Peranan Pappaseng sebagai Unsur Kurikulum Pendidikan

Pendidikan  di Indonesia tampaknya menjadi bahan diskursus yang tak kunjung menemui idealnya. Tidak lagi disadari secara substansi dan tidak diimbangi secara massif, dengan sebuah gerakan-gerakan nyata (sekalipun itu gerakan kecil). Bahwa pendidikan sejatinya adalah sebuah jalan jitu, mengonstruk sebuah peradaban bangsa yang diinginkan. 

Kalaupun ada individu yang tersadarkan akan hakikat mulia pendidikan tersebut, sebagai suatu proses pembentukan peradaban. Belakangan ini lebih berfungsi sebagai bahan narasi dan wacana semata, bagi “orang-orang tertentu”. Dari warkop ke warkop, forum ke forum, seminar ke seminar dan agenda seremonial lainnya. Tanpa ada perubahan yang signifikan, dari serangkaian proses narasi dan wacana tersebut.

Betapa naifnya nasib pendidikan Indonesia. Lebih spesifik dan krusial adalah kebiasaan buruk yang tak mampu diubah oleh penguasa di negara kita (Indonesia) terhadap nasib pendidikannya. Setiap pergantian menteri pendidikan, maka berganti pula arah kebijakan kurikulum. (Katanya) Semua demi tujuan pendidikan yang lebih baik ke depannya. Sudah lelah wajah pendidikan kita, terus menerus berganti “topeng”. Entah untuk siapa sebenarnya pendidikan ini ditujukan? Dan untuk apa sebenarnya pendidikan ini diselenggarakan?

Jika dikatakan pendidikan di Indonesia, terselenggara untuk siapa? Untuk membangun karakter dan moral arif, serta bijaksana yang menjunjung nilai-nilai kemasyarakatan dan kemanusiaan. Namun realitasnya. Pendidikan kita, makin hari berparadigma pragmatis dan penuh egosentris. 

Terbukti dengan munculnya di antara peserta didik, persepsi persaingan peraihan angka tertinggi sebagai penentu kesuksesan. Demi orientasi dunia kerja, sebagai alat pemuas para bos-bos korporat dan perusahaan. Atas kecerdasan kognitif dan taktisnya. Lalu kemudian, mengabaikan nilai-nilai sosial-budaya yang berpeluang, membuat generasi bangsa terasingkan dari habitus kehidupannya. Sebagai makhluk yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Jika ditanyakan, pendidikan kita untuk apa terselanggara? Berdasarkan UUD, Jelas mungkin kita akan mengatakan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun lagi-lagi realitas dominan menunjukkan bahwa output daripada pendidikan kita belakangan ini tidak lebih cerdas. 

Mungkin cerdas secara kognitif atau matematis. Namun tidak cerdas secara etika, spiritual dan emosional. Betapa banyak kasus-kasus yang tidak elok, bermunculan di media sosial. Terkait pemukulan siswa terhadap guru. Adanya pengaduan hukum oleh siswa terhadap seorang guru, hingga akhirnya dipenjarakan.

Seolah guru dan murid masa kini, ada suatu kelas sosial yang terkonstruk dan bisa saja saling mencelakakan satu sama lain. Ironis rasanya. Padahal guru dan murid adalah satu kesatuan yang pada dasarnya saling membutuhkan dan saling mengayomi satu sama lain. Mustahil mereka untuk membuat sekat primordial, karena hal itu akan mendegradasi secara hakikat nilai-nilai pendidikan.

Kurikulum penentu wajah pendidikan

Mungkin sebagian orang belum mengetahui bahwa kurikulum merupakan variabel vital, yang perlu sama sekali mendapatkan perhatian khusus. Bahkan dalam perumusannya, harus melakukan pengelaborasian pemikiran dan nilai-nilai seluruh elemen masyarakat. Mulai dari representasi petani, nelayan, buruh, budayawan hingga para akademisi. Jika tidak melakukan pengelaborasian. Maka tentu kebijakan kurikulum akan menghasilkan sebuah proses yang sangat subjektif. 

Sebagaimana fokus isu yang berkembang dan sering diwacanakan, apalagi selama bapak Nadiem Makarim yang merupakan CEO Gojek tiba-tiba menjelma sebagai menteri pendidikan. Di periode ke dua presiden Jokowi, seakan masalah pendidikan di Indonesia dipersempit. Hanya dipandang pada persoalan rumitnya administrasi, beberapa proses ujian di kelas yang tidak jelas orientasinya, kebebasan guru dalam mengatur instrumen pembelajaran dan murid dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan. 

Ke empat variabel problematika tersebut, bagi pak Nadiem (setidaknya saat ini) adalah suatu hambatan pendidikan untuk selangkah lebih maju, yang perlu direduksi. Tak dapat dipungkiri bahwa apa yang diasumsikan dan konsepsi pak Nadiem, di satu sisi perlu diapresiasi namun di sisi lain masih perlu rasanya untuk pak Nadiem melihat secara holistik lagi. Apa yang menjadi hakikat dari pada pendidikan itu sendiri.

Pendidikan secara hakikat adalah menghendaki adanya suatu perubahan perilaku, karakter, etika dan wujud tindakan apresiatif terhadap ragam nilai-nilai kemanusiaan. Kecerdasan kiranya juga perlu, seperti kecerdasan matematis, kinestetik, exacta dan ilmu keterampilan sejenisnya. Sebagai perangkat manusia dalam mewujudkan kebermanfaatannya dalam praksis kehidupan. Namun yang tak kalah penting adalah kecerdasan secara spiritual, emosional dan psikologis.

Dalam kumpulan tulisan Haedar Baghir, yang berjudul Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia. Dikatakan bahwa, faktor yang terpenting dalam menentukan kebahagiaan seorang anak di mana dan kapan pun dia berada. Bukanlah semata dilihat dari suatu perspektif angka, atau kecerdasan intelegensi lainnya. Melainkan kecerdasan emosional dan keseimbangan kepribadiannya. Sebab dengan begitu, seorang anak akan mampu beradaptasi dan berakselarasi dengan kondisi di mana ia hidup dan bersosialisasi. Bersamaan dengan hidupnya nilai-nilai masyarakat sekitar dan budaya setempat.

Maka dari itu, pentingnya sebuah kurikulum untuk disusun sedemikian rupa. Berdasarkan akumulasi nilai-nilai masyarakat dan budayanya. Sebab persoalan karakter bangsa yang selama ini, diresahkan dan dielu-elukan untuk segera dibenahi. Namun saja tak kunjung menemui hasilnya. Ada semacam disorientasi pada kurikulum kita. Sudah berapa kali pergantian menteri dan sudah sekian kali varian kurikulum dicoba. 

Tak lain dan tak bukan, tujuan ingin menciptakan karakter bangsa yang berintegritas. Mampu menghargai nilai-nilai kemanusiaan: tata krama, etika, sopan santun, perilaku luhur. Nyatanya semua kurikulum yang telah diejawantahkan tidak tepat sasaran. Bermaksud ingin mengkonstruk karakter dan kepribadian bangsa, berdasarkan konteks ke Indonesiaan. Akan tetapi yang lebih ditekankan , mengacu kepada satu aspek saja (kognitif) sebagai representasi berhasilnya suatu proses pendidikan. Adapun nama kurikulum, yang mengatasnamakan karakter. Hanya menjadi tagline nihil.

Itulah sebabnya, mengapa di dalam kurikulum harus lebih banyak memuat persoalan praksis sosial, dan penguatan nilai-nilai kebudayaan setempat (kearifan lokal). Karena kita berbicara tidak saja karakter secara umum, tetapi karakter berdasarkan di mana seorang individu itu bergumul dalam suatu nilai-nilai komunal yang khas. Dengan begitu kurikulum yang sering kita sebut “berkarakter” mampu terealisasi dengan efisien dan efektif, sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang beragam. 

Berkat kolaborasi dari karakter masing-masing daerah, dan tentu akan segera cepat mempertegas wajah pendidikan Indonesia. Secara eksklusif tanpa harus mencerabut spirit nasionalisme dalam tiap diri individu. Dengan syarat dalam perancangan kurikulum, harus lebih mengakumulasi nilai-nilai kebudayaan yang relevan dan tentunya tidak bertentangan dengan prinsip dan karakter bernegara.

Pappaseng sebagai unsur dalam sebuah kurikulum

Pappaseng adalah semacam petuah yang memberi makna kepada sebuah kehidupan. Yakin dan pasti, semua daerah punya petuah-petuah yang khas. Mengandung nilai sastra yang tinggi. Makna yang sangat prinsipil dan tak jarang dijadikan sebuah pegangan sugesti terhadap individu. Dalam mengarungi kehidupan yang dinamis. Jangan kita mengira, pesan-pesan para leluhur di masing-masing daerah yang terdapat di Indonesia hanya sekadar omongan belaka atau bahkan mengasumsikan sebagai mitos.

Anak-anak muda perantau, yang kini konsisten dalam berjuang menjejali pendidikan di berbagai daerah. Terkadang memiliki prinsip tertentu yang telah ditransformasikan oleh leluhurnya melalui sebuah pesan bermakna terpatri begitu kuat di dalam jiwa. Misalnya, dalam petuah adat Makassar “bajikangngangi tallanga, natoalia” (lebih baik tenggelam, dari pada muncul kembali). Pesan tersebut melambangkan suatu perjuangan yang menuntut totalitas, dan menyerah adalah sebuah penghinaan. Singkatnya jangan kembali ke kampung halaman sebelum sukses.

Ada pula petuah Makassar yang mengajarkan tentang arti sebuah hasil. “Boyai rikalukua, rikalongkong takgenoa, ilalang mintu sikeddeka na mallabbang” (cari di kelapa, kelapa yang tidak ada isinya, di dalam itu sedikit cukup). Arti singkatnya adalah bagaimana kita mencari lalu mendapatkan hasil yang kiranya cukup untuk digunakan dalam memenuhi keperluan hidup. Agar menghindarkan manusia dari keserakahan. Dan masih banyak lagi pappaseng-pappaseng lainnya, yang memberikan sebuah pelajaran hidup yang bermakna filosofis dan menggugah batin.

Bisa kita bayangkan, ketika pesan-pesan leluhur ini dijadikan sebuah mata pelajaran. Khusus misalnya di Makassar. Maka tidak menutup kemungkinan, masyarakat Makassar yang sedang menempuh jalur pendidikan (SD, SMP, SMA) akan membentuk sebuah karakter yang mengutamakan adat dan menghargai nilai-nilai moral masyarakat setempat. Niscaya mereka akan dihargai di mana pun mereka berada dan canggung untuk melanggar norma-norma yang berlaku di tengah masyarakat.

Perlu juga diketahui bahwa pappaseng, ketika diejawantahkan dalam bentuk otentiknya saja. Akan memiliki kecenderungan primordialis terhadap suatu individu. Maka perlu kiranya pappaseng yang berlaku dalam konteks adat Makassar. Begitupun pappaseng dalam konteks adat lainnya. Perlu diakulturasi sedemikian rupa dengan nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Sehingga mewujudkan suatu karakter yang teraktualisasi. Tidak hanya secara eksklusif kedaerahan namun juga sesuai dengan napas dan tujuan bernegara. Pada intinya pesan-pesan leluhur mempunyai peluang untuk mengambil peran, dalam menentukan karakter bangsa Indonesia yang demikian heterogen.