Euforia Senja pada Bulan-bulan Tua

Metamorfosa hati penghujung tahun.
Membuatku membabibuta menulis puisi bertajuk dirimu.

Kita adalah kerumitan yang sederhana.
Di tiap temu tanpa rencana, ada saja sajak yang tercipta.
Di tiap tatap tak sengaja, selalu saja menyibak tanya; “apa yang kupendam? hingga tak mampu kuredam.

Aku ingin tahu,
Bagaimana kau menatapku dari sudut sana.
Apa rasa kita sama?
Atau sekedar tatapan kosong belaka.

Akhir kata,
Aku yang lebih memilih diam memendam,
Apa aku tak punya harapan tuk kau genggam.
Aku yang memilih bersembunyi di lorong asa,
Apa aku perlu lupa atas euforia, yg belum lama lahir setelah kita berjumpa.