Perang Yang Elok

Akhir-akhir ini, ruang media sosial kita cukup dipenuhi oleh kata “perang”. Mulai dari tewasnya Jenderal Qasem Soleimani, perwira tinggi Angkatan Bersenjata Iran di Bandara Baghdag Irak, hingga konflik di laut Natuna antara Indonesia dengan Cina. Maka muncullah beberapa analisis dan spekulasi, bahwa perang antara AS dan Iran akan segera dimulai dan secara otomatis membuat eskalasi di kawasan Timur Tengah semakin meningkat. Begitu pula spekulasi bahwa bisa saja Indonesia dan Cina terlibat perang, terutama di sekitar perairan Natuna dan Laut Cina Selatan. 

Untuk membuat spekulasi tersebut semakin terlihat nyata, maka dibuatlah beberapa infografis yang membandingkan kekuatan militer antar dua negara yang saling berkonflik. Bahkan untuk kasus Natuna, sebagian publik mendesak agar pemerintah “tidak lembek” dalam menghadapi Cina, bahkan menerjemahkan sikap “tidak lembek” dengan sikap “tidak usah berdiplomasi”, dan langsung tembakkan saja peluru ke kapal-kapal Cina. Tapi persoalannya tidak sesederhana itu, bisa dikatakan bahwa perang adalah kelanjutan dari politik, karena politik adalah yang dinamis dan susah ditebak, maka perang saat diputuskan mesti melewati alur berliku dan situasi yang begitu cair.

Saya tetiba saja, teringat dengan tulisan lawas dari Laksda TNI Soewarso, M.Sc. yang berjudul Tinjauan Masalah Perang (1981), yang mengatakan bahwa perang punya posisi penting dalam gerak sejarah umat manusia. Saya tidak tahu apakah perkataan Laksda Soewarso terilhami oleh Heraclitus, seorang filsuf yang berasal dari Ephesus dan segenerasi dengan Phytagoras. Heraclitus pernah berkata bahwa “perang adalah bapak dari segalanya dan raja dari segalanya”, dan pernah pula berucap “perjuangan adalah keadilan dan segalanya terjadi karena perjuangan dan keniscayaan”.

Saya juga tidak mengetahui pasti apa yang dimaksudkan oleh Heraclitus dengan perkataannya “perang bapak dari segalanya..”?, tapi ini mungkin ada kaitannya dengan pandangan filosofisnya tentang alam semesta, bahwa segala sesutu senantiasa selalu berada dalam situasi yang berubah, atau Heraclitus sebut dengan kata-kata “pantha chorei kai ouden menei”, yang lalu diingat dengan singkatannya saja “pantha rei”, yang arti bebasnya “segala sesuatu mengalir dan tidak ada yang tinggal tetap”.

Mengapa segala sesuatu senantiasa dalam situasi yang berubah dan mengalir (flux)?, karena konon Heraclitus memandang dalam diri segala sesuatu terdapat “pertentangan” (unity of opposite). Dan mungkin bisa saja ini bisa dibenarkan, dalam kasus AS versus Iran misalnya, kita tidak bisa menggambarkan bahwa AS merupakan unit yang homogen dalam dirinya begitu pula dalam diri Iran. Di AS saat ini keputusan Trump untuk memicu perang ditentang oleh politisi demokrat, diprotes oleh warganya sendiri bahkan Trump sendiri sedang sibuk akan kasus Impeachment-nya. Begitu pula dengan Iran, protes yang cukup besar dalam negeri beberapa waktu lalu, inflasi yang tinggi, kenaikan harga BBM dan tentu harga bahan pokok pun ikut naik. Apalagi kawasan Timur Tengah di mana menjadi arena perang AS, Eropa, Iran dan Rusia, karena di sana terdapat sesuatu yang jumlahnya terbatas dan tidak bisa diperbaharui, yakni “minyak bumi”, negara-negara tersebut berlomba untuk menguasai ladang-ladang minyak, karena setengah lebih dari gerak dunia kita digerakkan oleh “bahan bakar fosil”.

Sama pula dengan kasus Indonesia dan Cina. Maka betul anggapan dari beberapa pakar teori perang, yang melihat perang sebagai kelanjutan dari politik, apakah itu politik dalam negeri ataupun politik kawasan. Maka ada benarnya ucapan dalam bahasa Jerman “der kreig ist eine fortsetzung der politik mit andern mitteln“, yang artinya “perang adalah kelanjutan politik dengan cara yang lain”. Bahkan Hands Spier berpendapat bahwa, corak khusus perang yang dilakukan oleh sebuah negara, bergantung pada corak masyarakatnya di masa damai, apakah corak politiknya fasis atau demokratis, apakah ekonominya relatif terbuka pada pasar atau cenderung pada proteksionisme, apakah kebudayaannya heterogen atau homogen.

Terkadang perang bukan hanya soal ideologi, Trotsky pernah berucap “apabila strategi dikembangkan hanya menurut pandangan-pendangan revolusioner muda saja maka hasilnya akan kacau”, dan dibenarkan oleh Laksda Soewarso, karena  baginya ada dua faktor tetap dalam perang yakni “manusia” (segala hal yang berkaitan dengan politik, ekonomi dan kebudayaan) dan “geografi”. Terutama manusia, tak ada perang yang tak melibatkan manusia, secanggih apapun teknologi perang yang kita gunakan. Karena manusia adalah faktor tetap dalam perang, maka derita merupakan faktor tetap yang diikutkan dalam peperangan, senantiasa akan ada yang menderita selama dan setelah perang.

Sang Jenderal yang wafat akibat serangan Drone meninggalkan keluarga, sahabat bahkan loyalis yang menangis karena kematiannya, begitu pula dengan serdadu sekutu yang ditugaskan di front Timteng lalu menjadi korban serangan balasan, mereka punya keluarga dan sahabat yang menangisi dan merindui mereka. Belum lagi warga sipil yang berada disekitar front perang, akan merasa ketakutan dan terancam hidupnya. Bayangkan mereka adalah manusia-manusia yang menjadi korban oleh kebijakan politik-ekonomi negara adidaya, yang mereka sendiri tidak mengetahui asal muasalnya.

Di Eropa tahun 1648, perjanjian Westfalia menghentikan perang Protestan Vs Katolik yang membuat dataran Eropa berbau amis akan darah. Sejak itu, orientasi wilayah dan teritori lebih terarah, dan dibangunlah tertib hukum yang bersenyawa dengan ruang hidup (ordnung und ortung), atau sebuah nomos dalam istilah Carl Smith. Sejak itu perang menjadi semacam duel sebuah un guerre en forme atau “sebuah perang yang elok”. Perang telah bertolak dari pertimbangan yang rasional, bukan lagi religius, perang bukan lagi “perang yang suci”. Lawan tak lagi dianggap sebagai “musuh mutlak”, ia bukan “iblis”, bajingan tengik atau si barbar yang harus dimusnahkan atau ditobatkan. Ia tetap manusia seperti “kita”.

“Perang yang elok” oleh Carl Smith, ada pentingnya, bukan karena perang itu tidak brutal. Ia memujikannya sebagai perang yang bermula ketika negara berpisah dari dalil-dalil agama; perang itu bukan perang suci. Musuh bukan makhluk terkutuk dan ini perselisihan antar umat manusia. Tapi pada 11 September yang silam saat sepasang gedung World Trade Center NY dihantam dua pesawat terbang dan membunuh ribuan orang. Bush pun menyiapkan perang yang tak sejalan dengan tesis perang Carl Smith. Bush mendeklarasikan “perang melawan terorisme”, orang Amerika marah, para cendekiawan mereka memekikkan “perang yang adil”, sejenis perang pembalasan dari pihak yang merasa tak bersalah, yang bersih dan ber-Tuhan. Label moral pun kembali digunakan semisal “perang salib” dan sang musuh adalah “setan”.

Dalam semangat “perang yang adil” ala Taliban itulah, lalu Amerika merasa untuk menganggap siapa saja yang dimusuhinya bukan manusia, termasuk menganeksasi Irak yang sebenarnya tak sedang membahayakan dirinya. Tapi menurut saya “perang yang adil” ala Bush separuhnya adalah dusta belaka, seperti yang dikatakan oleh William H. Overholt, bahwa saat ini konflik kawasan tidak terlalu dipicu oleh perbedaan ideologi, tapi lebih pada perebutan sumber daya ekonomi, dan ini senada dengan yang dikatakan oleh Edward Luttark dalam From Geopolitics to Geoeconomics: Logic of Conflict, Grammar of Commerce. Maka mungkin begitu pula, ekspansi fasilitas militer AS di mana-mana tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonominya, tapi cukuplah AS yang melakukan dusta tersebut.