknya pun jarang sekali terlihat dengan teman-temannya. Entahlah, hanya dia dan pencipta yang tahu alasannya.

Kamis, tepat pada DG 101 hari itu sedang berlangsung ujian Mid Semester, yang dilakukan secara lisan. Saat semua mahasiswa beradu argumen apakah nama peserta ujian diacak atau berurutan, akhirnya dosen mengambil alih dan memberikan kesempatan pada mahasiswa yang benar-benar siap maju lebih awal.

Tanpa berpikir panjang dia pun mengangkat tangan. Kemudian, dipersilakan maju ke depan bersama 2 orang temannya. Setelah ujian, dosen menyuruhnya untuk melanjutkan bacaan Al-Quran sebagaimana kesepakatan dalam kontrak mata kuliah tersebut.

Begitu tenang dan damai dia melantunkan ayat-Nya, lalu hal tak terduga terjadi. Ada nama yang terkoneksi dalam ayat-Nya. Masyaa Allah…sungguh, ini kejadian yang lagi-lagi membuatnya tersungkur malu di hadapan Rabbnya. Nama itu merujuk pada sosok laki-laki biasa yang berfonem ‘A’ hadir untuk memecahkan celengan rindu lewat aksara surat cinta-Nya.

Ingin rasanya melayang pada saat itu, tapi tak tahu harus melayang kemana. Tiba-tiba…..

“Assalamualaikum…ada kursi yang tidak terpakai?.” Ujarnya.

“Walaikumussalam..iya ada kak” ujar salah salah satu temannya.

“Eh..Itu bukan kakak…” ujar dia sambil menunjuk ke arah kursi di depan.

Pertemuan itu kembali disusul setelah ujian Midnya selesai, yang membedakan hanyalah ruangan. Seolah mimpi baru saja berlalu tapi wujudnya telah menjadi nyata. Tak ada sepatah kata yang mampu terucap selain kata masyaa Allah di dalam hatinya.

Mungkin, ada yang membuat anda bingung darimana lembaran awal dia mengetahui sosok namanya. Lagi-lagi ini takdir sang pemilik hati, sosok nama yang akhir-akhir ini menggemparkan daftar hadir di kelasnya.

Pada saat itu dia sedang mengikuti mata kuliah Apresiasi Puisi namanya sering sekali disebut oleh dosen karena dia tidak pernah mengikuti mata kuliah tersebut. Berawal dari situlah dia menyampaikan pesan lewat WA pada salah satu teman perempuan yang kebetulan satu kelas dengan laki-laki biasa itu. Setelah dikonfirmasi laki-laki itu ternyata salah program kelas, sehingga namanya terdaftar di kelas itu.

Kemudian, informasi ini disampaikan kembali kepada dosennya. Di situlah, awal mula dia tahu bahwa sosok yang dia kagumi ternyata nama yang selama ini menggemparkan dua sisi. Ditambah lagi pesan penegas dari temannya bahwa dia sosok lelaki yang soleh. Keyakinannya untuk mengagumi dalam diam pun menjadi kuat. Wajar jika rasa terhadapnya semakin kuat.

Menurut Ustaz Buya Yahya “cinta yang memiliki alasan itu wajar, yang gak wajar itu kalau cinta yang tak beralasan, karena itu merupakan cinta yang buta“. Semakin hari rasa itu semakin membuatnya jadi dilema. Dia berfikir rasanya terlalu bodoh jika mengagumi seseorang yang sama sekali tidak mengenalnya. “Memendam rasa jauh lebih berat daripada memendam rindu” itu katanya.

Setelah, bercengkrama dengan sang pemilik rasa, dia pun mendapatkan jawaban yang dianggap mujarab. Dia pun melakukan pertemuan dengan seorang sahabatnya.

“Ukhti….mungkin saat ini lebih baik aku melupakannya.” ujar dia.

“Yah, palingan itu cuma dari mulut saja.” ujarnya sambil mengejek manja.

“Aduuh…serius aku mau lupakan dia.” ujar dia dengan nada penekanan.

“Iya…semoga bisa ukhti insyaa Allah .” dengan sentuhan hangat.

Terlalu konyol rasanya jika memendam rasa sendirian. Semenjak kesibukannya menyusun proposal, mengikuti final, amanah organisasi semakin padat, panggilan alam sebuah kegiatan besar kampus tak dapat dicegah, ditambah kegiatan dakwah yang harus dia realisasikan di periode ini membuatnya benar-benar lupa bahwa dia pernah mengaguminya.

Beberapa waktu berlalu sosoknya pun kian tak mucul lagi. Dia pun telah yakin memutuskan untuk tidak mengagumi. Akhir bulan di penghujung tahun merupakan akhir dari rasa. Dia semakin yakin ketika meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik.

Dia yakin ketika rasa ini memang untuknya, yakinlah Allah akan mempersatukan, meski di belahan dunia yang berbeda. Bukankah, jodoh adalah ceriman diri kita. Satu pintanya kepada sang pencipta jangan biarkan rasa ini berlabu pada tempat yang salah.

Saat ini dia fokus untuk belajar, belajar menuntut ilmu, belajar memperbaiki diri, belajar untuk tidak mengagumi, belajar dari masa lalu, dan belajar menunggu sosok yang terjaga di lauh mahfudz. Agar kelak dia benar-benar pantas menyandang predikat wanita soleha bersama wujud solehnya laki-laki biasa.

Insyaallah….

Gowa, 2020