Natal dan Selaput Keimanan

Luka Natal
Natal telah berlalu dengan hikmat bagi umat kristiani, namun tidak nikmat bagi umat Islam. Seakan ada luka yang tersisa di balik perayaan natal. Tentunya luka itu tidak dialami oleh mereka yang sedang berbahagia merayakan ritualitas transendennya. Justru luka tersebut, dialami oleh umat Islam itu sendiri. Luka berupa polarisasi pemahaman dan pandangan fanatisme atas konsepsi dan hukum pengucapan “selamat hari natal” terhadap non muslim yang hebohnya sudah hampir menyamai eksistensi isu radikalisme belakangan ini. Hingga akhirnya memunculkan suatu sentimen emosional yang sangat signifikan dan sektarian, di tubuh umat Islam yang dikenal rahmatan lil alamin (pembawa kasih sayang bagi seluruh unsur alam termasuk manusia).

Kata rahmatan lil alamin, nampaknya juga tidak terinterpretasi secara universal dan sempit. Hanya terbatas pada pengertian-pengertian yang eksklusif, malah cenderung mereduksi nilai-nilai kemanusian yang secara hakiki. Merupakan bagian dari substansi spirit rahmatan lil alamin. Sependek interpretasi saya, kata rahmatan lil alamin bukan saja pesan agama (Islam) yang perlu diaktualisasikan, dalam batas menjaga kondusifnya lingkungan atau tidak mengeksploitasi hutan dan makhluk hidup yang tidak sepantasnya dieksploitasi atau hal-hal yang berpotensi membawa bencana di muka bumi.

Lebih daripada itu, kata rahmatan lil alamin, menyimpan sebuah makna yang sangat mendalam dan filosofis, dan pastinya tidak penuh dengan intrik spekulatif. Bahwasanya keamanan, kenyamanan, dan ketentraman secara emosional dan psikologis antar sesama manusia, secara egaliter perlu untuk saling mengakomodir satu sama lain. Selama itu positif, dan tidak mengganggu substansi keimanan dan proses kehidupan secara signifikan. Kenapa harus menguras tenaga dan mempertegang urat primordialisme keyakinan? Yang memicu konflik berkepanjangan.

Selaput keberimanan umat Islam
Dalam buku Islam Universal yang ditulis oleh Azhari Akmal Tarigan, mengutip pandangan Nurcholis Madjid. Bahwasanya iman, sifatnya bersifat khusus dan privat. Ianya adalah medium bagi manusia atas apa yang diyakininya. Dalam konteks ke-agamaan, keyakinan itu secara formil, diorientasikan sebagai keyakinan terhadap Tuhan yang memiliki syarat-syarat tersendiri. Dan Tuhan dalam konteks Islam, diyakini sebagai adanya kekuatan yang maha dahsyat, yang ada di luar diri manusia yang sangat terbatas.

Eksistensinyapun secara hakiki sangat mustahil dipahami secara empirik. Namun juga (bagi umat muslim) tidak memungkiri, bahwa sesuatu tersebut benar-benar ada dan hanya mampu diraba oleh akal dan kehalusan jiwa, melalui tanda-tanda alam. Serta seluruh yang tercipta dalam dimensi mikro dan makrocosmos. Dari segi simbolik sesuatu yang maha dahsyat tersebut, dikenal dengan nama Allah SWT.

Selanjutnya keyakinan terhadap Allah SWT, terus diremajakan melalui serangkaian proses ritual ibadah yang khas dan sangat berbeda dari pemeluk-pemeluk keyakinan yang lain. Dengan adanya serangkaian proses ibadah tertentu di samping sebagai sebuah syarat dalam melakoni alur beragama, juga menjadi sebuah filtrasi dan pembeda secara identitas, untuk menghalau intervensi keyakinan-keyakinan yang menyalahinya.

Saya tak ingin membahas lebih jauh terkait konsepsi ketuhanan. Mengingat hal tersebut bukanlah kapasitas saya sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia teologis dan sadar masih sangat awam mengulasnya. Kutipan pandangan di atas kemudian saya tarik, hanya sebagai titik tolak yang mungkin sangatlah sederhana diterjemahkan. Untuk membangun emosi keimanan agar tampak rasional, tidak terkesan lebih hitam putih dan tendesius.

Saya melihat dari pandangan Nurcholis Madjid, seakan keimanan itu semestinya adalah hal yang tidak begitu mudah bertransformasi ke tingkat keyakinan yang bermakna ganda dan memiliki resistensi yang sejatinya cukup kuat, yang tidak cukup dipengaruhi hanya dengan kata-kata “selamat natal”. Selama kita semua selaku umat Islam khususnya saya secara pribadi. Masih melaksanakan apa yang menjadi syarat-syarat totalitas keberimanan dalam Islam secara substansi. Setidaknya merealisasikan secara praksis rukun Islam dan rukun iman dengan tertib, akan menghasilkan sebuah kualitas dan selaput keimanan yang orisinil. Namun juga tidak berlebihan untuk menerjamahkannya, karena akan menghasilkan sebuah praktik keberislaman kita menjadi kaku dan emosional.