Gadgetku

Gadgetku
Kau penuh dengan paradoks
Kau ibarat pesawat
Mampu mengantarkan imajinasiku mengelilingi dunia
Kau juga bak penjara
Mengurung ragaku untuk bercengkrama dengan dunia

Gadgetku
Kau ajarkanku menjadi sosialis
Denganmu aku bisa punya banyak kawan
Kau ajarkan pula menjadi individualis
Karenamu aku kadang acuh terhadap masalah kawan

Gadgetku
Darimu aku banyak mendapat informasi
Namun semakin jarang merajut budaya diskusi
Kehadiranmu membuat yang jauh terasa dekat
Namun yang dekat justru merasa jauh
Darimu aku bisa berkenalan dengan orang asing
Tetapi yang sudah kukenal kini malah merasa asing

Gadgetku
Kau mengajarkan bahwa tidak sulit menjadi dermawan
Karena dengan “like” sudah mampu mewakilkan rasa kepedulian
Walaupun tetangga sebelah sudah ada yang mati kelaparan

Gadgetku
Karenamu romantis itu menjadi sederhana
Ku hanya akses puisi dan surat cinta
Tanpa menghabiskan banyak tinta
Ditemani secercah cahaya senja
Yang menginspirasi sebuah rasa

Gadgetku
Dulu Marx menyebut agama itu candu
Negara menyebut narkotika itu candu
Aku menyebut senyum kekasihku yang candu
Nyatanya kini kau yang candu

Gadgetku
Agamaku mengajarkan bahwa hanya Tuhanlah yang dijadikan prioritas
Dialah tempat bergantung dan berharap segala aktivitas

Gadgetku
Aku menjadi musyrik karenamu
Menjadikanmu Tuhan-tuhan kecilku