Awam yang Profesional

Dinamika kehidupan di era modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi saat ini semakin sulit untuk dibendung. Utamanya dari segi penggunaan sosial media, hal demikian ditandai dengan semakin tipisnya batas penghalang komunikasi yang dilakukan oleh umat manusia.

Kita sering menyaksikan berbagai macam persoalan yang menimpa republik ini baik itu persoalan sosial, ekonomi, budaya politik maupun agama itu semakin mudah diketahui oleh khalayak masyarakat sehingga memicu respon dalam skala yang lumayan besar.

Perkembangan teknologi yang semakin memudahkan dalam urusan komunikasi menghasilkan sebuah pertunjukan persilatan lidah atau saling hujat-menghujat dalam dunia digital kaitannya dalam merespon problem-problem tadi.

Lucunya karena keadaan tersebut, melahirkan banyak ahli atau pakar dadakan. Hal demikian dapat kita lihat di mana semua persoalan tadi seakan-akan sangat sederhana. Sehingga untuk menyelesaikan itu semua, siapa saja bisa tampil memberi solusi atau “win-win solusion” dari persoalan tersebut. Fenomena itulah yang bisa kita sebut kemunculan “pakar-pakar dadakan”.

Ada sebuah cerita yang sangat inspiratif yang dituliskan oleh seorang filsuf muslim dalam karya monumentalnya yang berjudul “Matsnawi” yaitu Jalaluddin Rumi.

Diceritakan pada perjalanan di atas sampan terjadi dialog antara nelayan dan ahli bahasa. Dalam dialog tersebut si ahli bahasa bertanya kepada si nelayan “Wahai nelayan tahukah kau yang dimaksud dengan sinonim?” Si nelayan yang notabenenya tidak pernah mengecap pendidikan formal tentu saja tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan sinonim.

Setelah mendengarkan jawaban tidak tahu dari si nelayan akhirnya si ahli bahasa mengatakan “Bagaimana mungkin kau sudah tua begini tapi tidak mengetahui apa itu sinonim”. Mendengar jawaban yang sedikit angkuh tersebut sedikit menggores hati si nelayan, tapi si nelayan membiarkan saja dan tidak terlalu merespon.

Di tengah perjalanan mereka berdua tiba-tiba gelombang besar disertai angin kencang datang menghampiri dan menghasilkan situasi yang sangat mencekam. Maka si nelayan tadi bertanya kepada si ahli bahasa “Bisakah kau berenang?” si ahli bahasa tersebut menjawab “Aku tidak bisa berenang” mendengar jawaban dari si ahli bahasa, si nelayan akhirnya berkata “Bagaimana mungkin kau sudah tua sementara kau tidak bisa berenang”. Persis perkataan si ahli bahasa kepada si nelayan tadi.

Akhirnya mereka berdua masing-masing menyelamatkan diri di tengah keadaan mencekam tersebut dan sudah pasti si ahli bahasa akhirnya hanyut bersama gelombang besar tersebut karena tidak bisa berenang.

Dari cerita tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa secerdas apapun kita dalam bidang tertentu maka yakinlah akan ada pula orang yang lebih cerdas di bidang lain. Karena masing-masing manusia memiliki spesifikasi kecerdasan di bidang masing-masing karena yan mengetahui segalanya hanyalah Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Sikap yang harus kita kedepankan dalam menjalani spesifikasi kelebihan masing-masing tersebut adalah sikap saling menghargai satu sama lain dan yang paling penting kesadaran akan masing-masing kelebihan dan kekurangan. Munculnya fenomena “kemunculan pakar dadakan” yang menghasilkan efek persilatan lidah yang semakin marak di jagad sosial media disebabkan minimnya sikap saling menghargai akan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Salah seorang ulama yang dijuluki “hujjatul Islam” Imam Al-Ghazali berpesan kita seharusnya tidak hanya menjadi profesional pada bidang-bidang pelajaran atau pekerjaan tertentu, tapi terhadap keawaman kita sendiri. Mestinya kita menjadi profesional agar kita mampu menahan diri untuk tidak merespon hal-hal yang belum kita pahami.

Maka untuk menjaga harmonisasi dalam kemajuan tekhnologi dan kebebasan berkomunikasi di era modern ini mari kita sama-sama mengupayakan menjadi “awam yang profesional” akan hal-hal tertentu.