Mari terus “Menggibah” Negara (Indonesia)

Definisi negara singkatnya menyimpulkan, suatu organisasi yang terdiri dari entitas manusia, memiliki entitas sistem yang kompleks dan problematika yang beragam. Entitas sistem yang dimaksud adalah pemerintah, masyarakat, wilayah. Mendapatkan kedaulatan dari negara lainnya dan yang terbaru adalah terdapat sebuah identitas ideologi. Adapun problematika yang berlangsung di dalamnya, hasil daripada gesekan konstruksi entitas sistem, dalam suatu negara tersebut. Lahirlah berbagai variable-variabel konflik yang dinamis dengan adanya patologi ekonomi, politik, budaya, agama, sosial, dan kemanusiaan.

Ragam problematika yang terdapat dalam negara, yang timbul dari hasil gesekan entitas sistem bernegara tadi. Tentunya akan mengancam stabilitas kehidupan secara komunal dan juga akan berdampak sistemik menjadi konflik kemanusiaan yang terjadi secara nasional. Hal ini mengartikan bahwa, menjaga keutuhan dan keamanan negara, adalah sebuah tantangan besar, khususnya bagi manusia yang memulai kehidupannya di negara tertentu dan pastinya dengan rasio ketimpangan sistem bernegaranya.

Mari kita melihat Indonesia, secara karakter teritorial adalah sebuah negara kepulauan. Terpisah dengan berbagai jarak menjadi beberapa bagian wilayah terstandar. Meskipun terpisah dengan berbagai jarak tertentu antar wilayah, namun di masing-masing wilayah, tetap berdaulat sebagai bagian dari NKRI. Menjadi pertanyaan kemudian, apakah prinsip kedaulatan negara (Indonesia) itu, menjamin keberlangsungan proses bernegara itu sendiri? Sedangkan problematika bernegara makin berkelimpangan dan sangat berpeluang memecah persatuan. Berdasar variable-variabel konflik yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Solidaritas kedaulatan bernegara yang melemah
Arti sebuah kedaulatan adalah adanya kesamaan prinsip dan cara pandang, beserta keyakinan (bukan dalam konteks agama) atas sebuah tujuan yang sama pula. Sehingga apapun yang terjadi dan bagaimana proses bernegara suatu wilayah itu berlangsung, jika prinsip kedaulatan NKRI yang tetap dikedepankan, maka masih memungkinkan untuk terjaminnya sebuah persatuan. Namun realitas berkata lain, bahwa di masing-masing wilayah, buktinya mengalami sebuah kelunturan semangat kesatuan. Tidak disebabkan karena di masing-masing wilayah, masyarakatnya tidak berdaulat secara mutlak atas eksistensi NKRI, akan tetapi lebih banyak disebabkan oleh variable-variabel konflik (ekonomi, politik, budaya, agama, sosial, dan kemanusiaan).

Pada akhirnya, variable-variabel konflik tersebut menjadi bahaya laten yang menjelma sebagai sebuah diskursus wacana yang tak pernah ada habisnya di tengah-tengah masyarakat. Juga seiring mengikis rasa persatuan karena wacana debatebel yang tak berujung dan menguras emosi, sebagaimana penampakan Indonesia saat ini. Setiap hari dan setiap malam masyarakat disuguhi lewat media televisi, agenda-agenda talkshow politik perdebatan antar tokoh negara. Menampakkan gimik yang tak sopan, serta memberikan contoh yang tidak baik kepada masyarakat. Sumpah serapahpun menjadi kebiasaan buruk dan menjadi biasa. Akhirnya kehidupan debatebel dimedia-media talkshow politik tersebut. Secara alami teraktualisasi terhadap kehidupan masyarakat.

Perbedaanpun semakin sensitif, perilaku yang buruk mulai nampak dengan berbagai rupa di masyarakat. Solidaritas semakin tergerus dan menggerus rasa persaudaraan. Maka tak menutup kemungkinan, ramalan yang sempat menggegerkan beberapa lapisan masyarakat, bahwa Indonesia akan bubar dengan sendirinya pada tahun 2030 mungkin saja terwujud dengan tanda massifnya polarisasi masyarakat.

Mari terus “menggibah”
Menggibah, salah satu aktivitas yang menurut saya terbilang suatu hal yang biasa bagi masyarakat Indonesia. Kadangkala menjadi sebuah fenomena sosial yang unik, karena biasanya menjadi bahan ledekan dan candaan. Namun sebaliknya dalam kacamata agama (Islam), tentu itu adalah suatu perbuatan yang sama sekali berbahaya dan menciderai nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai beragama. Tentu dampak daripada perilaku gibah/gossip, merupakan pemicu terjadinya sebuah konflik sosial. Perlahan tapi pasti akan menimbulkan ketimpangan.

Namun menggibah yang saya maksud dalam artian positif. Secara umum dan teknis, gibah merupakan aktivitas komunikasi yang laten dan tersistematis dan pasti. Memiliki efek indoktrinasi yang mampu mengubah persepsi dan perilaku subjek terhadap subjek lainnya. Contohnya dalam kehidupan bersosial, singkatnya gibah adalah menceritakan tentang perihal ihwal keburukan orang lain, tanpa sepengetahuan orang yang sedang diceritakan keburukannya, yang itu sangat berpengaruh secara psikologis dan emosional.

Begitupun masyarakat harus senantiasa sibuk “menggibah” negara. Menggibah dalam artian, bahwa wacananya jangan mau dikalah oleh para elitis negara yang seolah hanya mereka yang paham baik buruknya serta masalah dan solusinya suatu negara. Tak dapat dipungkiri bahwa memang para elitis negara, mahir membincang sebuah kondisi negara disebabkan karena kemahirannya juga dalam meraut literatur.

Lalu apakah masyarakat kelas bawah juga bisa membincang negara, tanpa memperoleh literatur atau buku diktat? Tentunya bisa dan sangat bisa. Dengan menumbuh suburkan pembicaraan-pembicaraan yang memantik rasa nasionalisme. Mulai saja dari hal-hal terkecil, membaca koran, melek media informasi/ online yang memuat kabar negara. Atau juga sibuk membahas bagaimana realitas pelayanan birokrasi, fasilitas wilayah dan berbagai pembahasan yang mampu menumbuhkan kepekaan dan keprihatinan terhadap bangsa dan negara.

Alangkah indahnya ketika pemandangan pembahasan masyarakat atau pola menggibah yang kerap kali menggentayangi antar masyarakat secara komunal, berisi suatu perbincangan keburukan negara, menurut persepsi masing-masing, lalu berinisiatif untuk melahirkan sebuah gerakan-gerakan kecil yang berasal dari “gibah” positif tersebut. Bukan gibah yang terus sibuk menelanjangi perilaku seseorang yang belum tentu punya kontribusi untuk kita, orang banyak, serta bangsa dan negara tercinta Indonesia.