Surat Rindu untuk Ayah

Malam semakin larut, aku duduk termenung bersandar di sofa yang mulai tak empuk lagi. Sambil aku bertatap tajam di langit rumahku. Suasana begitu gelap lantaran PLN tak bersahabat mematikan lampunya. Ku duduk tanpa sepatah katapun. Gumanku dalam hati, “Andainya bisa ku putar kembali, ku ingin seperti dulu”. Setiap lampu padam aku selalu bersenda gurau dengan sosok lelaki yang luar biasa. Lelaki yang tak banyak bicara, lelaki yang begitu sabar dan tabah, hanya senyuman yang akan selalu ia berikan. Jika ingat semua itu begitu bahagianya diriku kadang aku selalu senyum sendiri. Lamunanku jadi kacau lantaran seseorang mengagetkanku.

“Nazifa, kenapa belum tidur?” kata ibu.
“Belum bu, sebentar lagi” Kataku.
“Ini sudah jam 10 Nak, sudah malam.”
“Iya Bu. Ibu tidur duluan saja.” Kataku lagi.

Ibu langsung menuju kamarnya. Tak lama kemudian aku melanjutkan kembali dengan imajinasi gilaku. Pikiranku kacau, entah apa yang merasukiku sehingga aku harus seperti orang kurang waras. Akh… pikiranku jadi tak karuan. Tidak berangsur lama akhirnya lampu pun menyala. Hanya suara jam dinding yang menemaniku malam yang dingin mencekam ini. Tapi entah kenapa malam ini aku begitu rindu dengan seseorang lelaki. Lelaki hebatku, lelaki yang tak akan pernah seorangpun bisa menggantikan posisinya di hatiku. Ku ambil secarik kertas dan pena yang akan setia menemaniku malam ini. Ku mainkan jemariku lalu ku tuliskan sebuah surat rindu buat sosok lelaki yang aku rindukan. Sungguh, rindu ini mengalahkan rasa rindunya Dilan.

Dear Ayah

Ayah apa kabarmu di Surga? apakah engkau baik saja? Ayah apakah di sana ada setitik cahaya? Apakah Tuhan baik dengan ayah? Apakah malaikat tak jahat pada ayah? Ayah aku rindu dikau. Rindu tentang semuanya. Ingin aku teriak sekencang – kencangnya agar rasa rindu ini hilang dengan sekejap. Ayah aku tahu engkau tak akan kembali ke sisiku lagi. Aku tahu engkau tak bisa bercanda tawa bersamaku lagi. Tapi yang harus ayah tahu aku begitu merindukanmu. Ingin sekali aku bertemu denganmu sekali saja untuk mengobati rasa yang aku pendam selama ini walaupun hanya sebatas mimpi. Ayah andainya bisa, aku ingin hidup bersamamu lebih lama lagi. Tapi semua itu hanya mimpi yang tak pasti. Ayah hanya air mata yang selalu membasahi pipi ketika ku lantunkan doa untukmu supaya engkau di Surga merasa tenang dan nyaman. Ayah, aku dan ibu di sini bisa bertahan hidup tanpamu. Jangan khawatir ayah! Aku akan selalu menjaga ibu agar ibu selalu bahagia walupun tanpamu. Suatu saat nanti kita akan bersatu dalam Surga-Nya Allah. Kami di sini masih menunggu antrian agar bisa sepertimu.

Aku hentikan tulisanku lantaran air mata terus mengalir membasahi pipi hingga setetes air mata jatuh membasahi surat yang aku tuliskan. Tanganku sudah mulai lelah menuliskan keluh kesahku yaitu rasa rindu. Pikiranku sudah mulai kosong lantaran habis dalam merangkaikan kata demi kata. Hingga aku terlelap dalam tidurku.