Jiwa Dalam Toples

Pada setiap jiwa yang tersusun rapi di dalam toples dengan kerlap cahaya bening menyilaukan—

Lorong-lorong kecil dalam ruangan berderetkan almari yang bersimpan toples acar yang telah dialih fungsikan. Seorang anak kecil bertanya kepada kakeknya. “mengapa toples yang tersusun begitu rapi itu bercahaya?”

Sang kakek pun berkisah, “pada abad ini manusia sangat takut pada hari akhir hingga segala cara dilakukan. Semua ilmuwan memberikan terobosannya untuk menghindari kematian, mulai dari mengawetkan diri dengan cara dibekukan ataupun dengan mengungsi ke planet lain. Meski tak ada penjelasan yang pasti akan keberhasilan atas eksperimen yang telah banyak dilakukan namun anak manusia terus berkembang pesat dan melakukan eksperimen lain. Hingga satu ketika, seseorang berhasil menyimpan jiwa di dalam toples acar. Semenjak itulah setiap toples yang berisikan jiwa yang suci disimpan dengan rapi di setiap almari dengan rak-rak yang berukirkan nama dari sang empunya, setiap akhir pekan setiap anggota keluarga datang ke tempat di mana almari-almari tersebut disimpan kemudian membersihkannya dari debu-debu yang mulai menebal. Setiap cahaya yang dipancarkan dari toples itu mewakili diri setiap jiwa yang tersimpan di dalamnya. Konon, jika cahaya dari toples itu berkilauan maka baiklah amalan-amalan jiwa tersebut, namun bila toples itu hitam pekat maka buruklah jiwa yang tersimpan di dalamnya.”

Dengan wajah serius anak itu menyimak setiap kata yang bisa ia mengerti. Jemarinya yang kecil mulai meraba setiap permukaan toples yang dingin. Dengan mata yang masih tertarik dengan toples yang bermainkan cahaya itu ia kembali bertanya, “Kapan mereka akan dibebaskan?”

“Apa menurutmu mereka sedang terkurung?”

“Ya, kakek ingat seminggu yang lalu aku melepaskan burung yang telah lama ku pelihara di dalam sangkar?”

“Tentu kakek ingat, karena kakek lah yang menyuruhmu melepaskannya.”

“Untuk apa aku melepaskannya?”

“Agar kau dapat belajar merelakan dan melepaskan sesuatu yang kau sayangi. Karena burung itu masih memiliki kehidupan di luar sana.”

“Lalu mengapa mereka tidak dibebaskan? Apakah manusia sukar untuk merelakan? Apakah jiwa yang telah mati tidak memiliki kehidupan lagi? Aku yakin manusia tidak akan mati begitu saja, mereka tidak akan mati tanpa alasan.” Mereka pun terdiam, membiarkan setiap tanya buyar bersama gema.

Suasana di lorong yang berderetkan almari itu masih saja dingin, masih dengan cahaya yang bermainkan warna.