Kuburan Digital

Sejak beberapa dekade ini, umat manusia diperhadapkan dengan frasa-frasa baru, alat-alat baru, mesin-mesin baru hingga makhluk-makhluk  baru. Kemunculannya selalu mengundang curahan perhatian dari tepuk tangan hingga cibiran bahkan kekhawatiran. Gemuruh tepukan tangan diikuti senyum sumringah bak melihat berkas cahaya dalam gelap. Yah anggap saja hadirnya sebagai penyuluh jalan yang kian hari kian rumit dan carut marut ini. Kata mereka kecanggihannya memudahkan segala aktivitas, juga hadirnya menghadirkan kawan baru, relasi baru, bahkan cinta yang baru. Namun tak jarang yang mencibir disebabkan kemunculannya membuat mereka yang tak mau bersamanya tertinggal jauh di belakang dan risikonya menjadi terbelakang. Terbelakang dalam segala hal, realita, fakta, harta, tahta mungkin juga cinta.

Nah ada pula yang berkicau bahwa hadirnya dengan segala kecanggihan yang melekat membuat keresahan, sebab tumbuh kembangnya tidak dapat dikontrol. Berisiko tinggi menghadirkan kerusakan dari tatanan individu hingga masyarakat, melunturkan moral kebangsaan dan kebudayaan hingga menumbangkan perekonomian. Wow makhluk seperti apakah kiranya Ia hingga menghadirkan kedahsyatan seperti ini? Apakah ini yang disebut Dajjal? Mmm, Ia mampu mengundang fakta yang kontradiktif karena siapa saja dapat melontarkan perspektif yang berbeda terhadapnya.

Fakta bahwa kehadirnya mengundang perspektif yang berbeda dalam lingkungan benak para konsumen membuat penulis menarik kesimpulan bahwa Ia mungkin seperti makhluk dalam lampu ajaib Aladin. Ketika Ia berada di tangan yang baik, Ia akan mengabulkan permintaan dan melakukan perbuatan yang baik. Jika Ia bertuan pada mereka yang bertangan kotor, bermulut bau, berkaki jorok hingga berpikiran dangkal maka Ia akan mengabulkan segala permintaan dan berbuat seperti kehendak tuannya karena sejatinya dari zaman Khabil hingga zaman Trump segala apa yang nampak adalah hasil dari rahim tangan, mulut, kaki hingga pikiran.

Rahim-rahim manusialah yang bertanggung jawab akan segala carut marut ini, perbedaan perspektif yang melahirkan upaya provokatif hingga berujung tindakan diskriminatif. Hari ini rahim tak lagi menjadi milik perempuan, namun semuanya boleh memiliki “rahim”. Rahim tak lagi berada di rongga abdomen namun rahim ada pada tangan, mulut, kaki dan rahim terbesar adalah pikiran manusia. Rahim-rahim inilah yang tiap saat melakukan reproduksi sosial sebagai respon kehadiran makhluk yang bernama teknologi.

Seperti halnya kelahiran secara biologis selalu bersanding dengan kematian. Demikianlah teknologi selain membuat kelahiran juga menyediakan kematian. Keduanya berada pada dunia yang disebut digital. Banyak tokoh yang lahir darinya kemudian mencuat di dunia nyata, juga banyak tokoh dunia nyata yang kemudian ditenggelamkan olehnya. Banyak penyebabnya. Boleh jadi karena ulahnya di Facebook, youtube, whatsapp yang dapat diakses pada pusatnya yaitu istana Google. Penulis teringat ungkapan seorang jurnalis tenar dari Tribun Timur yang berujar “kita di masa depan adalah apa yang direkam Google” yah, sebab makhluk  ini menyimpan rekam jejak yang ditinggalkan dalam dunianya. Ada pula seorang antropolog yang berucap “Boleh jadi google ini adalah jelmaan Raqib Atid yang dikirm Tuhan untuk masa depan” benar juga sebab fungsi keduanya kurang lebih sama yaitu merekam segala aktivitas makhluk bumi.

Google menyimpan semua rekam jejak siapa saja yang pernah mengunjunginya, juga aplikasi-aplikasi dunia digital lainnya berbuat demikian. Menyimpan gambar, video, audio, semuanya baik milik mereka yang masih mendiami bumi bahkan yang telah berpindah ke alam baka pun masih tersusun rapi. Jika diri kita di masa depan adalah apa yang direkam Google berarti kita pun harus menyiapkannya dengan hati-hati. Yah…anggap saja menyiapkan kuburan digital karena boleh jadi di masa depan para generasi yang ingin mengenal kita tak lagi perlu repot-repot membuka album lama yang kusam berdebu atau mengunjugi kuburan, cukup membuka salah satu akun media sosial dan nampaklah kita di masa lalu dengan segala aktivitas sosial, rihlah akademik, dan segala hal yang telah kita input kepadanya. Nah rasanya tidak berlebihan jika penulis menyebutnya kuburan digital. Jadi selain menyiapkan bekal menuju kuburan di tanah mungkin kita pun boleh berpikir menyiapkan kuburan digital kita. Segala bentuk kebaikan yang diperbuat, segala bentuk coretan yang diupdate, segala bentuk romantimse hingga kelakukan alay akan disimpan rapi oleh Tuan Google yang akan diperlihatkan pada generasi di masa mendatang.