Orang-orang Begitu Mudahnya Merasa Terhina

Donald Trump resmi dimakzulkan oleh DPR AS. Dalam jajak pendapat yang dilangsungkan tanggal 18 Desember 2019 malam, sebanyak 230 anggota perwakilan yang bersepakat untuk memakzulkan Trump, dan 197 lainnya menolak. Dan ini berarti Trump menjadi presiden Amerika ke tiga yang dimakzulkan, begitu riuh memang, tapi inilah konsekuensi dari politik demokratis, di mana tak seorang pun yang memegang kekuasaan secara absolut.

Saya lalu teringat dengan Stephan Bannon, sosok yang begitu besar perannya dalam menjadikan Trump sebagai presiden AS. Menurut analis politik koran die Zeit, Kersten Kohlenberg, Bannon membangun semacam platform politik untuk mengubah Partai Republik menjadi partai nasionalistis yang mempunyai selera etnosentris. Ia ingin melumpuhkan agenda-agenda global, demi keuntungan lokal. Ia ingin merubuhkan politik yang dikendalikan elit dan menegakkan politik yang populistis. Senjata untuk meraih kemenangan elektoral bagi Trump di masa lalu adalah dengan mengolah instalasi isu yang bercorak rasisme, antisemitisme dan penyulutan kebencian para elite. Bannon merangkai isu bahwa warga kulit putih “merasa asing atau mulai merasa asing di negerinya sendiri”.

Fenomena Trump dan Bannon, sebetulnya bukanlah hal baru, dia adalah hal lumrah dalam sejarah kekuasaan, cuman ada yang menunjukkan tempramentalnya secara eksplisit sehingga mudah mengundang kegaduhan di publik, tetapi ada pula yang tak terang-terangan tapi liciknya bukan main. Kekuasaan memang seringkali merayu manusia, se-saleh apapun dia sebelumnya, agar “ngotot-ngototatan” dalam mewujudkan ambisi. Tapi “ngotot-ngototan” seringkali diikuti oleh semacam perasaan yang lain, apa itu? yaitu perasaan “gampang terhina”.

Kekuasaan yang saya maksud di sini, bukan hanya kekuasaan yang kita peroleh saat berhasil masuk dan memiliki posisi dalam lembaga politik formal tertentu. Kekuasaan di sini adalah segala hal yang membuat kita mampu “memaksa” yang lain “menginginkan seperti apa yang kita inginkan, membenarkan seperti apa yang kita benarkan, meng-imani seperti apa yang kita imani”. Tak soal sebenarnya jika ada orang yang akhirnya membenarkan rumusan kebenaran kita, jika ada orang yang menerima iman seperti iman kita, tapi dalam kuasa ada “paksaan”, dan dalam “paksaan” yang diizinkan hanyalah “monolog” bukan “dialog”, yang diperkenankan hanyalah “khutbah satu arah” bukan “diskusi terbuka”, yang diperbolehkan hanyalah “instruksi” bukan “kritik”. Seakan-akan semesta yang sebenarnya beserta penafsiran yang tepat mengenainya, hanya berada dan hanya berada dalam “batok kepala saya” atau “batok kepala yang semazhab-seorganisasi-sekaum-sekelompok dengan saya”.

Jens Jessen seorang esais die Zeit, saat ini orang-orang begitu mudah merasa terhina. Dan ini sebenarnya semacam paradoks globalisasi, di satu sisi kita begitu mudahnya berkomunikasi dengan orang lain, di mana pun dia berada, di negara manapun dia menjadi warga negara, beragama apapun dia, ber-ras apapun dia. Tetapi kemudahan menerima dan mengirim informasi-opini dari mana dan ke mana pun, seakan-akan juga membuka semacam cara-cara baru, memperluas kemungkinan-kemungkinan dalam menyalurkan agresi-amarah-rasa terhina kita pada “yang lain”. Begitu seringnya kita melihat “wajah” yang berbeda dengan kita di beranda-beranda media sosial, tetapi tatapan kita pada “wajah” mereka bukannya meyulut tanggung jawab etis padanya, tetapi seringkali justru menyulut benih-benih amarah. “Wajah yang lain” tak lagi dipandang sebagai “wajah manusia sebagaimana manusia-nya saya” tetapi dipandang sebagai “representasi keyakinan-kelompok-partai-mazhab-sekte yang berbeda dengan saya”.

Cherian George dalam Pelintiran Kebencian (2016), mengatakan bahwa globalisasi sedikit banyaknya memaksa orang-orang untuk berhadap-hadapan dengan orang-orang asing dan nilai-nilai mereka, baik lewat tatap muka maupun melalui media. “Orang yang takut terhadap perubahan yang dibawa globalisasi kerap menginginkan ide-ide sederhana yang memberi rasa stabilitas yang menenangkan. Pelintiran kebencian memenuhi kebutuhan tersebut dengan visi sebuah komunitas yang saling berpegang erat dan bersatu musuh bersama. Ia mengkonversi kegelisahan yang rasional dan defensif menjadi mode penyerangan yang paranoid………”, ungkap Cherian George.

Kata Jessen, dewasa ini sulit bahwa orang tidak merasa terhina. Rasa keterhinaan seperti penyakit yang sedang mewabah dan menjangkiti semua penjuru dunia. Orang begitu mudahnya saling merendahkan satu sama lain, karena alasan idealisme dan gaya hidupnya. Kelompok-kelompok juga mudah merasa kehormatan dan harga diri mereka diserang. Bukan hanya kelompok minrotitas yang mudah merasa terhina, tetapi justru kelompok mayoritas yang saat ini mudah merasa terhina bahkan dipolitisai rasa keterhinaannya.

Hal yang sama yang coba diwartakan oleh Bannon dan Trump dalam kampanye-kampanye politiknya, mayoritas warga Amerika yang kulit putih konon merasa tidak at home dengan kedatangan para migran ke negerinya. Kaum minoritas bahkan dianggap melabrak nilai-nilai tradisional yang dulu mapan. Penutup muka, burka dan hijab dipandang sebagai hal yang menyepelekan emansipasi kaum perempuan di Barat. Dalam situasi seperti ini muncullah apa yang disebut oleh Jessen dengan “konkurensi korban”. Maka orang orang berlomba, entah minoritas ataupun mayoritas untuk mendapatkan citra korban sebesar-besarnya. Dulu sedapat mungkin orang menyembunyikan keterhinaannya, tapi dalam situasi sosial-politik saat ini, orang sama sekali tak takut kehilangan muka bahkan mendapat muka bila ia tampil dengan keterhinaannya.

Dan anehnya, rasa terhina ataupun ketersinggungan (apalagi jika beraroma agama atau ras), merupakan sumber daya politik yang bisa diolah secara fleksibel dan memakan biaya politik rendah, walaupu memakan biaya sosial-kebudayaan yang tak tertanggungkan. Dia bisa diolah dan dikapitalisasi dalam ruang virtual yang hampa akan konteks. Para elit politik atau demagog yang jeli melihat situasi tersebut, dapat menampilkan diri sebagai juru selamat yang tanggap dalam mengidentifikasi sekaligus mengalahkan kejahatan/musuh tersembunyi. Kata Nussbaum “ujung dari gagasan tentang kejahatan tersembunyi adalah gagasan tentang intuisi yang lebih unggul”, dan dalam hal ini kepemimpinan kharismatik jauh lebih laku ketimbang kepemimpinan yang rasional.

Sebagai akhir esai sederhana ini, ada baiknya kita merenungkan gagasan Hegel dalam Phaenomenologie des Geist, bahwa kesadaran diri hanya terbentuk bila manusia mengakui satu sama lain. Pada asimetri yang ekstrem, di mana orang terjauhkan dari pengakuan satu terhadap lainnya, kita hanya menemukan dua kutub yang cacat pada dirinya masing-masing.

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]