Bahwa Mereka Membawa Harapan

Injil Matius dalam salah satu ayatnya menuturkan bahwa di Tanah Yudea pada Zaman Raja Herod, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerussalem. Sesampainya di sana berkatalah ia kepada Herod, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangnya di Timur”, Injil Matius Pasal 2 ayat 2. Raja Herod merasa penasaran, heran sekaligus terganggu, dan melalui penasehatnya akhirnya mengetahui bahwa “raja” yang dipertanyakan kelahirannya oleh orang-orang Majus pasti lahir di Betlehem. Dan dalam perjalanan orang-orang Majus tersebut mengikuti bintang yang mereka lihat di timur, berhenti di tempat Yesus berada. Bintang Timur tersebut nantinya dikenal dengan Bintang Betlehem.

Dalam sebuah artikel berjudul what, if Anything (2015), Barthel menilai Bintang Betlehem adalah salah satu kisah benda langit yang indah dan memukau banyak orang. Sampai-sampai Leonardo Davinci bersama Domenico Ghirlandaio pada abad ke 15, mengabadikan keterpukauan mereka akan kisah Bintang Betlehem dalam lukisan yang dijuduli The Adoration of The Magi.

Lalu, dalam kitab Nurul Abshar fi Manaqib An-Nabiyyil Mukhtar, karangan Syekh Mu’min as-Syablanji, seorang ulama Sunni abad 13 H, pada halaman 27 menuliskan, bahwa ada seorang Yahudi yang menanyakan tentang peristiwa kelahiran Nabi Muhammad kepada penduduk Kota Makkah, dari indikasi cahaya terang benderang yang ia lihat di malam hari. Hal serupa diceritakan dalam kitab Uyunul Atsar, karya Al-Hafids Muhammad Al-Ya’mari halaman 81 dari pengakuan Fathimah binti Abdillah yang melihat cahaya terang benderang di malam kelahiran Rasul Muhammad SAW.

Lalu ada apa antara kelahiran pribadi-pribadi agung dalam sejarah, seperti Yesus dan Muhammad, dengan cahaya benderang di malam kelam? Barangkali kita bisa saja mencoba untuk memverifikasinya melalui sejarah atau astronomi modern, tapi titik pentingnya bukan di situ, titik pentingnya adalah apa maknanya bagi kita? Ini bukan sekadar soal cahaya ataupun bintang yang bisa diobservasi secara fisik, ini adalah soal cahaya atau bintang yang bobotnya serupa saat Ir. Soekarno menyebut Pancasila sebagai leitstar, semacam bintang penuntun yang menjadi pegangan para pelaut saat berada di tengah samudera luas, saat sulit menentukan arah jika di tepian piringan cakrawala yang terlihat hanyalah air dan desiran ombak, tak ada daratan sama sekali. Soekarno tak memaksudkan bintang penuntun yang memang secara empiris ada di langit malam, tapi itu hanya metafora Pancasila sebagai penuntun bagi bangsa yang baru saja lahir.

Saya tetiba juga teringat pada Nietzche saat memprovokasi kita untuk menjadi pengarung samudera, berbekal perahu/sampan atau apapun itu, tapi saat meninggalkan pulau terakhir Nietzche menyarankan untuk membakar pulau yang ditinggalkan, di mana bisa saja itu adalah pulau terakhir yang ada. Nietzche, mengajak kita mengarungi dunia/realitas dengan semangat dionisian, yang tak terobsesi untuk berharap pada pulau yang mungkin ada di depan sana, karena pulau terakhir telah dibakar, amor fati alias terima saja dengan sikap kesatria. Tapi saya tidak mengignat satupun ajakan Nietzche untuk membakar bintang gemintang di langit, yang walaupun dia ingin, dipastikan tak akan mampu.

Andaipun dalam dunia imajiner ala Nietzchean, yang ada hanyalah “samudera realita” sejauh mata memandang, dan sama sekali tak ada “pulau/daratan” (yang melambangkan otoritas, kepastian, konsep kebenaran yang terpercaya), tapi minimal masih ada leitstar, yang bisa menjadi patokan dalam menentukan posisi. Dan mungkin begitulah makna kelahiran pribadi-pribadi agung dalam sejarah, mereka bukan sekadar seonggok darah dan daging, tapi mereka berlaku sebagai leitstar (mungkin juga bisa dimetaforakan sebagai suluh), penuntun kemanusiaan yang sifatnya statis sekaligus dinamis. Lalu yang menjadi tanya, mereka mau menuntun manusia ke mana? tidak mudah menjawab ini. Walaupun kita menjawabnya dengan jawaban-jawaban seperti, mereka menuntun kita untuk “menjadi manusia paripurna”, atau menuntun kita kepada keselamatan (salam) dan keutuhan-kedamaian(shalom), tapi rasa-rasanya itu masih terlalu abstrak. Tapi setelah membaca kisah-kisah mereka, kita mungkin bisa memastikan, bahwa mereka membawa harapan.

Bayangkan jika ada penderita kusta dan kebutaan, yang mengalami kesedihan berlapis-lapis, kesehatan mereka tak prima sehingga tak sekuat dan sesegar orang-orang normal, bahkan senantiasa merasa kesakitan. Selain itu, mereka dianggap sebagai anggota masyarakat yang disfungsional karena tak memiliki peran produktif, bahkan dijauhi karena bisa menulari. Lalu Yesus mengulurkan tangan dan membela mereka. Di masanya para pendeta Yahudi begitu formal dalam menegakkan hukum, aturan-aturan keagamaan dijalankan tanpa cita rasa kasih sayang dan keadilan. Penguasa politikpun demikian, tak begitu peduli dengan kaum papa, yang mereka pedulikan hanyalah berkuasa demi kekuasaan itu sendiri. Di tengah situasi yang begitu tak menentu, Yesus datang memberi harapan bagi mereka yang “tak dihitung”, “tak dihiraukan” dan “kurang beruntung”.

Begitu pula saat Muhammad membawa risalahnya. Perempuan tak punya harga diri, anak yatim dihardik dan diterlantarkan, orang-orang miskin diabaikan, bahkan bayi perempuan rentan dikubur hidup-hidup. Para bangsawan lebih mementingkan kehormatan diri dan kewibawaan kabilah, ketimbang kepedulian terhadap sesama. Yang ingin saya sampaikan bahwa keduanya ada dalam rangka menutun kita pada sebuah pesan penting “selalu ada harapan bagi manusia dan kemanusiaan”, selalu ada harapan bagi orang cacat, pelacur, orang miskin, anak yatim, orang buta, peminta-minta untuk menjadi manusia utuh sekaligus dianggap sebagai manusia oleh sesama.

Lalu bagaimana dengan kita saat ini? Secara kasat mata, di ranah ekonomi-teknologi-politik masyarakat kita mencapai banyak kemajuan dibanding masyarakat saat Yesus dan Muhammad hidup. Tapi, manusia kini telah ter-engah-engah, setiap saat membanting tulang-jiwa-pikiran, untuk membuat sejarah. Masa lalu adalah target yang telah dilintasi, masa depan adalah target yang belum dicapai dan di antara itu manusia seringkali bertanya dan berpusar-pusar oleh karenanya, “Apa yang mesti diperbuat selanjutnya?” Dan ternyata derita tak kunjung lenyap, kelaparan tetap ada, pertempuran semakin canggih, kekerasan semakin mengglobal bahkan seringkali menggunakan kedok agama, lingkungan hidup kita semakin “sekarat” dan moralitas pejabat politik tidak sedikit yang telah “berkarat”. Belum ada satu pemikir pun, atau lembaga studi manapun, atau negara super power pun yang merasa dirinya mampu menggaransi bisa melenyapkan itu semua, ini tidak gampang bahkan sangat sulit, maka dari itu kita tetap butuh akan harapan.

Konon Yesus adalah inkarnasi Tuhan dalam rupa manusia, lalu mengapa dia mesti mengambil rupa manusia? lalu mengapa para nabi mesti seorang manusia? apakah tidak akan mudah jika Tuhan, turun tangan langsung memperbaiki keadaan, dengan mengatakan “jadilah” maka “jadilah dia”, maka hilanglah kelaparan, permusuhan, kerusakan ekologis dan mental korup? Tidak ada yang bisa menjawabnya pasti, tapi mungkin Tuhan menaruh kepercayaan besar pada manusia untuk mengurusi dirinya, sebagaimana tafsir Iqbal terhadap mitologi kejatuhan Adam-Hawa dari surga ke bumi. Atau mungkin untuk menegakkan martabat manusia, syaratnya adalah diperjuangkan oleh manusia itu sendiri, diinisiasi melalui inisiatif merdekanya sendiri. Tapi ini masih kemungkinan, tapi apapun jawabannya, pastikan anda tak kehilangan harapan.