Gerakan Agitasi Mahasiswa melalui Karya Sastra

Verba Volant, Scripta Manent” , Artinya “Apa yang terkatakan akan lenyap, tetapi yang tertuliskan akan abadi”. Sebuah kata akan lenyap jika dikatakan tapi akan abadi jika dituliskan, begitulah realitas dalam kehidupan, saat ini banyak orang yang tak mengerti pentingnya sebuah tulisan. Mereka tidak tahu untuk menciptakan perubahan tidak hanya dengan kata-kata lisan tetapi dengan karya tulis yang baik juga dapat menciptakan perubahan.

Di sinilah peran penting mahasiswa sastra, mereka harus mampu menciptakan perubahan baik itu melalui tulisannya maupun orasinya. Sebagai mahasiswa sastra, mereka harus menciptakan karya sastra yang dapat mengagitasi masyarakat dengan karyanya karena selain menjadi Agent Of Change dan Social Control, mereka juga harus menjadi Directure Of Change. Jika mahasiswa sastra hanya menjadi Agent Of Change saja maka kemungkinan besar mahasiswa sastra hanya mampu menciptakan wacana saja tanpa adanya realisasi, tapi jika mereka menjadi Directure Of Change maka mereka dapat menciptakan wacana serta gagasan dan mampu merealisasikannya.

Mahasiswa sastra harus mampu menciptakan kekuatan dalam karyanya sehingga dapat mengagitasi mahasiswa lain dan juga masyarakat untuk dapat melakukan perubahan. Mahasiswa sastra harus mampu mengkritik realitas yang terjadi pada saat ini sehingga mampu melakukan gerakan perubahan dengan karya sastranya. Untuk melakukan gerakan perubahan selain demokrasi, orasi, ataupun negoisasi juga dapat dilakukan dengan menciptakan karya sastra yang penuh kritik tentang realitas sosial yang terjadi.

Pada saat ini, Indonesia mengalami beberapa permasalahan yang berhubungan dengan Rasisme, Revisi UU, masalah kabut asap di Kalimantan dan sebagainya. Dalam keadaan seperti inilah peran mahasiswa sastra sangat dibutuhkan. Mahasiswa sastra harus dapat menciptakan karya sastra yang dapat mengkritik realitas kebijakan pemerintah yang tidak kondusif. Mahasiswa sastra harus menciptakan karya sastra yang dapat mengagitasi masyarakat untuk menolak segala bentuk kebijakan pemerintah yang dapat mengakibatkan penderitaan.

Jika melihat kondisi realitas negara kita saat ini seharusnya kita sebagai mahasiswa sastra mampu mengeluarkan gagasan-gagasan kita dalam bentuk tulisan sehingga tulisan yang kita ciptakan mampu terkapitalisasi, tersebar dari kepala ke kepala sehingga dapat menciptakan gerakan perubahan. Inilah bentuk kekuatan mahasiswa sastra, mereka tidak hanya mampu menciptakan perubahan dengan cara demonstrasi tetapi juga melalui teks-teks yang mereka ciptakan.

Mahasiswa sastra harus mampu menciptakan karya sastra berupa cerpen, prosa , drama, dan juga teks-teks lainnya yang memuat kritik tentang realitas sosial yang terjadi saat ini yang dapat dibaca oleh mahasiswa lain dan juga masyarakat. Sehingga melalui tulisan mereka tercipta sebuah gerakan perubahan yang bersifat positif.

Tak ada perubahan yang tercipta jika kita hanya duduk diam, tapi sebuah perubahan akan tercipta jika kita berusaha mendobrak segala aturan yang mengekang kebebasan kita dalam berpendapat. Bukankah negara ini adalah negara yang merdeka?. Seharusnya sebagai masyarakat, kita mampu mengeluarkan segala pendapat kita dalam segala bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh oknum pemerintah yang telah diberi kepercayaan untuk mengambil keputusan.

Sebagai mahasiswa kita harus kritis dalam segala aspek, sehingga jika terjadi penyelewengan tugas oleh pemerintah, kita dapat mencegahnya dan masyarakat dapat hidup damai.

“Ku ciptakan perubahan melalui tulisanku,
Ku getarkan dunia dengan aksaraku,
Ku gerakkan hati dengan orasiku,
Itulah Aku, Mahasiswa Sastra“