Bambang, Bulan dan Bambu

Namanya Bambang, dia bocah tua yang pekerjaannya setiap hari ke rumah bordil menghabiskan waktu di sana bermain dengan bunga raya. Meskipun dia sering ke rumah bejat itu, uangnya tidak pernah habis padahal dia tidak bekerja dan dia tidak punyak anak bahkan istripun tidak ada. Konon katanya dia sudah hidup lebih dari satu abad, kata orang-orang dia sebenarnya dari dulu sudah mati, tapi dia menolak untuk mati. Katanya kepada “tuhan” Seperti bocah yang tidak dibelikan mainan kepada orang tuanya, begitulah Bambang di hadapan tuhan, dia tidak mau mati sebelum dia mendapatkan bulan.

Hari-hari yang dilaluinya itu sudah cukup membosankan segalanya monoton. Mungkin saja dia sudah ingin mengakhiri hidupnya tapi bagaimanapun dia harus mendapatkan bulan sebelum dia benar-benar lenyap dari dunia munafik ini. Setiap hari setiap jam tujuh pagi dia harus membersihkan rumah mewahnya yang ditinggali seorang diri tanpa ada pembantu di rumah besar itu. Saat matahari sudah memanaskan badannya, Bambang si bocah tua harus bergaya lebih muda untuk menarik perhatian bayi-bayi pubernya. Meskipun dalam hati, kekasih fananya jijik bermain dengan Bambang, tapi uang Bambang sangat menggiurkan untuk dipakai berbelanja seperti membeli berbagi gincu terkenal dan termahal.

Sampai tiba waktunya Bambang muak dengan kehidupannya yang diisi oleh permainan bercinta setiap hari yang tidak didasari oleh kesetiaan, walaupun dalam hatinya berkata tidak ada yang namanya kesetiaan tetap saja Bambang sudah sangat muak. Bambang mengambil dua batang korek kayu dan tidak lupa mengambil kertas-kertas yang menggiurkan para kekasihnya. Kertas berharga itu seperti menjerit-jerit meminta pertolongan tapi kokohnya serangan dan hantaman api dan lemahnya kekuatan air yang dibawa oleh kekasih fananya Bambang tidak dapat menyelamatkan kertas-kertas berharga itu.

“Lupakan tentang gincu!” Bambang dengan nada mengejek dan pergi meninggalkan kekasih fananya itu.

Setelah membakar habis uangnya, Bambang juga tidak lupa untuk membakar rumahnya, karena Bambang berpikir harta hanya membuat dia semakin tua. Jika dia tetap jadi orang kaya dia tidak bisa bebas, hari-harinya akan dipenuhi dengan menjaga harta dari para pencuri yang kurang handal itu.

“Mencuri kok setengah-setengah”. jadi lagi-lagi serangan dan hantaman si jago merah menelan rumah besar itu.

Orang-orang di sekitar Bambang sudah mengangap Bambang itu gila, tapi sebaliknya Bambang malah menilai yang sebenarnya gila itu adalah orang-orang yang tetap memperhatikannya. Padahal Bambang sepeserpun tidak pernah menggaji orang-orang itu untuk memperhatikannya. Bambang yang kehilangan rumah mewahnya membuat rumah bambu yang pada saat malam hari rumah bambu Bambang hampir mirip dengan warnah bulan yang tergantung di angkasa. Ini semakin membuat Bambang bersinergi untuk mendapatkan bulan itu.

Sampai kilatan cahaya yang sangat cepat menuju rumah bambu Bambang dan angin sepoi-sepoi mengetuk pintu kamar Bambang dan menyerap masuk ke telinga kanan Bambang.

“Keluarlah!” itu isi pesan yang dibawa anak-anak angin.

Bambang keluar dari rumahnya dan melihat Tuhan sudah ada di depannya.

“Pokoknya saya menolak untuk mati titik” Kata Bambang sambil menyilangkan kedua tangan ke dadanya karena sudah mengetahui maksud kedatangan Tuhan.

“Tapi umurmu sudah terlampau jauh untuk hidup Bambang”.

“Apa salahnya dengan umurku” Bambang memunggungi Tuhan.

“Pastinya salah, karena aku mau menciptakan manusia yang lebih berguna dibandingkan dirimu yang hari-harimu dipenuhi dengan kejahatan-kejahatan dan menghambur-hamburkan uang serta memimpikan bulan itu tidak mungkin” kata Tuhan sambil menunujuk Bambang.

“Tapi kau pastinya dari dulu tahu bahwa aku hidup hanya untuk mendapatkan bulan. Kalau aku berbuat kejahatan atau menghambur-hamburkan hartaku, itu karena aku bingung mau bagaimana melakukan hal-hal yang tidak monoton lagi”

“Kalau kau mengambil bulan, makan orang-orang akan kegelapan pada saat malam hari Bambang. Dan itu hanya menambah masalah, asal kau tahu di dunia ini sudah banyak masalah dan kau mau menambah masalah lagi”

“ahhh sudah… Pokoknya aku tidak mau mati, lagi pula kau bisa mencabut nyawa orang-orang yang membuat masalah di dunia ini selain aku, dan menciptakan orang-orang yang sok suci… Yang bisa menyelamatkan dunia ini dari orang-orang yang berbuat kejahatan”.

“Kau memang keras kepala Bambang… Satu hal yang membedakan manusia dan hewan adalah pilihan. Hewan tidak bisa memilih tapi manusia mempunyai pilihan”.

Kilatan cahaya melesat jauh ke angkasa, lagi-lagi anak-anak angin menyampaikan pesan melalui telinga kanan Bambang “kau boleh menguasai kejahatan karena kau manusia, tapi kau harus juga bertanggung jawab atas kejahatanmu nantinya”.

Bambang masih mencari cara untuk mendapatkan bulan itu, walaupun dari segi fisik dan usia dia sudah tidak mampu tapi jiwanya tetap seperti masa mudanya dulu. Bahkan orang-orang tidak menyangka bahwa Bambang sebenarnya tidak dapat melihat lagi, soal itu karena dia memang sudah terlampau tua. Bambang menggunakan instingnya saat berjalan, dan itu sangat membantu dia dalam hari-harinya yang penuh dengan duka. Sampai tiba waktunya Bambang merencanakan untuk mencuri bulan itu, tapi di luar dugaan bulan itu turun dengan sendirinya dari bumantara, sampai Bambang merasakan cahaya yang sangat dahsyat ada di sekelilingnya. Bahkan dia langsung bisa melihat lagi. Orang-orang takjub melihat bulan berada di bawah. Saat itu juga Bambang mengambil sisa-sisa bambu dari pembuatan rumah bambunya dan menaiki bulan. Mendayung menggunakan sisa bambunya terus-menerus sampai bulan kembali berada di cakrawala.

Kemudian sesuai perjanjian, secara perlahan mata Bambang tertutup lalu menyatu dengan udara di atas sana. Yang tersisa dari Bambang hanyalah puing-puing rumah bambunya yang secara bersamaan roboh dengan kepergian Bambang.