Pilihan Pemuda pada tahun 2020

Pemuda seringkali menjadi ikon perubahan bagi suatu bangsa. Ia selalu terdengung di berbagai tempat, menjadi buah bibir dimana-mana, menjadi narasi utama dan bahkan dewasa ini, pemuda tak jarang menjadi subjek utama yang dihakimi lewat suatu perbincangan, ketika bangsa sedang mengalami krisis daya yang kompleks dan terjadinya stagnasi perubahan. Entah mengapa itu terjadi, padahal jika kita ingin membandingkan kualitas pemuda pada 74 tahun yang lalu, begitu banyak menorehkan bukti-bukti heroik. Harusnya kualitas itu bertahan hingga kini.

Setidaknya mulai dari kualitas mempertahankan kemerdekaan, dalam konteks kekinian. Seperti mengupayakan bebasnya bangsa dari belenggu bangsa lain, yang mencoba memperkosa kekayaan alam negara (Indonesia). Kualitas dalam menyatukan kesepahaman pemuda dan masyarakat, untuk bersama-sama menjaga kondusifitas negeri dari tiran-tiran yang mencoba menindas rakyat.

Namun nampaknya harapan-harapan itu tidak jua tercapai dewasa ini. Sekalipun hanya dua harapan yang saya gambarkan, rasanya sudah sulit untuk diindahkan. Kadangkala hanya menjadi pemanis buatan di kala diskusi baik secara publik atau menjadi konsumsi bagi para kelompok pemuda. Untuk melegitimasi peran gerakan pemuda dimana seharusnya ia berpihak. Mungkin saja kebanyakan diskusi adalah salah satu variabel yang membuat gerakan pemuda menjadi mandul, di antara berbagai alasan yang lain.

Dalam teori klasik Antonio Gramsci mengungkapkan jenis intelektual atau sebut saja pemuda, terdapat dua kategori yaitu Organik dan tradisionil. Subjek organik dalam kacamata Gramsci, menyatakan bahwa ia yang mengaktualisasikan kompetensinya, setelah mengarungi berbagai macam habitus (organisasi, lingkungan budaya, pendidikan, pergulatan social, dsb) yang mengkonstruk dirinya.

Hasil positif dari habitus tersebut, kemudian diorientasikan untuk merevitalisasi kehidupan manusia. Sebagaimana bukti berkecambahnya benih-benih gerakan yang terjadi di masa lalu. Atas dasar keresahan dan kegelisahan, melihat penderitaan ibu pertiwi dijajah oleh penjajah.

Para tokoh bangsa dan pionir-pionir kemerdekaan di Indonesia, rela menjelajahi berbagai negara, tentunya demi misi pengetahuan yang berguna untuk mencipatakan gagasan dan ide demi bangsa Indonesia terhindar dari kepentingan eksistensi apalagi pragmatisme. Adapun tradisionil, dalam kasus dan pengalaman yang sama dengan subjek organik hanya saja kecenderungan apatisnya menyelimuti semangatnya, menghambat seluruh kompetensinya teraktualisasi atas nama kemanusiaan. Ia pun mengisiposisi sampah masyarakat, terkucilkan tak memiliki daya dan hanya bias mengamati kekacauan yang ada tanpa tindakan sama sekali dan populasi pemuda jenis ini begitu banyak kita jumpai dengan berbagai bentuknya yang modern, mulai dari kebanyakan ngopi, kebanyakan jalan ke mall, kebanyakan main sosial media serta segala aktivitas-aktivitas yang tidak membangun karakter anak muda yang produktif. Semua ini menjadi cikal bakal pemuda terjebak justifikasi bahwa ia memang adalah jenis populasi destruktif.

Dalam konteks aktivisme, banyak gerakan-gerakan pemuda yang lahir sekadar mengisi absen anggaran pemerintah agar mendapatkan kucuran dana dengan dalih demi efektivitas gerakan di tengah masyarakat, meskipun tanpa kontribusi yang nyata. Akhirnya kita mengenal bahwa, pemuda telah banyak membangun gerakan-gerakan siluman  hanya untuk menghabiskan anggaran pemerintah dan masyarakat.

Realitas keadaan pemuda tersebut masih sebagian saja, belum lagi Indonesia diwacanakan sedang merangkak menyambut bonus demografi beberapa tahun ke depan.Tentunya dalam wacana bonus demografi tersebut, ada sekian banyak pemuda yang akan lahir dan entah jenis pemuda mana yang mendominasi? Apakah pemuda yang bermanfaat sebagaimana teori Gramsci yakni organic atau malah lebih banyak melahirkan pemuda yang hanya bias berpangku tangan melihat Indonesia di ambang kehancuran moral dan kompleksitas problematikanya.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memprediksi lebih jauh. Penulis hanya ingin mengajak pembaca untuk menerawang lebih dalam benak dan pikiran masing-masing berdasarkan konstruksi teori Gramsci, pemuda jenis apa yang kira-kira mendominasi pada tahun 2020 ini. Layaknya sebuah teka-teki, masing-masing dari kita bisa menjawabnya namun tentunya dibarengi dengan sebuah tindakan yang nyata.