Aku Menyukai Senyum yang Terbit di Bibirmu

Hari ini kubah-kubah itu merona berkilau bak emas, tersebab sinar matahari kembali menghangatkannya setelah melewati malam yang gerimis. Matahari memang begitu, selalu hadir membawa kehangatan dan tak pernah berkhianat pada waktu, selalu menepati. Itulah sebabnya aku amat menyukainya. Selalu ada kecerahan yang disuguhkan, secerah senyum yang kau layangkan pagi tadi.

Oh iya, apakah menatap matahari di tempat yang biasanya kau berdiri adalah rutinitasmu? Atau sengaja menungguku dan berbagi sedekah melalui senyummu? Ahhh… mungkin saja memang itu kebiasaannmu, buktinya angin mengabarkanku bahwa kau tetap berdiri di sana walau aku sesekali tidak melewati jalan itu. Ia pun mengabarkan bahwa saat aku tidak melewati jalan itu kau berdiri tanpa senyum dan pandangan yang tertuju pada jalan, seakan menghitung pejalan kaki dan meraba satu per satu wajahnya. Kau berdiri hingga matahari mulai meninggi, lalu kau berbalik dan senyum itu tak terbit. Apapun kebenaran yang ada pada keduanya, harus kuakui, aku menyukai senyum yang terbit di bibirmu.

Hei… Kau tahu? sebenarnya aku tidak tahu siapa nama yang disematkan kepadamu. Aku pun yakin, kau tak tahu siapa namaku. Kita hanya bertukar senyuman tanpa bertukar nama, hanya menyapa melalui mata, tak berani bertegur sapa. Tak mengapa, walau demikian entah mengapa aku cukup bahagia.

Baiklah, selamat menyambung kebaikan sepanjang hari ini, semoga esok aku bisa mendapatkan sedekah kembali dengan terbitnya senyuman darimu.