Pilihan Redaksi Edisi Keempat Desember

Perhelatan pergantian tahun telah berlalu. Hingar-bingar euforia di tiap sudut kota maupun perkampungan pun tak mau ketinggalan. Satu-satunya yang ketinggalan pada momen tersebut adalah pengumuman naskah terfavorit di minggu keempat Desember. Seperti tenggelam dalam lautan cahaya beserta suara letusan bertalu-talu dalam segala skala yang kemudian berpencar di langit malam, dan akhirnya terpancar senyum puas bagi penikmatnya. Banyak hal yang kolong grup siapkan buat teman-teman pembaca dan penulis. Ada pembaharuan yang kami lakukan pada aplikasi dengan tawaran yang lebih menarik. Salah satunya menu “ide” dan “seide” dimana para member yang memiliki akun di aplikasi bisa bersosialisasi dan menjadikannya media sosial alternatif. Jangan lupa upgrade yah.

Edisi keempat Desember ini, redaksi menjatuhkan pilihan pada naskah Para Pejuang karya Lilis Puji Astuti. Naskah ini menjadi ruang ekspresi seorang istri yang ditinggal suaminya untuk mencari nafkah. Lirik “Kau pergi hanya diantar oleh air mata bercucuran” menjadi metafora penderitaan dari momok penantian yang panjang. Konflik antara diksi “batu karang” dan waktu seolah menjadi simbol kesetiaan dari harap dan penantian pulang oleh sang istri.

Favorit kedua jatuh pada naskah yang ditulis Panji berjudul Gadgetku. Fenomena sosial kekinian digambarkan jelas oleh Panji dalam puisinya. Kemajuan teknologi berhasil menciptakan sebuah alat bernama “Gadget” dengan media sosial yang menjadi jantung perubahan pola hidup, komunikasi, bahkan beragama. Gadget menjadi sebuah gerakan ambigu “maju yang mundur”. Interaksi media sosial seolah lebih cenderung menjadikan media sebagai wadah eksistensi di luar masyarakat. Diksi apalagi yang tepat selain “candu” dan “Tuhan” sebagai metafora keterikatan manusia dan gadgetnya?

Selanjutnya, redaksi memilih naskah yang berjudul Bu, Di Sini Udara Dingin karya Nur Mustaina. Naskah yang memberikan apresiasi terhadap hari ibu yang digandrungi peringatannya tiap tahun tgl 22 Desember dengan cara yang tidak lazim. Penulis menyisipkan simbol proses “41 hari” yang disepadankan dengan usia tokoh “Ibu”.

Kemudian terakhir ada naskah Aku Menyukai Senyum yang Terbit di bibirmu, karya Mustabsyiratul Ailah dan naskah Euforia Senja pada Bulan-bulan Tua karya Andi Umar. Keduanya adalah naskah yang menggambarkan sebuah curahan hati secara privasi tentang perasaan yang masih ragu. Ragu yang berlindung di balik kejujuran yang polos. Terutama puisi Andi Umar dengan pilihan diksi “pendam”, “diam”, “redam”, dan “genggam”.  

Demikian lima tulisan favorit readaksi edisi kali ini. Nantikan 15 karya yang terpilih bersama edisi yang lain di bulan Desember ini dalam bentuk ebook di menu “buku” dalam m.kolong.team. atau dalam aplikasi kolong. Dan untuk naskah favorit pilihan redaksi yang akan mendapatkan honor kepenulisan jatuh pada naskah Para Pejuang karya Lilis Puji Astuti (https://kolongkata.com/2019/12/24/para-pejuang/). Kepada penulis diharapkan segera mengirim nomor rekening tujuan melalui nomor 085231268898.

Demikian untuk minggu ini. Selamat bermitra bersama kolong.team. Jangan lupa upload naskah buku dan nikmati koleksi karya di koleksi.kolong.team.

Tim Redaksi