Paseng

Inngerakki Nak (ingat kami Nak) ” Kata Bapak singkat.

***

Namanya Nagauleng, kali pertama dia menemukanku kala aku menangis sesugukan di bawah pohon gara-gara gerombolan anak laki-laki. Aku yang pendiam dan pemalu tentu saja tak bisa bersosialisasi dengan baik. Nagauleng yang pertama kali tersenyum, mengusap air mataku, mengulurkan tangannya. Nagauleng seorang perempuan dengan perwatakan keras, dari potongan rambut menggambarkan perawakannya yang tomboy, seorang kawan, teman, sahabat, saudara, yang cukup mengerti dan memahami kehidupanku. Kami menjalani kehidupan di kota metropolitan sebagaimana mahasiswa kebanyakan, mengadu peruntungan di kota Daeng dengan harapan dan mimpi dari orang-orang yang sudah hampir menua.

Beberapa hari ini Nagauleng jarang pulang ke kontarakan, kesibukannya sebagai pekerja seni kampus membuatku tak pernah melihat wajahnya yang selalu penuh dengan optimisme. Siang itu Nagauleng muncul dengan tiba-tiba, merapikan beberapa helai pakaian ke dalam tas ransel eiger kesayangannya.

“Mau keluar kota lagi?”

“Iya, kali ini mungkin agak lama. Ada pementasan tour dari kota ke kota”

“Baiklah… aku meneruskan membaca Tolstoy yang beberapa hari ini tak berhasil kuselesaikan. Pintu kamar berderit. Nagauleng pergi. Entahlah…di kota manalagi?

Pagi itu, aku masih dalam dekapan selimut. Nagauleng membangunkanku dengan pelan, Aku yang masih dalam buaian mimpi tentu saja kaget, kutekan saklar lampu satu-satunya penerang dalam kamar, untuk berjaga-jaga memastikan bukan malaikat maut yang membangunkanku ataukah pencuri yang berniat jahat. Nyatanya betul dia Nagauleng. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 05.00 dini hari. Nagauleng datang dengan mata sembabnya, datang padaku mencari pelukan,satu hal yang langsung terlintas di pikiranku adalah bapak. Bapak Nagauleng adalah ayah kami berdua dari ibu yang berbeda belakangan kondisi beliau kurang membaik. Setelah beberapa kali keluar masuk rumah sakit, paramedik belum juga menemukan penyakit beliau, ratusan pil, botol cairan tak mampu meredakan sakit bapak. Entahlah paramedisnya yang tidak bisa memberi diagnosa atau penyakit bapak yang memang langka. Bapak mengeluh sakit pada bagian perut, sekilas hanya penyakit biasa. Bapak semakin kurus, makananan pun tak bisa masuk dan dicerna dengan baik, semuanya kembali dimuntahkan. Merawat bapak di rumah adalah keputusan yang terbaik, Ibu Nagauleng masih saja dengan harapan yang tinggi, kelak bapak akan memulih. Usaha demi usaha tetap dilakukakannya sampai bertemu dengan orang pintar, sekalipun aku tak percaya ibu Nagauleng tetap melakukannya. Menurutnya bapak kena penyakit kiriman, ah entahlah…

“Kenapa dengan Bapak?” Seruku dengan nada khawatir.

Nagauleng merapikan duduknya di pinggiran kasur, menyandarkan kepalanya di tembok, kedua tangannya menutup wajahnya yang kelihatan berantakan dan semrautan. Sepertinya ada beban yang begitu berat.

“Maafkan aku Padauleng, aku pantas mati. Aku telah melakukannya…. Aku gagal menjaga paseng bapak” Mata kami beradu, dia menatapku dengan tatapan kosong. Kata-katanya seperti mengawang di udara aku paham apa yang dia maksud “aku telah melakukannya”. Aku beranjak, meninggalkannya yang terpaku menatap punggungku melangkah menuju keluar kamar. Seperti biasa aku hanya diam, dan seperti biasa pula aku tidak akan berbicara banyak apalagi tentang Tuhan, aku tak pernah berani berbicara soal itu, karena akupun jauh dari itu, kali ini aku betul-betul ingin bertemu Tuhan, sudah agak lama aku telah lupa.

Perlahan semua kembali normal dan bahkan aku telah melupakan apa yang dikatakan Nagauleng subuh itu, dua bulan berlalu. Masih dengan gerimis yang sama di matanya, Nagauleng datang kembali dengan sebuah pengakuan kedua. Pengakuan gila yang membuatku shock.

“Jangan mengatakan hal konyol padaku Nagauleng.

“Aku serius”

Tangisnya pun pecah dan menghambur memelukku, kurasakan gemetaran seluruh tubuhnya, seperti biasa pun aku hanya terdiam, menunggunya menuntaskan tangis yang membuncah.

“Apa yang harus ku lakukan Padauleng?”

Di benakku terbayang wajah keriput bapak. Kenapa melanggar paseng itu? Sanggupkah kau menerima karma Tuhan dan karma sosial? Bagaimana bapak menanggung siri’nya?? Anak perempuan bapak tak lagi sama. Ingin sekali kupotong kepala laki-laki itu dan kubawa ke hadapan bapak andai bisa menghapus siri’ keluarga kita.