“Batu Sandungan” yang Menghentak Kesadaran

Konon tetiba saja, manusia sulit untuk hidup rukun, mereka berbuat jahat satu sama lain, menikung satu sama lain, bahkan membunuh satu sama lain. Lalu Brahma gerah dan memutuskan untuk menghukum ciptaannya sendiri. Visnhu lalu memerintahkan Vaivasvata membangun sebuah bahtera yang ditujukan buat dirinya dan keluarganya. Setelah bahtera yang dibuat telah siap untuk digunakan, dan Vaivasvata dan keluarganya ada di dalam bahtera, begitu pula dengan benih tanaman serta pasangan binatang jantan-betina, maka hujan besar pun mengguyur, sungai-sungai meluap dan banjir bah pun melanda. Begitulah kira-kira kutipan bebas salah satu penggalan kisah dalam Mahabrata.

Penggalan kisah di atas, tidak terasa asing bagi para penganut agama Ibrahimik (Yahudi, Nasrani dan Islam). Kita mengenal kisah Nuh atau Noah, yang diperintahkan oleh Allah untuk membuat bahtera besar di atas bukit, karena katanya manusia akan diazab oleh-Nya dengan kiriman banjir yang luar biasa. Bahkan dalam salah satu versi cerita, Nuh hanya menyelematkan orang-orang beriman dan sepasang jantan-betina dari setiap jenis binatang, tetapi istri dan anaknya yang menganggap Nuh sakit jiwa ikut mati dalam gelombang air bah yang meluluh-lantakkan segala sesuatu.

Bahkan kisah mengenai banjir bah dan perintah untuk membuat bahtera, juga ada dalam peradaban yang lebih tua lagi, yakni kisah Gilgamesh yang berasal dari peradaban mesopotamia. Ketiganya berbicara tentang hal yang sama, bahwa Brahma/Allah/Ea geram melihat keangkuhan-ketamakan-kejahilan manusia dan menghukumnya dengan sapuan banjir. Dan banjir destruktif hanyalah antara, setelahnya ada transformasi. Lalu apa yang berubah atau apa yang ditransformasi? Apakah Dia (siapapun namanya) mengirim banjir hanya sekadar untuk membasmi yang berbeda pandang dengan Dia? Persoalannya tidak sesederhana itu menurut saya.

Dalam epos atau kisah religius yang berbicara tentang bencana, apakah banjir, gunung berapi yang meletus, gempa bumi atau apapun, seringkali membawa kesan kepada kita bahwa bencana tersebut mampu menyeleksi secara sempurna korbannya. Yang mati atau celaka karena musibah tersebut, bisa dipastikan adalah orang-orang yang “ber-iman”, sedangkan yang selamat dari musibah adalah orang-orang “yang fasik atau kafir”. Kesan ini kita bawa hingga saat kita menafsirkan bencana atau musibah yang terjadi secara aktual, bahwa yang banyak menjadi korban dan mayatnya rusak adalah orang-orang yang tidak taat, sedangkan yang selamat pastilah orang-orang taat. Bagi saya pandangan tersebut sangat simplistik dan politis sekali. Yang paling lucu adalah upaya mengaitkan musibah yang melanda sebuah daerah dengan kepala daerahnya yang kebetulan berasal dari kompetitor politik, dan saat ini kita bisa lihat pada kasus banjir Jakarta dan Jawa Barat.

Lalu apa yang ditransformasi, oleh kisah atau mitos banjir bah di atas? Menurut saya adalah “iman” kita, tapi bukan “iman” dalam artian seperangkat dogma yang siap pakai, tapi “iman” dalam artian “cara pandang”. Karen Armstrong mengatakan bahwa kisah-kisah “wah” atau “hiperbolik” dalam agama-agama, semisal kisah-kisah “pertarungan abadi antara dewa dengan monster”, “berinkarnasinya Tuhan dalam wujud manusia”, “banjir bah”, “kisah nabi yang membelah bulan menjadi dua” adalah kisah-kisah yang berfungsi sebagai “batu sandungan” yang membuat “kaki kesadaran” kita menjadi “terantuk”, sehingga kita mau atau terpaksa merubah “cara pandang”.

Arne Naess, seorang filsuf asal Norwegia, pernah melakukan pembedaan antara “Ekologi Dalam” dan “Ekologi Dangkal”. Ekologi Dangkal bersifat antroposentris alias berpusat pada manusia, memandang manusia berada di luar bahkan di atas alam, manusia dianggap sebagai sumber-pusat nilai sedangkan alam adalah sesuatu yang bersifat instrumental atau hanya memiliki nilai guna, dan ini adalah cara pandang yang sering kita dengar dan gunakan. Perkotaan kita anggap sebagai kastil, atau sekumpulan pemukiman yang dianggap mengantisipasi bahkan di atas alam, maka tak heran jika segala sudut dan kelokan dalam kota, kita anggap sebagai peluang untuk menanam-mendapatkan-mengembangbiakkan ambisi-ambisi kita dan seringkali kita mengukur tercapai tidaknya ambisi hidup dengan kata “uang”. Dengan kata lain kota kita anggap sepenuhnya sebagai “ruang berinvetasi” bukan lagi sebagai “ruang untuk hidup” (lebensraum). Dan apa yang terjadi? kota yang dijadikan sebagai sepenuhnya sebagai “ruang investasi” memiliki dampak sampingan, langsung maupun tidak langsung. Konsumsi meningkat secara eksponensial maka sampah (terutama sampah plastik) tak terelakkan, kota-kota berlomba-lomba menjadi kota industri maka limbah adalah adalah hal yang pasti, kita berlomba-lomba membangun momen-momen infrastruktur maka berkurangnya daerah resapan air dan peningkatan suhu permukaan adalah hal yang tak terhindarkan. Yang celakanya lagi, kita seakan-akan tidak mau bertanggung jawab terhadap efek-efek samping tersebut.

Sungai beserta DAS (Daerah Aliran Sungai) tidak kita lihat lagi sebagai bagian penting dalam ekosistem, kita melihatnya hanya sebagai sarana atau sesuatu yang memiliki nilai guna bagi kita. Prof. Oekan S. Abdullah dalam Ekologi Manusia; Pembangunan & Berkelanjutan (2017), mengatakan saat membahas soal DAS Citarum dalam bukunya tersebut, “saat ini, sikap masyarakat terhadap ekosistemnya telah berubah secara dramatis. Mereka tidak lagi merasa tergantung pada fungsi utuh ekosistem. Mereka menganggap dirinya berada di luar ekosistem dan tidak lagi memiliki kewajiban moral untuk menjaga keharmonisan dengan ekosistem mereka. Perubahan ini dapat menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan”.

Maka terjadilah pengalihan fungsi lahan, terutama intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian di bagian hulu DAS yang berujung pada homogenisasi lanskap, dan ini sedikit banyaknya diakibatkan oleh pengembangan sektor industri serta perubahan mata pencaharian penduduk. Maka menyusullah akibat-akibat merusak seperti erosi, menurunnya ketersediaan dan kualitas air, meningkatnya lahan kritis, dan yang paling sering dirasakan adalah banjir. Belum lagi akibat seperti penurunan hasil panen, peningkatan serangan hama serta penurunan sumber daya genetik. Awalnya adalah melihat DAS sebagai sumber daya ekonomi belaka, tapi karena tidak memperhatikan aspek ekologi, maka justru berujung pada ancaman ekonomi. Maka dari itu Prof Oekan berpendapat “kerusakan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mempelajari interaksi antara tanaman, tanah, iklim, hama, air dan hewan, melainkan penekanan juga harus diberikan kepada interaksi kompleks antara komponen-komponen biofosik, manusia dan budayanya yang mencoba untuk mengelola sistem dan yang bergantung pada hasil untuk kelangsungan hidupnya”.

Hal yang hampir senada, saat Arne Naess merekomendasikan “Ekologi Dalam”, bahwa manusia dan lingkungan alamiahnya adalah dua hal yang tak terpisahkan. “Ekologi Dalam”, benar-benar melihat dunia bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah tetapi sebagai jaringan fenomena yang saling berhubungan dan bergantung satu sama lain secara fundamental. “Ekologi Dalam” mengakui nilai intrisik semua makhluk hidup dan memandang manusia sebagai bagian dari untaian jaring kehidupan.

Banjir bah yang ada dalam kisah-kisah religius, begitu pula banjir yang sering melanda kota-kota kita, adalah “batu sandungan” yang menghentak kesadaran kita bahwa “kita adalah makhluk terbatas” tapi itu tak berarti tidak ada “kedalaman dalam hidup”. Justru karena kedangkalan dalam memandang sekitar hanya sebagai “nilai guna” dan “nilai tukar” belaka, justru membuat keterbatasan kita semakin rentan dan tak bermakna.