PEMBEBASAN ISLAM SEBELUM ISLAM PEMBEBASAN

Meminjam terminologi Agus Mustofa, kita sekarang sedang beramai-ramai membonsai Islam, mengkerdilkannya sebagai agama tanpa jiwa karena terlanjur dikurung dalam pemahaman yang sempit sebatas agama simbolik dan ritual semata, sehingga Islam fungsional-universal tenggelam oleh lautan emosi beragama yang hanya menekankan doktrin keikhlasan dan kesabaran sementara lupa dengan cita-cita keadilan dan kesetaraan seperti kita mengamini sebagian ajaran dan membelakangi sebagian yang lain, sedangkan beberapa kelompok lainnya malah menjualbelikan agama dengan kemewahan jubah dunia apakah kekayaan ataukah jabatan bahkan sebagian lagi menjadikan Islam sebagai tameng untuk memproteksi dan merasionalisasi kejahatannya.

Yang demikian itu dapat kita pahami ketika kita membuka kembali dokumen sejarah Islam di tanah air, sejak masa awal Islam masuk di nusantara kerajaan-kerajaan Hindu Budha telah lama membangun basis kekuatan politik dan ekonomi di pusat-pusat kota yang berimplikasi pada tersingkirkan Islam ke pelosok-pelosok desa. Dalam waktu yang cukup lama Islam tinggal sebagai agama para petani dengan corak pemikiran yang statis sehingga kehilangan sifat kosmopolitannya.

Ketika masyarakat agraris berkembang dan menjelma menjadi masyarakat yang lebih maju, proses urbanisasi meningkat pesat dan berbagai torehan kemajuan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan telah dicapai, dalam kondisi seperti itu sangat disayangkan saat kita melihat sebagian besar umat masih terpasung dalam penjara keberagamaan yang picik ditambah kemandekan dan kelesuan berpikir serta berbuat untuk masa depan, maka tak heran umat kini diperhadapkan dengan ketidakjelasan masa depan.

Agama manapun yang tidak bisa menyelesaikan masalah tidak akan punya masa depan sebab agama itu akan terus diuji kapasitas serta relevansinya dengan pengalaman-pengalaman hidup manusia. Islam sebagai agama mayoritas muslim ternyata belum mampu menjadi katalisator pencerahan yang mampu mengelola berbagai tipologi persoalan yang ada, karenanya kita masih menjadi kelompok mayoritas yang termarjinalkan.

Ternyata soalnya bukan pada berapa papulasi umat yang kita punya, jumlah itu hanya akan sia-sia ketika ajaran dan nilai-nilai Islam itu terkulai tak berdaya terkurung dalam emosi tanpa ada misi yang diformulasi menjadi konsepsi bernilai. Padahal kalau ingin sedikit jenaka, elit santri kita saat ini banyak yang sedang mengisi gerbong kekuasaan, tapi mengapa demokrasi malah disandera dan keadilan terpenjara, apa Islam memang tak berdaya di hadapan mereka yang berkuasa? ataukah idealisme kita yang tidak pernah berumur panjang jika berhadapan dengan tawaran penguasa?

Kita ada pada posisi dan kondisi yang masih terus sama dengan dinasti-dinasti Arab Muslim yang ada di Afrika dan Spanyol, kita semua tenggelam dan hanyut dalam kemewahan dan kebejatan moral dengan membelakangi nilai-nilai luhur Islam yang berakhir pada kehancuran, ini semua menjadi dosa kolektif kita dan menjadi beban sejarah kita, karenanya kita patut membuka mata serta memperluas horizon pemahaman kita bahwa kita membutuhkan Islam sebagai sebuah sistem nilai universal yang diterima secara umum.

Kita harus banyak belajar dari rekaman sejarah masa lampau, ketika Islam mampu hadir sebagai agama fungsional menjadi kekuatan perekat serta kekuatan integratif bangsa. Kita belajar dari kelapangan hati para pendiri bangsa dari kelompok nasionalis Islam bahwa yang lebih penting dari tujuh penggal kata dalam pembukaan UUD 1945 adalah kesatuan bangsa dan yang lebih penting dari pendirian negara Islam adalah penyemaian nilai universal Islam dalam negara, sehingga dalam bernegara kita menjunjung tinggi nilai-nilai ketulusan, kejujuran, keadilan, toleransi, dan seluruh etika luhur itu menjadi acuan dalam bertindak setiap saat, di manapun dan kapanpun, itulah maksud dari konsep dasar Islam “Solihun li kulli zaman wa makan” senantiasa bisa hadir sebagai solusi bagi persoalan apapun kapanpun dan di manapun, hanya dengan itu semua Islam akan tetap mampu menjawab berbagai pengalaman-pengalaman kemanusiaan yang terus akan berkembang dari masa ke masa.

Saat ini kesetiaan Islam sedang dipertaruhkan dalam membela keberlangsungan iklim demokrasi yang terus dirongrong oleh para autokrat ekstrem berideologi otoritarianisme. Seperti juga Amerika hari ini yang berdiri di ambang kehancuran demokrasi sejak terpilihnya seorang autokrat yang tidak sedikitpun punya komitmen terhadap prinsip kebebasan, kesetaraan dan kemanusiaan universal.

Para elit politik Islam yang mudah tergoda dengan kekuasaan perlu untuk berawas sebelum ditunggangi oleh kepentingan kelompok otoritarian dengan sebuah kontrak politik yang menggiurkan. Sudah saatnya tokoh politik Islam memberi contoh dalam soal komitmen kita bersama terhadap demokrasi, hak asasi dan konstitusi dengan tidak memberi ruang bagi masuknya kelompok diktator di atas panggung politik kita, itu kita lakukan agar manusia Indonesia tidak kembali mengulang sejarah kelam kediktatoran penguasa tangan besi yang dengan semaunya menentukan hukum dengan ukuran-ukurannya sendiri.

Apakah kita siap mengorbankan segala kepentingan pribadi dan kelompok termasuk kekuasaan dan ideologi demi demokrasi? Seperti para elit partai katolik Belgia yang harus bersedia berkoalisi dengan rival politik dan ideologi mereka dari partai sosialis sekuler demi menghalangi kekuatan ekstrem otoriter menguasai parlemen dan mengacak-acak demokrasi Belgia yang mempunyai implikasi buruk bagi posisi mereka di parlemen? Silakan para elit politik kita menjawabnya.

Selain itu, para elit santri yang terlanjur masuk dalam arus politik, baik di parlemen maupun dalam kabinet kerja harus bahu membahu dalam menciptakan iklim bernegara yang sesuai dengan nilai-nilai universal yang disepakati oleh seluruh agama, di samping itu harus ada usaha bersama dalam memperkuat desain bangunan konstitusi yang lebih berwawasan kerakyatan untuk mencapai kesejahteraan umum yang berkeadilan dengan tidak memberikan seincipun kemungkinan bagi terlibatnya logika pasar monopolistik dalam sistem politik Indonesia yang dibawa masuk oleh elit ekonomi yang mampu mengintervensi pilihan-pilihan politik, jika itu terjadi, maka sama saja kita meratapi sebuah kehancuran yang kita rencanakan dengan kedua tangan kita sendiri.