ASN dan Cita-Cita Sosial Emak-Emak

Apa kabar emakmu? Sudahkah dia bertanya, “Nak kapan kamu jadi PNS?”, apa kabar calon mertuamu? Sudahkah dia bertanya kabar calon menantunya? PNS atau bukan? Saya menulis ini berawal dari kegelisahan laki-laki yang menyembunyikan saya dari emaknya, mungkin karena saya bukan PNS seperti cita-cita sosial emaknya atau bahkan kemungkinan yang lain. Kegelisahannya muncul ketika kerap kali emaknya merecoki dengan sejumlah pertanyaan kapan jadi PNS? Menjadi PNS, lalu memiliki rumah bertingkat dan mobil, serta menantu yang PNS pula adalah definisi sukses dan bahagia dari sang mamak.

Pada beberapa kesempatan dia mengeluhkan betapa dia merindukan duduk bersama tanpa embel-embel PNS, berdialog tentang buku baru, ataukah berdebat perihal tulisan siapa yang akan terpilih di media. Yah saya mengakui dia hebat dalam menulis. Untuk memenuhi definisi sukses emaknya yang harus memiliki mobil dan rumah bertingkat tentu tidak akan cukup ketika mengandalkan kemampuannya memasak kata-kata. Dia mungkin butuh berkali-kali menerbitkan buku untuk memenuhi definisi sukses itu, royalti yang tidak seberapa, pajak, belum lagi kalau buku-bukunya dibajak dan diobral murah, sebuah dosa kolektif yang disengajakan oleh orang-orang yang merasa berhak atas jerih payah orang lain. Kadang-kadang saya iseng menggodanya dengan kalimat “Cita-cita emak kamu atau cita-citamu sih”, dia hanya akan tersenyum masam seraya menjawab Emak harus bahagia, meski harus membunuh mimpiku.

Pertanyaan retoris memenuhi kepala saya apakah PNS satu-satunya definisi sukses? Mungkin iya mungkin tidak, bergantung dari siapa si subjek itu. Anggap saja PNS adalah cita-cita sosial yang terbentuk dari konstruksi sosial yang memiliki tujuan sosial. 4 juta pelamar pada tahun 2018 menunjukkan animo masyarakat yang tinggi, tentu saja dengan segala kemudahan yang diberikan. Saya mengutip beberapa potongan kalimat dari di dunia maya, “Pulangko Nak, ada pendaftaran CPNS”, selanjutnya kalimat kedua kira-kira seperti ini “Lamar memangmi pacarmu sebelum jadi PNS, mahal nanti panaikna”, ataukah “Nikahi memangmi pacarmu sebelum jadi PNS karena kalau sudah PNS kriteria bapaknya bukan kamu”.

”Pulangko Nak, ada pendaftaran CPNS” adalah kalimat imperatif, saya melihatnya sebagai bentuk harapan, katakanlah salah satu harapan dari seorang emak atau bahkan seorang bapak kepada anaknya. PNS dianggap sebagai salah satu profesi yang agung dengan posisi sebagai ‘objek’ yang kelak kamu  tidak perlu khawatir anak-anakmu akan kekurangan dengan gaji setiap bulan ditambah tabungan pensiun di hari tua. Kamu tidak perlu pontang-panting mencari pekerjaan baru ketika tiba-tiba dipecat (PHK), kamu bisa diberikan kemudahan dalam hal jaminan pinjaman di bank apabila dalam keadaan yang mendesak.

Potongan-potongan kalimat yang saya kutip di atas secara tidak langsung memberikan gambaran real cultural kita, ada yang aneh dengan mentalitas kita yang cenderung menjadikan dirinya sebagai objek dibandingkan subjek. Menjadi objek adalah posisi aman dengan resiko kecil, duduk di balik meja dengan stelan lengkap sementara menjadi subjek atau pelaku tentu resikonya besar, pasang surut, ada banyak perut yang menggantungkan nasib. Semisal menjadi pengusaha yang mempekerjakan orang, pebisnis, seniman, ataukah profesi yang lain, tentunya tidak semua orang memiliki keberanian dan ketangguhan untuk mengambil sebuah resiko, zona nyaman kadang menjadi alternatif yang mematikan segala bentuk self confidence.

Mengapa ada perbedaan panaik antara ASN dan bukan? Ada Perubahan sosial, perubahan yang terjadi dalam bentuk sistem kelas, dan itu akan diberi nilai oleh siapapun yang menjadi subjek. Mengapa pula ketika kekasihmu menjadi PNS kriteria bapaknya bukan kamu lagi? Kamu yang biasa yang kepalanya sesak dengan kata-kata akan kalah dengan pakaian seragam dinas dan sepatu pantovel yang mengkilat. Bolehkah saya membayangkan sebuah sistem perdagangan? semakin tinggi kualitas barang maka semakin tinggi pula harga yang dipasang dan sekarang bibir saya tengah terkatup rapat, jauh dari kota P, sepasang mata tengah menghakimi saya, emak dengan suara yang berat tetapi dengan intonasi yang jelas, dan terdengar mengintimidasi, “Purano mendaftar (Baca: kamu sudah daftar) CPNS?” Ah rupanya emak saya memiliki cita-cita sosial yang sama.