Bu, Di Sini Udara Dingin

#10

Menghitung hari untuk bahagia, atau membuat luka
Jika datang merpati mengetuk jendela, itu karena suruhku
Hari ini, dan tiga puluh satu hari ke depan adalah misteri yang mulai baur

#20

Aku, Yuana di tanah rantau
Penikmat jeda merangkai kata, untuk hadiah paling berharga
Tapi tak lupa, aku ini seorang mahasiswa
Tidur subuh bagun subuh, karena ujian akhir yang tidak berakhir
Tidak perlu panjang, tulisan ini untuk ibu terkasih
Aku tulis sembilan belas hari yang lalu

#30

Bu, aku rindu
Di sini udara dingin, ibu baik-baik saja kan?
Ketika orang menganggapmu mentari yang hangat,
Ketika orang menganggapmu bulan penerang malam, dan
Ketika orang menganggapmu napas untuk hidupnya,
Izinkan aku menganggapmu kebun teh tempatku belajar senyuman

#40

Aku, Yuana di tanah rantau
Mengingat pagi suguhan ibu sebelum berangkat sekolah
Segelas teh sepiring pisang goreng, sederhana
Karena itu aku ingin punya rumah dekat kebun teh
Tapi tak mungkin ibu mau pindah
Janjiku juga, secepatnya kembali bersama mereka
Keluarga sederhana kami, atas permintaan ibu

#41

Hari ini, 00.01 WIB
Tulisanku hampir rampung, melalui hari panjang menemui detik-detik waktu
Merpati, terbang dan sampaikanlah.
Selembar foto kebun teh untuk ibu dan rangkuman puisi dari rinduku__
Anakmu:

Aku pulang namun tidak bersama puisi ini
Sekarang, 22 Desember 2019
Kutulis ini dalam 41 hari, sesuai umur ibu 41 tahun, “Selamat hari ibu”
Bu, udara sekarang dingin, ibu baik-baik saja kan?
Maaf aku menyusul merpati namun singgah di rumah sakit berobat ibu, temui aku
Ada kasih terlalu berat yang belum dibawa merpati

Ibu baik-baik saja kan? Sampai bertemu kembali,
Aku pulang bersama pencipta
Selamat hari ibu, demi kasih tertinggi aku teramat mencintaimu
__ anak ibu.

Dramaga, 5 Desember 2019